
Kalimat Aran sedikit ambigu bagi Airin.
"Nanti aja deh, aku tanyain pas makan." Airin segera memakai baju.
Setelah selesai, keluar dari kamar, mencari kebaradaan Aran.
Memeriksa ruangan lain, berharap menemukan Aran.
Bahkan Airin sudah merasa cukup kesal.
"Bapak kemana sih." Emosinya terllihat dari wajah yang menahan kesal.
"Airin udah bangun sayang." Sapa mama menuruni tangga.
Airin kaget, sedikit merasa panik.
"Mamah." Sapanya gugup.
"Kamu udah makan." Memastikan menantunya kenyang.
"Pak Aran kemana mah." Rasanya harus memberi Aran pelajaran.
"Ada di kamar Sean mungkin, sepertinya mereka bermain game bersama. Kamu jangan sering sering ngasih waktu buat main." Mamah memberi pesan dengan berbisik.
Airin tersenyum kaku.
"Mamah sama papah mau ke luar bentar. Kamu ajak Aran keliling bandung yah." Meninggalkan Airin, dan pergi bersama suaminya.
Airin masih tersenyum manis, sampai mama mertuanya keluar rumah.
__ADS_1
Menatap ke atas, dengan wajah penuh rasa kesal. " Tungguin yah." Kata Airin melangkah dengan hentakan.
Airin mengentuk pintu perlahan.
"Ia mah." Teriak Aran.
"Bukain Ran." Sean bicara dengan fokus pada game yang mereka mainkan.
"Nanggung, lho ini? Masuk aja mah." Teriak Aran. "Gak di kunci kok pintunya." Aran hanya berteriak dengan nada lembut.
Di ballik pintu Airin merasa kesal yang memuncak, tangnya mengepal kuat. Bukan lagi ketukan normal, Airin bahkan terdengar meninju pintu kamar Sean.
Kedua kaka beradik itu saling menatap, rasanya sedikit aneh. Selama hidupnya tak pernah pintu sampai di ketuk dengan brutal.
Aran menghentikan permainannya, melangkah pelan menuju pintu, saat tanganya akan memegang handle, daun pintu terbuka lebar.
"Airin." Aran kaget, tak menyangka kalau ketukan itu berasal dari tangan gadis mungil itu.
Menarik nafanya perlahan. "Siapa tadi yang bangunin aku ngajak makan." Airin bertanya, suaranya berat.
"Kamu lapar, ayok aku temani makanya." Aran mulai merangkull Airin keluar.
Dengan wajah yang masih menahan kesal, Airin mulai mengerjai Aran.
Meminta menu makanan yang cukup mudah namun dengan beberapa macam. Aran yang memasaknya.
"Airin, kamu masih mau makan llagi." Aran duduk dengan keringat dan bau rempah.
"Udah enggak." Menggeleng. " Tapi rasanya aku masih pengen makan cemilan. Bapak ajak aku cari cemillan yah." Wajahnya gemas, dan penuh permohonan.
__ADS_1
Aran hanya bisa pasrah, rasanya dia cukup lelah sudah memasak 5 menu.
"Aku ganti baju dulu yah." Aran pamit segera menuju dapur.
Airin mengangguk, menyeringai kemudian membereskan meja, lalu menunggu Aran di ruang tamu.
Aran telah siap dengan sangat rapi. Penampilanya casual santai.
Aran keluar menemui Airin. "Udah siap." Berkata saat membuka pintu.
Airin melirik penuh maksud, berjalan mendekati Aran hingga menghimpitnya.
"Bapak kok rapi banget." Rasanya sedikit kesal.
Aran memperhatikan penampilan nya, ini cukup santai untuk sekedar jalan jalan.
"Kamu mau aku ganti baju."Aran meminta pendapat agar tak jadi masalah.
"Ah, aku gak jadi pergi." Melangkah masuk kedalam kamar.
"Katanya mau jajan cemilan." Aran masih mencoba membujuk.
"Udah kenyang." Teriaknya dengan nada malas.
Aran mengehembuskan nafasnya kasar.
Apa ini adalah sikap Airin sesungguhnya?
Airin menyelimuti tubuhnya dengan selimut, suara mobil terdengar menyapa tellinganya.
__ADS_1
Rupanya Aran tetap pergi. Kecewa sudah pasti tapi niatnya hanya sekedar memberi pelajaran.
Jangan lupa tingalin jejak yah.