
Tak bisa terlelap karena kejadian semalam membuatnya tetap berada di dalam kamar sampai pagi.
Kelakuanya tadi malam tak bisa menghadapi Aran hari ini. Matanya mulai terasa berat namun enggan untuk tertidur. Sampai suara ketukan membuatnya segera berlari dengan kebingungan sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Suara langkah Airin terdengar oleh Aran dari balik pintu.
”Airin.” Aran memanggil. Tak ada jawaban. Aran mengetuk pintu, namun tetap tak ada jawaban. Membuka pintu setengah, kepala Aran masuk dengan mata melirik tempat tidur.
Melihanyta kosong dan sedikit berantakan, merasa kalau Airin sudah bangun. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar. Dirinya melirik seisinya namun tak melihat gadis itu.
Aran berjalan ke mendekat ke kamar mandi.
”Airin, kamu mandi.” tanya Aran perlahan.
”Iya, emm bapak pakai kamar mandi lain dulu yah.” suara Airin terdengar gemetar.
”Aku tungguin kamu, kita sekalian sarapan bersama.” kata Aran, melangkah kembali keluar.
”I- iya.” Airin berharap Aran segera pergi secepatnya. Mendengar suara pintu tertutup membuat nya ragu kalau Aran masih berada di kamar seperti tadi malam. dirinya yang berada di balik pintu mencoba untuk membuka dengan pelan.
Melirik setiap sudut ruangan dengan wajah serius Airin, yakin kalau Aran sudah pergi. Dirinya keluar setelah itu. Baru beberpa langkah pintu kamarnya terbuka kembali, Airin yang kaget dengan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Suara pintu yang tanpa sadar menimbulkan suara kuat.
Kala itu Aran yang masuk sampai kaget. ” Airin kamu gak apaa apa.” Aran berjalan mendekat.
”Gak apa apa.” kata Airin terbata bata dan terdengar panik.
”Kamu yakin.” Aran perhatian dengan penuh kecemasan.” Kalau ada apa apa kasih tahu Airin.” Aran masih berada di depan pintu kamar mandi.
”I- iya pak. Bapak keluar aja. Aku masih lama.” kata Airin dengan panik. Menyalakan shower agar secepatnya.
Aran kembali keluar dengan sedikit gelisa. Segera Aran kembali ke meja makan, dan meminta Lusi kaka iparnya untuk bertanya pada Airin. Kemungkinan sesama perempuan bisa lebih baik untuk bicara.
”Ka Lusi, boleh minta tolong gak, Airin di kamar mandi udah lama banget, aku rasa dia gak enak ngomong kalau sama aku.” kata Aran masih dengan rasa gelisa.
”Biar aku pergi lihat deh.” sahut Lusi segera beranjjak dari tempat duduk menuju kamar Aran.
__ADS_1
”Terimkasih ka Lusi.” Aran duduk dengan cemas memikirkan Airin.
”Kalian gak berantem kan.” tanya Anna terlihat marah.
”Enggah mah.” Aran menjawab dengan jail pada ibunya.
”Jangan sakiti istrimu, dia masih terlalu kecil.” Ahmadi ikut dalam percakapan, walaupun terlihat sibuk dengan koran berita di ipadnya.
”Apaan sih pah.” Aran memberikan papahnya kopi pahit kesukaanya. Ahmadi meliriknya segera menyeruputnya dengan terseyum pada Aran.
”Kamu paksa gak anaknya.” tanya Sean dengan guarauan.
”Paksa apaan, aku aja tidurnya di kamar nya papahnya.” kata Aran terlihat menyeritkan matanya pada Sean.
”Kasihan banget sih, udah 27 nikahnya sama anak kecil gitu, masih sekolah mana gak bisa tidur bareng lagi. Eh enak tau.” kata Aean meledek dengan angkuh. ”Apa mau aku bantuin.” Sean menggodakan matanya pada Aran.
”Awas jangan di buat hamil. Entar kontrak berakhir kamu mau jadi guru terus tanpa mencapai cita citamu.” Ahmadi terdengar serius dengan ucapanya. Walaupun tidak dengan ucapan menekankan.
”Tuh dengerin papah.” Aran merengut pada Sean.
”Mah.” suara Aran terdengar lemmbut memangil.
”Dengerin mamah, kamu sama dia sudah menikah, secara agama dan negara kalian pasangan suami istri, sudah seharusnya kalian tidur bareng.” Anna memberi saran dengan suara tenang namun tegas.
”Kontrak mah.” Sean menimpali.
”Eits, siapa bilang kalau kontrak itu gak bakal ada cinta, justru yang seperti kebanyakan langgeng lhoo.” suara Anna semakin tegas.
”Pah.” Aran meminta pertolongan di balik panggilanya.
”Papah sih ngikut aja, kalau kalian nanti saling suka yah mau gimana jjuga.” Ahmadi mengedipkan matanya pada Aran untuk mendengarkan mamanya tanpa membantah.
”Terus Adinda mau di kemanin tuh.” Sean memancing reaksi Aran.
Aran terlihat menatap Sean dengan kesal dan memakan buah dengan rakus. Sean tertawa melihat reaksi Aran namun suaranya menghilang perlahan ketika Anna dan Ahmadi menatap tajam padanya. Sean kala itu segera menyusul Lusi.
__ADS_1
Lusi terus menerus mengetuk pintu kamar mandi tanpa bersuara. Airin mengira kalau itu adalah Aran dirinya tetap berada di kamar mandi tanpa menimbulkan suara. Suara Sirin yang terdengar bisa menjadi alibinya nanti.
Lusi menempelkan telinga nya pada daun pintu. Hanya suara air jatuh tanpa ada pergerakan lain terdengar. Merasa khawatir pada Airin. Lusi pun mulai sedikit bersuara.
”Airin.” suara Lusi kala kuat dengan suara air jatuh. Berkali kali Lusi memanggil nama Airin yang tak menjawabnya. Semakin di buat khawatir Lusi pun berteriak.
”Airin.” suara Lusi menggema. Airin yang tengah menghayal pun akhirnya membuka pintu segera.
”Kamu gak apa apa.” mata Lusi menelusuri tubuh Airin.
”Gak apa apa kak.” Airin penuh heran.
”Kamu yakin.” lusi sedikit tidak percaya.
”Kamu kenapa.” Sean datang dengan menatap lusi. Suara teriakanya terdengar sampai menyapa telinga seaan. Waktu yang tepat.
”Aku kira Airin kenapa-napa.” kala lusi dengan mata yang terlihat sayu dan adem.
Sean sedikit membukungkuk untuk melihat wajah Airin.
“Adik ipar yang kecil, jangan buat kaka ipar mu yang cantik ini khawatir yah.” Sean terlihat mengacak rambut Airin. Sementara tatapanya Airin pada sean tak berkedip. Kemudian menatap lusi.
”Maaf.” Airin bersuara kecil.
”Apa kau memerlukan sesuatu.” lusi memegang bahu Airin. Berharap gadis itu bisa bercerita.
Airin menggeleng. Lusi tersenyum, kembali menatap sean.
”Sayang, bisa kah kau meninggalkan kami berdua.” suara lusi terlalu lembut dan kata katanya sangat halus. Sean mengangguk kemudian kembali mengacak rambut Airin sebelum meninggalkanya.
Setelah sean pergi, Airin melirik dengan ekor matnya, lusi memperhatikan itu.
”Em, aku sedang datang bulan. Apa kaka punya pembalut.” Airin berkata dengan malu.
”Sebentar yeah, aku cari di kamar dulu.” lusi segera meningglakn Airin.
__ADS_1