
Malamnya Airin
mengoleskan make up tipis di wajahnya, mempersiapkan baju terbaik. Mengenakanya
dengan percaya diri.
”Sudah siap.” Aran
berjalan menuruni anak tangga dengan setelah jas dan celana kain tanpa baamper.
Sementara Airin menggunakan gaun selutut berwarna biru dan sanggul rambut
kekinian.
”Gaun mu bagus.
Tidak masalah memakainya ke pertemuan biasa.” Aran merasa takut kalau AAirin
akan mengalami alergi dingin. Sebab pakaian nya cukup terbuka di bagian bahu.
”I-iya.” Airin
memperhatikan pakaiannya. Aran mengangguk. Mereka segera pergi menuju tempat
pembukaan cafe.
Airin mengikuti Aran
saat mereka tiba. Memasuki cafe
yang besar itu tak membuat dirinya di
anggap asing. Malah teman temannya berseru ketika melihat Aran.
”Hay brother, nice to meet you.” Sambut salah satu temanya gembira. Semuannya
bergantian bersalaman.
Mereka terdiam
ketika melihat Airin terseyum, bersama dengan Aran.
”Oh, namanya Airin.
Dia sepupuh aku, dari mamah.” Aran memperkenalkan Airin pada teman temanya.
”Hy adek, nama
saya Endy, senang rasanya kamu bisa bergabung.” Airin membalas nya dengan
senyuman lalu duduk di sebelah Aran ketika semuanya hendak makan.
Aran melepaskan
jasnya kemudian memakaikanya pada Airin, setelah melirik arah ac nya tepat
menghadap pada tempat duduk Airin.
”Akan sangat
merepotkan kalau kamu sampai kena alergi.” Aran berbisik.
Mereka kembali
menikmati makanan yang di sajikan. Berbincang beberapa saat. Sampai seorang
temanya bernama Zaka, bertanya pada Airin..
”Adik sepupuh Aran,
kamu sekolah di mana.” pertanyaan Zaka membuat semuanya memperhatikan Airin.
”Di School of merta.” Airin menjawabnya, kemudian
memasukan makanan ke dalam mulurnya hingga penuh.
”Bukanya itu
tempat mu mengajar.? Zaka melihat pada Aran, yang melirik Airin.
”Iya, aku tinggal
bersama nya. Appartemen ku terlalu jauh. Lagian papahnya keluar negeri. Dia di
titipkan padaku.” Aran dengan ekspresi santai menjelaskanya.
”Wah, kau sangat
bertanggung jawab.” dengan memberikan jempol.
”Kau sangat ahli
dalam merawat wanita.” kalimat Zaka membuat Aran terlihat kaku, kembali melirik
Airin, ada kekahawatiran di sana.
”Wah, adik
sepupuh ini ternyata suka makan.” Endi memberikan pancake dengan toping
almond.
”Ini menu paling recomended. Cobain.” Airin mengambilnya dengan senang hati. Memakanya
dengan tak sabar.
’Em.’ Airin
merasa tak asing dengan rasanya, namun itu sangat lezat. Membuatnya semakin
__ADS_1
suka rasanya.
”Ini terlalu
lezat.” kata Airin pada Endi. Semuanya tersenyum.
Mereka kembali
berbincang soal masa masa kuliah. Aran yang masih menjadi bintang diantara para
sahabatnya.
Setelah beberapa
saat, Airin merasakan perih di bagian bibirnya.
”Aku kemar mandi
sebentar.” berpamitan pada Aran, yang tengah sibuk mendengarkan Zaka bicara. Endi melirik Airin
dengan ekor matanya.
”Bakal adaa
reuni, bulan 9 nanti.” Zaka memberikan informasi.
”Ikutan gak.” Endi
bertanya pada Aran.
”Malas acara
gituan.” Aran menanggapi dengan santai.
”Parah lu kalo
gak ikutan.” katanya menyesap rokok.
”Eh, adik sepupuh
kemana.” Zaka menyadarinya. Aran melihat sekeliling.
”Katanya tadi
pamit ke kamar mandi.” Endi berkata dengan santai.
Aran kembali
menatap Zaka, namun pikiranya mengarah pada Ac. Kakinya berdiri tegak seketika.
”Kamar mandi di
mana.” Aran dengan wajah serius.
”Di ujung,
sebelah kanan.” Endi menujuk curigaa.
Ran.” Zaka berkata dengan candaan.
Aran melangkah
cepat. Dirinya masuk ke dalam kamar
mandi wanita yang hanya ada Airin seorang.
Aran menemukanya
dan langsung bernafas lega.
”Airin.” Aran memangilnya. Gadis itu menatap asal
suara, sorot matanya berair. Langkah Aran semakin cepat, menghampirinya.
