
Aran lanjut, menemui sahabatnya, benar saja mereka berdua telah menunggu.
Pertemuan mereka bukan tanpa alasan. Melainkan perihal reuni.
"Ran, apa kamu yakin gak dateng lagi." Tanya Zaka memastikan. Terus menatap ponsel milik Aran.
Aran menggeleng.
"Jauh jauh ke bandung dan ajak pertemuan gini, cuman mau bahas soal reuni." Aran tahu, maksud mereka. Sudah pasti berhungungan dengan Adinda.
"Airin sampai kamu pindahkan ke bandung kok bisa." Zaka dengan nada yang terdengar ketus.
Aran melemparkan llirikan penasaran.
"Aku gak merasa itu ada hubungannya dengan kamu." Aran sedikit menekankan.
Endi merasa situasinya sedikit memanas.
"Sebagai sahabat yang baik,, aku rasa kamu harus paham. Sahabatmu ini terkadang sangat suka yang namanya jatuh cinta pada wanita cantik." Zaka dengan tatapan memberi kode.
Aran cukup terkejut. Perkataan Zaka membuatnya kesal.
"Jangan dia." kata Aran. Meminum air meneral dengan tegukan kasar.
"Sebagai sahabat seharusnya kamu bisa mendukung. Lagian kami sudah dekat cukup dekat sampai dia bilang akan pindah ke bandung. Hal itu buat aku penasaran." Zaka sedikit menjelaskan.
Aran mendengarkan ucapan Zaka dengan seksama.
__ADS_1
'Sejak kapan mereka dekat? Kapan itu terjadi? Bagimana bisa? Pertanyaan di kepala Aran sillih berganti.
Rasanya Airin selalu berdekatan dengannya setiap hari menghabiskan waktu bersama.
Zaka kemudian memperllihatkan isi chatan mereka berdua.
Merski hanya beberapa detik. Aran menangkap kalimat KA'ZAKA.
Airin menyimpan namanya di sana.
Menghabiskan waktu bersama, tak terasa sampai jam pulang Airin.
Aran bahkan tak mengajak kawan kawan nya untuk ke rumah seperti yang biasa dia lakukan.
"Arin sudah akan kembali, dia cukup penakut. Lain kali ada waktu kabari aku lagi." Aran meninggalkan tempat pertemuan mereka. Tak lagi peduli dengan apa yang akan di katakan teman temannya.
Aran menunggu di depan gerbang. Sorot matanya cukup tajam.
Terlihat Airin berbincang dengan beberapa temannya. Diantaranya ada laki laki yang memberikanya buku.
Menunggu dengan rasa tidak sabar.
Aran menekan klakson mobilnya. Mereka semua menatap pada mobi itu. Airin baru menyadarinya dan segera pamit pada teman teman nya.
"Bapak udah nungguin dari tadi yah." Airin menyapa dengan senyuman manisnya.
Aran menganggguk.
__ADS_1
"Guys aku diluan yah." Airin berteriak pamit.
Perjalanan terasa hening, Aran sesekali meirik buku di tangan Airin.
"Bagaimana dengan sekolah baru nya." Aran sedikit bertanya.
"Nyaman, teman teman aku pada baik." Lagi lagi Airin menatap wiper saat bicara.
"Airin." Pnggil Aran, wajahnya terlihat cemas. "Kamu ingat teman aku yang namanya Zaka." Aran sekedar menepis rasa penasaranya, berharap kalau ucapan Zaka hanyalan bualan.
Pdaha jelas sudah melihat chatan mereka.
"OH, ka Zaka. Ia aku ingat dia dokter kan." Kalimat Airin terdengar menyakitkan bagi Aran.
Ternyata ada yang memang tak di ketahuinya seagi mereka masih dalam jarak yang dekat.
Aran menginjak gas, mobil melaju seketika, Airin berteriak, memegang handbag dengan kuat.
Mellirik Aran yang wajahnya merah pedam. Laki laki itu terlihat marah.
Kenapa suasananya terasa aneh, Aran memperlihatkan sisi lainya.
Apa sebenarnya dia memang kejam?
Bahkan kalau dia mau mati seharusnya jangan membawa orang lain dalam celakanya.
Ayo tebak apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1