
Aran yang lelah terlelap dengan terus memegang erat tangan Airin.
Hampir jam 1 malam, gadis itu mulai sadar. Kepalanya terasa sakit. Tangannya tak bisa di gerakan. Ingatan kembali membawa pada rasa sakit.
"Aku udah mati." Ucapnya di akhiri dengan suara tangisan.
"Apa aku di tabrak." Air matanya meluncur deras.
Suara yang serak dan sakit tengorokan membuatnya menangis sejadi jadinya.
"Kenapa gak keren banget aku matinya," Airin dengan suara yang terus berbicara. "Kenapa harus ketabrak." lanjutnya berkata.
"I'ts not cool, why my story is bad." Tangisnya semakin menjadi.
Arang yang tidur lelap seperti mendnegar suara yang menganggunya.
Seolah mengenali nadanya namun asing terdengar.
Aran mulai, sadar perlahan sampai melihat jelas.
"Airin." Panggil Aran. Melihat ke asal suara Airin diam beberapa saat.
"Bapak mati juga." Kalimat Airin membuat Aran terlihat bingung dengan mata sembabnya.
__ADS_1
"Bapak pasti matinya karena nyelamatin aku kan." suara tangisnya bahkan terdengar sampai ruangan pasien sebelah.
"Airin." Aran memeggang erat di sana.
Merasakan pergerakan di tanganya tak membuat Airin sadar sepenuhnya.
"Pak kayaknya giliran aku deh, aku takut belum ada cukup bekal dunia." suara gemetar Airin hingga pengucapanya hampir tak jelas terdengar.
"Airin." Aran kembali memanggilnya pelan. "Kamu di rumah sakit, pikiran kau kenapa jauh banget." Aran mengelus kelapanya dan memperlihatnya tanganta yang memegang erat tangan Airin.
"Maksudnya kita gak mati pak." Airin melirik sekitar. "Aku kira ini kamar mayat." Airin mulai bernafas lega.
Aran membantu Airin yang akan duduk. "Bapak matanya bengkak. Suara aku ngebangunin bapak yah." Airin mengelus wajah Araan perlahan.
Aran mengecup lama punggung tangan Airin.
"Kamu sehat dulu, entar kita bahas soal Adinda yah." Aran memegang dengan kedua tanganya erat.
Sorot mata Airin liar, dengan bening yang berkaca.
Airin menggangguk dengan mata yang mulai sayu.
'Apakah sulit untuk menjelaskanya, Salah jika aku merasa cemburu dengan pesan bergambar hati itu? Aku pikir cemburu itu wajar karena bentuk rasa cinta. Apa aku salah, dan terlalu naif.' Untuk gadis yang pacaran setelah menikah mana paham dengan perdebatan lelaki yang punya cerita masa lalu soal cinta.
__ADS_1
"Aku akan menjelakannya kalau keberatan." Kalimat Aran adalah sebuah sikap Airin yang terlihat sekarang.
Airin meggeleng. " Aku akan mendengarkan kata bapak." Airin menepis egosnya.
Sedewasa itu pemikiranya.
Tak terasa waktu sudah hampir pagi, Aran merasa lapar namun tak bisa meninggalkan Airin sendiri di kamarnya.
"Besok udah boleh pulang." Airin bertanya.
"Kalau demam nya turun bisa, tapi nanti aku tanya dokter nya dulu yah." Aran tahu tersiksanya di kamar rumah sakit.
"Aku mau ikut lomba pak." Aran hampir lupa dengan itu, ini adalah hari pertama kompetisi di buka.
"Aku akan lihat jadwalnya dulu," Aran menarik tangan kananya, meraih ponsel di sakunya.
Airin melirk layar ponsel Aran yang retak akibat ulahnya.
"Aku mengirim pesak pada ka Sean, untuk mengirim jadwa lomba dan dia selaku penitia.
Airin bisa merasakan rasa gelisa pada Aran, selama ini bukanya tidak sadar, namun Aran kerap kali terlihat menyembunyikan sesuatu dari nya.
Menjadi di percaya untuk berbagi cerita apakah sesulit itu.
__ADS_1
Baca dari bab 50 yah, kemarin salah up.
Hy semua raiders, kalau suka dengan ceritanya tolong like dan comentaranya yah. Biar gak pindah platfrom donk.