Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 10


__ADS_3

Tatapan mata Aran


berhenti sejenak sebelum dirinya Kembali mempersilahkan Wilson duduk.


Aran Kembali


membuka buku biologi.  Membacanya


beberapa saat. Aran kembali mengecek beberapa buku yang dia bawa. ”Sepertinya


aku meniggalkanya di dalam ruangan tadi.” karena perhatianya terlalu fokus pada


Airin saat bersama dengan Reynald pagi tadi.


“Selanjutnya


silahkan kalian buka halaman 103, tumbuh kembang tanaman.” Kata Aran. Setengah


wajahnya tertutup, namun matanya dapat melirik Airin yang tengah berbicara


dengan Reynald.


“Tolong jelaskan,


apa yang di maksud dengan perbedaan sturktur biji tumbuhan, monokotil dan


dikotil.” Suara Aran menjadi sedikit lebih keras.


Anara terlihat


mengangkat tangan. Wajah tegas dan berani itu nampak namun masih terlihat


seperti gadis remaja pada umunya.


“Perkenalkan nama


saya Anara. Jadi biji monokotil hanya memiliki satu biji dan satu kotilideon


atau bakal daun yang ada embrio. Sementara biji di kotil adalah kebalikanya,


yaitu memiliki dua biji yang berarti dua kotiledon. Biji mookotil pun


berkecambah dan menghasilakn daun tunggal yang berbentuk Panjang dan juga sempit.”


Jelas Anara dengan begitu ringkas.


“Good.” Wajah Aran


terlihat kagum. “Berhubung semester awal kalian membahas tentang tumbuhan dan


hewan mari buat kelompok, untuk membahas masing masing tentang pertumbuhan


hewan dan tumbuhan.” Aran memberi saran.


“Kelompoknya


bapak yang tentukan atau pilih sendiri pak.” Kata Anara.


“Kalian boleh


pilih, kelompok masing masing.” Aran terdengar cuek sebelum dirinya benar benar


beralih fokus pada Airin yang kemudian membuatnya segera merubah keputusan


lagi.


“Eh, begini saja,


kelompok wanita dan prianya di pisah, Wanita bagian tumbuhan lelaki bagian


hewan.” Ucap Aran seketika.


Semua murid


terlihat ada yang kesal ada pula yang senang.


Tak ada penolakan


sampai mata pelajaran selesai. Aran sesekali melirik Airin yang duduk diantara


Wilson dan Reynald. Bahkan sampai dirinya keluar Airin sama sekali biasa saja


terhadapanya.


“Perasaan aneh

__ADS_1


apa ini.” Aran tak habis pikir. Mengingat dirinya adalah suami sah Airin.” Seenggaknya


merasa canggung aja.” dengan wajah membatu


Pergantian jam


mata pelajaran membuat Aran yang segera mengakhiri mata pelajaranya.


“Saya harap di


pertemuan selanjutnya kelompok kalian sudah siap. Sampai bertemu di mingggu


depan.” Kata Aran kemudian meninggalkan di ruangan kelas.


Airin masih


terlihat kurang semangat dengan apa yang tengah dia hadapinya, entah apa yang


mengacaukan moodnya? Ataukan kepergian Bakrie yang tidak memberitahukanya?


Entahlah akan tetapi sampai hari berlalu dirinya masih tanpa semangat apapun.


“Rin, nanti malam


aku jemput yah.” Kata Anarah.


Airin mengangguk,


dirinya berjalan lebih dulu ke luar kelas. Langkahnya menuju kantin sekolah.


“Baru mau makan


juga.” Suara Wilson tiba tiba terdengar. Langkah Airin terhenti. Tatapan


terlihat kesal sebelum meninggalkan Wilson. “Makan bareng.” Lanjut Wilson berkata.


Tanganya memegang lengan Airin.


“GAK.” Kata Arin


melepaskan tangan Wilson dan segera pergi.