”Kamu ..” mata Aran
menyapa bagian tubuh Airin yang terlihat merah.
”Kita kerumah
sakit.” Aran yang panik kembali mengeratkan jas di tubuh Airin, kemudian
membawanya keluar. Airin menutupi wajahnya.
”Kawan kawanku,
aku sangat menghargai pertemuan kita kali ini, tapi aku harus segera kerumah
sakit.” Aran mengambil ponsel Airin dan tasnya yang masih berada di atas meja.
”Ada apa dengan
adik sepupuh.”tanya Zaka khawatir melihatnya samar samar penuh kemerahan.
”Dia alergi
dingin.” Aran mengatakanya kala melirik Ac yang berhadapan dengan Airin. Zaka
dan Endi paham dengan hal itu akhirnya.
”Apa kami perlu ikut.” tanya Zaka berdiri.
”Tidak perlu, dia
canggug kalau ada orang asing.” Aran bicara asal kemudian meniggalkan cafe
secepatnya.
”Kawan, siapa
__ADS_1
yang dia bilang orang asing.” zaka menanyakan pada Endi yang terlihat kesal.
”Kursi.” Endi
mengupas kulit kacang. ”Apa kau kursi? Tentu saja kita.” Endi berdiri dan
berteriak melihat kepergian Aran.
”Sabar kawan.
Mungkin kita adalah kaki kursi.” Zaka menambahkan dengan emosi menahan Endi.
Memacu mobil di
jalan, untuk segera ke rumah sakit.
”Perih gak.” Aran
dengan panik melirik di tengah mengemudi. Airin sama sekali tak menjawab ucapan
Aran. Dirinya ahnya menutup bagian mulutnya. Membuka beberapa laci mobil dan mencari masker. Ketemu, walaupun
itu kebesaran di wajah Airin.
Aran yang
langsung mengambil kelas umum saat
sampai di rumah sakit. Dan di tangani cepat oleh dokter.
”Tolong di buka
yah, biar saya lihat dulu.” Airin menggenggam erat jas Aran yang menutupi tubuhnya.
Aran paham dengan
perasaan Airin, yang malu terhadapnya. Laki laki itu mencoba membuat Airin tak
perlu merasa risih padanya.
Aran membuang
nafasnya sebentar. Menatap lebih dalam dan hangat pada gadis yang berada di depannya.
Aran memegang erat bahu Airin, Ada kehangatan dan rasa aman di sana.
”Kalau kamu malu,
aku bakal keluar. Aku gak bakal tenang kalau kamu tersiksa kayak gini.” Airin
mencoba untuk paham dengan perkatan Aran. Mulai membuka jas, dan memperlihatkan tubuh, mulusnya yang penuh dengan
kemerahan. Terlebih maskernya, area bibirnya timbul seperti jerawa.
”Dia alergi dingin dok.” Aran bicara dengan menatap pada Airin.
”Kamu habis makan
apa.” tanya dokter wanita ketika melihat bagian bibir Airin.
Airin tak bicara
sama sekali. Dokternya mulai menatap Aran, berharap dapat Menjelaskanya.
”Tadi makan cup
cake, varian apa.” Aran melihat Airin yang keuslitan bernafas.
”kemungkinan
istri bapak, mengalami sakit tenggorokan karena pan cake yang dia makan, akan
tetapi harus tahu dulu apakah karena butter, susu, atau yang lainya. Tolong di
bantu yah pak, biar saya bisa memberikan resep obat yang tepat dengan gejala
yang pas.” dokter itu terlihat sibuk dengan beberapa resep yang harus di
tulisnya. Meninggalkan Aran dan Airin yang berada di ranjang pasien.
Airin terdiam. Tahu
maksud dokter. Wajah Airin mulai merah. Aran mulai mendekat, wajahnya sedikit
tertahan melihat Airin yang menutup matanya dengan kaku. Waah mereka hampir tak ada jarak.
Nafas Airin mulai
tak beraturan. “ Sepertinya.” Dokter itu berbalik kaku ketika melihat adegan di depanya.
”Ini bau kacang
almont.” Kata Araan. Perlahan menarik diri namun matanya menatap wajah Airin
hingga senyumanya terukir sekils. ”Hah apa sudah. Kenapa aku tidak merasakan sesuatu.” Airin
kembali membuka matanya perlahan.
”Hindari makan
kacang kacangan. Sesak nafas bisa berakibat fatal. Tenggorokan terasa terbakar,
jadi kesulitan dalam berbicara. Kamu suaminya yakin ini karena almont kan,
jangan sampai salah” dokter itu yakin melihat dengan jelas Aran bahkan tak
menciumnya. Airin mengangguk tanpa bicara.
Melihat itu dokter segera memberikan resep pada Aran.
__ADS_1
Dengan begitu keduanya bisa kembali ke rumah setelah menebus obat