Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 73


__ADS_3

Bell pulang berbunyi, semua teman temannya lekas bersiap kembali ke rumah.


"Hafsah, nanti aku bisa masuk eskull musik gak." Mencari informasi.


Hafsah berfikir sejenak. " Oh itu, kamu bisa tanyakan sama Saka, dia anak kelas musik yang paling populer." Jelas Hafsah merapikan buku buku nya.


Airin hanya tersenyum.


"Ada plan gak pas balik." Tanya Airin lagi. Hafsah menggelenng.


"Ayok bali, entar di pagarnya di kunci sama kepala sekolah." Hafsa terburu buru.


'Ha, maksudnya." Airin tak mengerti.


Siswa banyak yang berlarian keluar.


"Seriusan baliknya jam 1." Airin masih tak percaya dengan waktu pulang sekolah.


"Ialah, emangnya sekolah kamu sebelumnya balik jam berapa." Hafsa sedikit merasa aneh.


"Jam 4 sore, itu juga kalau gak lanjut kelas eskull." Menjelaskan dengan panik.


"Duh, pak Aran tahu gak yah, aku baliknya jam 1." Airin mulai merasa cemas.


"Ayok, rumah kamu di mana, entar aku bonceng aja." Tawar Hafsah berjalan menuju parkiran.


"Aku nungguin di sini aja, soalnya rumah aku jauh." Airin merasa tak enak membebankan teman barunya.


"Gak apa apa." Hafsah tetap ingin mengantar Airin.


Airin berjalan keluar pagar, menunggu Hafsah mengambil motor. Klakson mobil terdengar menyapanya.


"Bapak." Airin merasa senang.


"Ayok." Kata Aran.


"Bentar pak." Airin menunggu Hafsah yang baru saja menaiki motor singgah di dekatnya.

__ADS_1


"Hafsah, gak jadi, jemputan aku udah datang, nex time kita ballik bareng nya." Kata Airin berpamitan.


Hafsah mengangguk. Sekolah nya termasuk negeri, seragam nya putih abu abu, tak bermotif seperti sekolah sebelumnya.


"Bapak ko tahu, Airin balik nya jam 1." Masuk ke mobil dan langsung memberi Aran pertanyaan.


"Iya tahu donk." Katanya santai, Aran bahkan memakainya shif bell. Nafas Airin tertahan sebentar. "Kak Sean sempat sekolah di sana." Jelas Aran.


"Kalau bapak sekolah nya di mana." Airin mengalihkan pandangannya ke keluar jendela.


"Aku di SMA 12 bandung, soalnya bareng sama bibi, karena mama sama papah harus bolak ballik jakarta karena Sean kuliah dan gak pengen sendirian." Aran mulai bercerita.


Rasanya sulit untuk menceritakan hall itu, karena terbayang dengan kejadian di mana, kematian kembarnya.


Airin cukup menyimak.


"Em, pak aku bisa ambil kelas musik gak." Airin meminda izin. Aran mengangguk.


"Berarti besok surat izinnya harus bapak buatin." Airin terus tersenyum.


"Di rumah aja." Katanya dengan suara yang terus memandang ke luar.


Mobil melaju pelan, melewati perumahan yang akan menjadi rumah mereka nanti. Aran hanya menontrak sementara sampai Airin lulus dengan begitu dekat dari campus di tempat dia akan menjadi dosen.


Saat mereka tiba, Airin sempat tertidur, Aran mulai membangunkanya.


"Kalau kayak gini terus baliknya, emang harus pindahan lebih cepat." Aran berfikir, merasa kasihan sebab perjalan kesekolahnya cukup jauh.


"Airin, kita udah sampai. Kamu mau bangun apa aku angkat ke kamar." Aran berbisik di telinga gadis itu.


Hembusan nafasnya menyapa bulu halus, Rasanya cukup merinding.


Airin membuka matanya, Aran menyeringai dan segera keluar.


Airin menahan malu. " Apa apaan sih." Katanya dengan wajah merona.


Sean, sekaligus kedua orang tuanya harus ke Jakarta, sebab mengurus beberapa hal di sana. langit malam ini cukup bagun untuk penerbangan.

__ADS_1


Aran dan Airin ikut mengantarkan sampai bandara.


"Ingat pesan mamah, jangan jahili Airin. Awas kamu." Anna memberi peringatan.


Aran terus memeluk Anna, kesal rasanya di tinggal.


"Airin jangan kasih jatah." Ahmadi menambahkan. Wajah Aran terllihat kesal.


"Kesempatan nih." Sean berbisik tepat di telinga Aran.


"Heh ini lagi satu." Tegur Anna yang mendengarnya jelas.


"Ya udah sayang, mamah sama papa pergi dulu. Kamu baik baik yah di rumah." Pesan Anna pada Airin setelah memeluknya.


Melihat mereka masuk ke pemeriksaan tiket, Airin dan Aran segera meninggalkan bandara.


"Udah mau jam 9. Balik yuk." Aran mengajak, mengandengan tangan Airin.


Udara cukup dingin, di tambah angin kencang cukup membuat Airin mengigil. Terlebih celana pendek dan baju yang cukup tipis.


Melepaskan jaket tebalnya, dan memakaikanya pada Airin.


"Loh." Airin cukup kaget.


"Kamu pakai aja, udaranya cukup dingin." Aran berkata, tanganya kembali memegang pergelangan Airin.


"Yah berdua lagi di rumah." Airin sedikit bergumam.


"Mau ke taman bermain." Ajak Aran.


"Ngapain." Masih belum mengerti. Aran melupakan kalau Airin adalah anak yang cukup berfikir dewasa, untuk sekedar pemilihan dari kesenangan.


"Mau nonton." Pilihan lainya. Airin mengangguk.


Jelas bukan! Anak yang lahir dan besar di kota tak akan paham serunya bermain di permainan masa kecil.


Aran mengemudi dengan cukup laju, mengejar tayangan film nya sebentar lagi akan mulai.

__ADS_1


__ADS_2