
Aran sejak semalam tak bisa tidur, setelah Reynald memberi kabar padannya. Hal itu cukup menggangu konsentrasinya.
Besok lusa adalah weekend, sebaiknya mereka langsung mengintrogasi Anara.
Anara di panggil ke ruangan BK.
"Ada apa yah pak saya di panggil ke ruangan ini." Anara dengan wajahnya yang judes bertanya. Memainkan ponselnya di sana, mengirimkan pesan pada seseorang.
"Silahkan duduk terlebih dulu." Masih mempersilahkan dengan sopan.
"Apa kamu tahu apa yang menimpa Airin akhir akhir ini." Yana guru bagian konselling siswa yang cukup bermasalah.
"Saya tahu, tapi ini gak ada kaitanya dengan saya." Jawabnya tanpa kaku.
"Kami tidak menuduh tanpa adanya laporan atau bukti." memberikan beberapa alamat imei ponsel.
"Are kidding me." Anara mulai kesal.
"Sebaiknya tak ada bukti yang di kumpulkan ada padamu." Yana mulai geram.
"Ibu menuduh saya, maaf yah bu.! Anara menatap dengan kesal. "Aku gak melakukan hal keji itu." Katanya menekankan.
"Sebaiknya kamu memang benar tak melakukan nya." Yana masih mencoba mengumpukan beberapa rekaman di mana Anara masyuk ke ruangan siaran radio di saat mereka masih mengadakan lomba.
"Ini jelas kamu kan, setelah ikut dalam lomba, kamu masuk ke ruangan ini." Yana memperlihatkan rekamanya.
"You alone. Padahal kamu bukan osis yang berada di bagian penyiaran." Yana semakin mendesaknya.
__ADS_1
"Buk aku pergi bersama, Airin ke ruangan musik untuk melihatnya tampil bermain Celo." Nada suara Anara sedikit naik.
"Yang gw ingat sih, setelah keluar ruangan Tobi, lo emang gak ikut." Reynad masuk tiba tiba.
"Di sana cuman ada aku sama Wilson, untuk temenin Airin." Reynald masih memperjelas.
"Sebenarnya niat llo apa sih." Willson mulai kesal.
"Airin ngasih apa sih sama lo sampai segininya ke gw." Anara tersulut emosi.
"Dari awal gw emang curiga sama lo, semenjak kedatangan Reno." Reynald menarik nafasnya berkali kali.
"I know you like him, but think again who Airin is. Thats my frend." Reynald tak habis pikir.
Anara tertawa kesal, tatapan nya tajam. "Salahin aku terus, sekalian keluarin aku juga, biar sama kayak Reno. biar kamu bisa buka mata. Puas." Anara meninggalkan ruangan dengan rasa kesal.
Reynald ikut masuk ke dalam kelas.
"Nar, kamu harusnya jelaskan. Kasihan tahu Airin." Reynald tak menyerah.
Anara hanya melirik kesal tanpa meladeni ucapan Reynad.
Ke esokan harinya Ema mulai berbicara dengan Anara tentang Airin di kantin sekolah
"Jadi gimana? Minta maaf aja deh." Saran Ema.
"Kemarin aku hibungin dia, kita pas balik ketemu di telaga paman kamu." Anara hanya berkata dengan malas.
__ADS_1
"Sekarang aja." Willson menarik Anara.
"Apan sih." Anara masih merasa risih.
"Lo jahat banget sumpah Nar." Tambah Wilson kesal.
"Pak Aran gak diam selama ini, dia sedang mengawasih gerak gerik lo tahu gak, jangan lupa dia bukan sekedar coushin." Reynad berbisik dingin.
Seketika wajah Anara terlihat panik.
"Airin terus, apa kalian hanya memikirkan Airin. Kalau dia gak bego, gak mungkin kan Reno harus sampai pindah sekolah kerana kebodohanya." Anara berteriak, hingga menjadi pusat perhatian siswa lainya.
"Nar lo sengaja yah." Wilson sedikit panik.
"Dia tuh playing victim. Pliss jangan mau di bego begoin." tangisan nya membuat banyak yang merasa iba.
"Aku hanya punya Reno yang selalu perhatian, di kala orang tua aku, selalu sibuk kasih perhatian sama kaka aku yang sondrom, juara 1 pun nyongkap aku, gak pernah muji, lomba kemaren pun aku kasih tahu, dia hanya diam, sementara Reno sangat mensuport aku." Bisa di llihat Anara cukup tersiksa dengan keadaanya
"Kenapa sih, merti Reno yang di keluarin bukanya Airin aja yang pergi, di tambah kalian sangat peduli dengan dia." Apakah ini suara hati Anara.
Semua orang mencella Airin, ketika mendengar ucapan Anaara. Rumor yang beredar pun nyatanya fakta yang selema ini di tutupi oleh pihak sekolah.
Bagaimana mungkin sekolah dengan aktreditas satun, mempunyai murid bermasalah.
"Mandiri banget, moment yang pas Medusa sudah datang." Teriak siswa laki laki dengan suara yang lantang.
Semua melihat ke araah Suara.
__ADS_1