Kakinya menuju


parkiran, jemari yang merah itu memeras ujung roknya. Raut wajah penuh


Sudah sejak tadi


dia menahannya, entah kenapa itu tak bertahan lama sampai akhirnya harus tumbang


juga. Langkah Airin semakin tertatih. Mendekati parkiran dirinya mengusap air


mata. Suasana yang sepi membuatnya melihat ke sekeliling berharap tak ada yang


memperhatikanya.


Airin segera


membuka pintu mobil, sayangnya pintu itu terkunci sehingga menimbulkan


bunyi.  Hal itu membuat Airin semakin


kesal dan segera bersembunyi di dekat mobil dengan was was.


Melihat tingkah Airin


dari cctv membuat Aran tersenyum, tanpa sadar mengambil beberapa buku biologi


tanpa memilihnya. Dirinya segera keluar, menuju ruangan kantor. Di perjalanan


itu Aran menghubungi gadis yang tengah bersembunyi itu.


“Hallo.” Aran


berkata di balik ponsel. “Keruangan saya sekarang.” Lagi lagi intonasinya


bernada perintah.


Airin dengan


wajah serius menanggapinya pergi atau tidak. Dirinya masih mematung dengan ego,


sampai beberapa lama akhirnya kakinya melangkah sendiri menuju ke ruangan Aran.


Handle pintu

__ADS_1


berwarna silver itu bergerak ke bawah, pintu terbuka. Ada sosok Airin di


baliknya. Gadis cantik itu tersenyum sedikit dengan langkah kecil.


“Sudah makan.” bertanya


dengan fokus pada buku di tanganya.


Airin menggeleng.


Aran melirik jam


di tanganya. ”Kita punya waktu 20 menit untuk lunc“ lelaki itu membereskan buku


bukunya di atas meja.


”Kamu tunggu saya


5 menit di parkiran.” aran memberikan kunci mobil.


Airin mengambilnya


kemudian menuju parkiran. Memasang wajjah kesal dan ragu ragu setelah


memperhatikan sekelilingnya, merasa aman dirinya masuk lebih cepat dari bunyi


suaraa mobil terbuka.


”Hufff, ini gak


ada yang liat kan.” kata Airin dengan tubuh gemetar. Dari kejauhan terllihat


sosok Aran berjalan mendekat. ”Huf, si gila ini terlihat penuh percaya diri.” Airin


sampai tak berkedip


Saat Aran masuk


ke dalam mobil dirinya melirik Airin yang mematung. ”Lapar banget.” suara yang


menyadarkan Airin, seketika mengedipkan matanya beberapa kali.


Airin menggeleng  bingung. Mobil berjalan keluar perlahan sampai


melaju mereka tetap hening.


”Tempat makan


enak, di ada di ujung jalan mau gak.” akhirnya Aran bicara setelah nafas Airin


teras sesak kerana kelamaan diam.


”Iya.”  **** **** shittt. Nada kalem dari mana itu


tadi? Kenapa tak terdengar seperti Airin yang biasanya.


Sebagian mata


para pengunjung banyak yang memperhatikan keduanya.  sampai salah satu pelayan menghamdiri mereka.


Aran


mempersilahkan untuk Airin memesan lebih dulu, setelah itu dirinya. Pelayan


yang tadinya tersenyum pada aran kemudian berkata. “ Adiknya cantik sekali.”


Puji pelayan dengan sorot mata pada Aran. Aran mengangguk tersenyum sejenak.


Airin tertawa,


dan itu terdengar seperti ledekan.


Kekesalan Aran membuatnya


segera ke kamar mandi.


“Apa muka gw


setua itu yah.” Aran memperhatikan wajahnya di cermin toilet. Tak habis pikir.


Beberapa lama


aran berada di kamar mandi, setelah kembali ke meja di sana Aran melihat pada


beberapa orang yang berbicara pada Airin.

__ADS_1


Kalau suka jangan lupa tanda cintanya yah


__ADS_2