
Sontak Airin membatu. Itu adalah pertemuan yang waktu di café bersama dengan teman teman Aran.
Bukan tentang keluarnya Reno saat mereka O2SN.
”Thats you.” Rey, mengambul Kembali ponselnya kala Ema, mendekat.
”Endi is my cousen.” Rey menyeringai sesaat.
“Lho sembuyiin apa sih dari kita.” Ema yang tengah berenang mendekat bertanya.
Airin tersenyum ragu. Bagaimana menjelaskanya.
“Waktu nganterin lho ke rumah, i see her.” Suara Wilson membuat kaget.
“And, I listen from reno.” Anara naik dari air di bantu Reynald.
Semua pertanyaan mereka terasa memojokan Airin. Entah bagaimana memulainya.
Semua mata menatapnya meminta penjelasan.
”Waktu kamu sakit, case yang kamu pakai malamnya berwarna ungu. But besoknya kita ke rumah
kamu casenya ganti coklat. And the case is the same as our taecher’s.” Ema berpangku wajah di paha Airin.
“Dan di rak sepatu, sangat mirip dengan pak guru kita.” Ema menambahkan dengan jahil.
”Oke guys, jadi sebenarnya pak Aran, itu my cousin.” Airin teringat dengan kalimat Rey.
”What.” seru bersamaan. ”My dad with her dad besfreend. Em lebih tepatnya mereka adalah saudara kakak
tiri. And papah aku ada tugas ke swish. Sow pak Aran di rumah karena dia juga guru
di sekolah aku.” Airin berbohong dengan terbata bata.
__ADS_1
”How long.” Rey curiga. ”You life with her.” Dengan tatapan serius.
“Dari kelas 1.” Airin merasa segera akan pergi.
”Jadi tinggal bareng udah lama gitu.” Anara tersentak. Airin mengangguk.
Dering ponselnya terdengar. Airin beranjak secepatnya dan mengangkatnya.
”Airin kamu di mana.” nada nya terdengar khawatir.
”Aku lagi sama teman, ini juga sudah mau balik.” Airin menjawab dengan gugup.
Setelah memutuskan panggilan dirinya pamit para sahabatnya.
”Guys, I am sorry. I have back now.” Merapikan barang barangnya.
“Seriously.” Emma merasa berat.
“Pak Aran tuh gak kayak kelihatnya, dia sangat disiplin. Her not my dad.” Dengan perasaan kecewa.
Sepanjang perjalanan Airin merasa gugup. Sampai di rumah, setelah mengucapkan terimakasih pada Wilson,
Airin segera masuk ke dalam rumah.
Aran terlihat duduk santai di teras rumah. Airin dengan perasan takut berjalan cepat melewatinya.
”Airin kamu dari mana.” cegat Aran dengan pertanyaan.
”Sama temen.” Airin menjawab tanpa berhenti.
Aran bergegas menggenggam pergelangan tangan Airin.
”Dari mana.” suara Aran sedikit berat. Airin tertahan dengan menatap wajah Aran. Terlihat kekhawatiran di sana.
__ADS_1
”Dari danau.” menjawab dengan wajah datar. Melirik pergelangannya. Aran menyadarinya lalu melepaskanya
perlahan.
Gadis itu segera masuk ke dalam kamar. Terdengar suara kunci yang berputar. Airin bersandar di
balik pintu, jantungnya berdegup kencang. Rasanya di ambang kematian.
Sementara Aran hanya bisa bernafas kasar, mencoba menahan amarahnya. Berjalan menutup pintu
dan segera naik ke atas, menuju kamar.
Sampai malam tiba, di mana Aran yang ketiduran terbangun oleh dering ponsel.
Panggilan dari Sean.
”Hallo dek.” suara Sean terdengar. “Jadi gimana? Apa sudah di bicarakan dengan Airin.”
ucapan Sean membuat Aran memijat pelipisnya.
”Oh iya, kak. Ini lagi mau aku sampaikan.” kembali teringat masalah tadi sore.
”Oke deh, aku tunggu yah. Pagian aku sampenya.” Sean memutuskan panggilan ketika Aran
menjawab setuju.
Aran mulai turun ke dapur. Memasak menu makan di tengah malam. Setelah nya baru mengetuk pintu
kamar Airin.
”Airin.” memanggil dan mengetuknya beberapa kali. Sampai pintunya terbuka.
”Ayok makan.” Aran memperhatikan mata yang agak bengkak dan sembab. Keduanya makan bersama dengan
__ADS_1
hening.