Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 32


__ADS_3

Malamnya Airin


mengoleskan make up tipis di wajahnya, mempersiapkan baju terbaik. Mengenakanya


dengan percaya diri.


”Sudah siap.” Aran


berjalan menuruni anak tangga dengan setelah jas dan celana kain tanpa baamper.


Sementara Airin menggunakan gaun selutut berwarna biru dan sanggul rambut


kekinian.


”Gaun mu bagus.


Tidak masalah memakainya ke pertemuan biasa.” Aran merasa takut kalau AAirin


akan mengalami alergi dingin. Sebab pakaian nya cukup terbuka di bagian bahu.


”I-iya.” Airin


memperhatikan pakaiannya. Aran mengangguk. Mereka segera pergi menuju tempat


pembukaan cafe.


Airin mengikuti Aran


saat mereka  tiba. Memasuki cafe


yang  besar itu tak membuat dirinya di


anggap asing. Malah teman temannya berseru ketika melihat Aran.


”Hay brother, nice to meet you.” Sambut salah satu temanya gembira. Semuannya


bergantian bersalaman.


Mereka terdiam


ketika melihat Airin terseyum, bersama dengan Aran.


”Oh, namanya Airin.


Dia sepupuh aku, dari mamah.” Aran memperkenalkan Airin pada teman temanya.


”Hy adek, nama


saya Endy, senang rasanya kamu bisa bergabung.” Airin membalas nya dengan


senyuman lalu duduk di sebelah Aran ketika semuanya hendak makan.


Aran melepaskan


jasnya kemudian memakaikanya pada Airin, setelah melirik arah ac nya tepat


menghadap pada tempat duduk Airin.


”Akan sangat


merepotkan kalau kamu sampai kena alergi.” Aran berbisik.


Mereka kembali


menikmati makanan yang di sajikan. Berbincang beberapa saat. Sampai seorang


temanya bernama Zaka, bertanya pada Airin..


”Adik sepupuh Aran,


kamu sekolah di mana.” pertanyaan Zaka membuat semuanya memperhatikan Airin.


”Di School  of merta.” Airin menjawabnya, kemudian


memasukan makanan ke dalam mulurnya hingga penuh.


”Bukanya itu


tempat mu mengajar.? Zaka melihat pada Aran, yang melirik Airin.


”Iya, aku tinggal


bersama nya. Appartemen ku terlalu jauh. Lagian papahnya keluar negeri. Dia di


titipkan padaku.” Aran dengan ekspresi santai menjelaskanya.


”Wah, kau sangat


bertanggung jawab.” dengan memberikan jempol.


”Kau sangat ahli


dalam merawat wanita.” kalimat Zaka membuat Aran terlihat kaku, kembali melirik


Airin, ada kekahawatiran di sana.


”Wah, adik


sepupuh ini ternyata suka makan.” Endi memberikan pancake dengan toping


almond.


”Ini menu paling recomended. Cobain.” Airin mengambilnya dengan senang hati. Memakanya


dengan tak sabar.


’Em.’ Airin


merasa tak asing dengan rasanya, namun itu sangat lezat. Membuatnya semakin

__ADS_1


suka rasanya.


”Ini terlalu


lezat.” kata Airin pada Endi. Semuanya tersenyum.


Mereka kembali


berbincang soal masa masa kuliah. Aran yang masih menjadi bintang diantara para


sahabatnya.


Setelah beberapa


saat, Airin merasakan perih di bagian bibirnya.


”Aku kemar mandi


sebentar.” berpamitan pada Aran, yang tengah sibuk  mendengarkan Zaka bicara. Endi melirik Airin


dengan ekor matanya.


”Bakal adaa


reuni, bulan 9 nanti.” Zaka memberikan informasi.


”Ikutan gak.” Endi


bertanya pada Aran.


”Malas acara


gituan.” Aran menanggapi dengan santai.


”Parah lu kalo


gak ikutan.” katanya menyesap rokok.


”Eh, adik sepupuh


kemana.” Zaka menyadarinya. Aran melihat sekeliling.


”Katanya tadi


pamit ke kamar mandi.” Endi berkata dengan santai.


Aran kembali


menatap Zaka, namun pikiranya mengarah pada Ac. Kakinya berdiri tegak seketika.


”Kamar mandi di


mana.” Aran dengan wajah serius.


”Di ujung,


sebelah kanan.” Endi menujuk curigaa.


Ran.” Zaka berkata dengan candaan.


Aran melangkah


cepat.  Dirinya masuk ke dalam kamar


mandi wanita yang hanya ada Airin seorang.


Aran menemukanya


dan langsung bernafas lega.


”Airin.”  Aran memangilnya. Gadis itu menatap asal


suara, sorot matanya berair. Langkah Aran semakin cepat, menghampirinya.


”Kamu ..” mata Aran


menyapa bagian tubuh Airin yang terlihat merah.


”Kita kerumah


sakit.” Aran yang panik kembali mengeratkan jas di tubuh Airin, kemudian


membawanya keluar. Airin menutupi wajahnya.


”Kawan kawanku,


aku sangat menghargai pertemuan kita kali ini, tapi aku harus segera kerumah


sakit.” Aran mengambil ponsel Airin dan tasnya yang masih berada di atas meja.


”Ada apa dengan


adik sepupuh.”tanya Zaka khawatir melihatnya samar samar penuh kemerahan.


”Dia alergi


dingin.” Aran mengatakanya kala melirik Ac yang berhadapan dengan Airin. Zaka


dan Endi paham dengan hal itu akhirnya.


”Apa  kami perlu ikut.” tanya Zaka berdiri.


”Tidak perlu, dia


canggug kalau ada orang asing.” Aran bicara asal kemudian meniggalkan cafe


secepatnya.


”Kawan, siapa

__ADS_1


yang dia bilang orang asing.” zaka menanyakan pada Endi yang terlihat kesal.


”Kursi.” Endi


mengupas kulit kacang. ”Apa kau kursi? Tentu saja kita.” Endi berdiri dan


berteriak melihat kepergian Aran.


”Sabar kawan.


Mungkin kita adalah kaki kursi.” Zaka menambahkan dengan emosi menahan Endi.


Memacu mobil di


jalan, untuk segera ke rumah sakit.


”Perih gak.” Aran


dengan panik melirik di tengah mengemudi. Airin sama sekali tak menjawab ucapan


Aran. Dirinya ahnya menutup bagian mulutnya. Membuka beberapa laci  mobil dan mencari masker. Ketemu, walaupun


itu kebesaran di wajah Airin.


Aran yang


langsung mengambil  kelas umum saat


sampai di rumah sakit. Dan di tangani cepat oleh dokter.


”Tolong di buka


yah, biar saya lihat dulu.” Airin menggenggam  erat jas Aran yang menutupi tubuhnya.


Aran paham dengan


perasaan Airin, yang malu terhadapnya. Laki laki itu mencoba membuat Airin tak


perlu merasa risih padanya.


Aran membuang


nafasnya sebentar. Menatap lebih dalam dan hangat pada gadis yang berada di depannya.


Aran memegang erat bahu Airin, Ada kehangatan dan rasa aman di sana.


”Kalau kamu malu,


aku bakal keluar. Aku gak bakal tenang kalau kamu tersiksa kayak gini.” Airin


mencoba untuk paham dengan perkatan Aran. Mulai  membuka jas, dan memperlihatkan tubuh, mulusnya yang penuh dengan


kemerahan. Terlebih maskernya, area bibirnya timbul seperti jerawa.


”Dia alergi  dingin dok.”  Aran bicara dengan menatap pada Airin.


”Kamu habis makan


apa.” tanya dokter wanita ketika melihat bagian bibir Airin.


Airin tak bicara


sama sekali. Dokternya mulai menatap Aran, berharap dapat Menjelaskanya.


”Tadi makan cup


cake, varian apa.” Aran melihat Airin yang keuslitan bernafas.


”kemungkinan


istri bapak, mengalami sakit tenggorokan karena pan cake yang dia makan, akan


tetapi harus tahu dulu apakah karena butter, susu, atau yang lainya. Tolong di


bantu yah pak, biar saya bisa memberikan resep obat yang tepat dengan gejala


yang pas.” dokter itu terlihat sibuk dengan beberapa resep yang harus di


tulisnya. Meninggalkan Aran dan Airin yang berada di ranjang pasien.


Airin terdiam. Tahu


maksud dokter. Wajah Airin mulai merah. Aran mulai mendekat, wajahnya sedikit


tertahan melihat Airin yang menutup matanya dengan kaku.  Waah mereka hampir tak ada jarak.


Nafas Airin mulai


tak beraturan. “ Sepertinya.” Dokter itu berbalik  kaku ketika melihat adegan di depanya.


”Ini bau kacang


almont.” Kata Araan. Perlahan menarik diri namun matanya menatap wajah Airin


hingga senyumanya terukir sekils. ”Hah apa sudah.  Kenapa aku tidak merasakan sesuatu.” Airin


kembali membuka matanya perlahan.


”Hindari makan


kacang kacangan. Sesak nafas bisa berakibat fatal. Tenggorokan terasa terbakar,


jadi kesulitan dalam berbicara. Kamu suaminya yakin ini karena almont kan,


jangan sampai salah” dokter itu yakin melihat dengan jelas Aran bahkan tak


menciumnya. Airin mengangguk tanpa bicara.


Melihat itu dokter segera memberikan resep pada Aran.

__ADS_1


Dengan begitu keduanya bisa kembali ke rumah setelah menebus obat


__ADS_2