
Tatapan mata Aran
berhenti sejenak sebelum dirinya Kembali mempersilahkan Wilson duduk.
Aran Kembali
membuka buku biologi. Membacanya
beberapa saat. Aran kembali mengecek beberapa buku yang dia bawa. ”Sepertinya
aku meniggalkanya di dalam ruangan tadi.” karena perhatianya terlalu fokus pada
Airin saat bersama dengan Reynald pagi tadi.
“Selanjutnya
silahkan kalian buka halaman 103, tumbuh kembang tanaman.” Kata Aran. Setengah
wajahnya tertutup, namun matanya dapat melirik Airin yang tengah berbicara
dengan Reynald.
“Tolong jelaskan,
apa yang di maksud dengan perbedaan sturktur biji tumbuhan, monokotil dan
dikotil.” Suara Aran menjadi sedikit lebih keras.
Anara terlihat
mengangkat tangan. Wajah tegas dan berani itu nampak namun masih terlihat
seperti gadis remaja pada umunya.
“Perkenalkan nama
saya Anara. Jadi biji monokotil hanya memiliki satu biji dan satu kotilideon
atau bakal daun yang ada embrio. Sementara biji di kotil adalah kebalikanya,
yaitu memiliki dua biji yang berarti dua kotiledon. Biji mookotil pun
berkecambah dan menghasilakn daun tunggal yang berbentuk Panjang dan juga sempit.”
Jelas Anara dengan begitu ringkas.
“Good.” Wajah Aran
terlihat kagum. “Berhubung semester awal kalian membahas tentang tumbuhan dan
hewan mari buat kelompok, untuk membahas masing masing tentang pertumbuhan
hewan dan tumbuhan.” Aran memberi saran.
“Kelompoknya
bapak yang tentukan atau pilih sendiri pak.” Kata Anara.
“Kalian boleh
pilih, kelompok masing masing.” Aran terdengar cuek sebelum dirinya benar benar
beralih fokus pada Airin yang kemudian membuatnya segera merubah keputusan
lagi.
“Eh, begini saja,
kelompok wanita dan prianya di pisah, Wanita bagian tumbuhan lelaki bagian
hewan.” Ucap Aran seketika.
Semua murid
terlihat ada yang kesal ada pula yang senang.
Tak ada penolakan
sampai mata pelajaran selesai. Aran sesekali melirik Airin yang duduk diantara
Wilson dan Reynald. Bahkan sampai dirinya keluar Airin sama sekali biasa saja
terhadapanya.
“Perasaan aneh
__ADS_1
apa ini.” Aran tak habis pikir. Mengingat dirinya adalah suami sah Airin.” Seenggaknya
merasa canggung aja.” dengan wajah membatu
Pergantian jam
mata pelajaran membuat Aran yang segera mengakhiri mata pelajaranya.
“Saya harap di
pertemuan selanjutnya kelompok kalian sudah siap. Sampai bertemu di mingggu
depan.” Kata Aran kemudian meninggalkan di ruangan kelas.
Airin masih
terlihat kurang semangat dengan apa yang tengah dia hadapinya, entah apa yang
mengacaukan moodnya? Ataukan kepergian Bakrie yang tidak memberitahukanya?
Entahlah akan tetapi sampai hari berlalu dirinya masih tanpa semangat apapun.
“Rin, nanti malam
aku jemput yah.” Kata Anarah.
Airin mengangguk,
dirinya berjalan lebih dulu ke luar kelas. Langkahnya menuju kantin sekolah.
“Baru mau makan
juga.” Suara Wilson tiba tiba terdengar. Langkah Airin terhenti. Tatapan
terlihat kesal sebelum meninggalkan Wilson. “Makan bareng.” Lanjut Wilson berkata.
Tanganya memegang lengan Airin.
“GAK.” Kata Arin
melepaskan tangan Wilson dan segera pergi.
Kakinya menuju
parkiran, jemari yang merah itu memeras ujung roknya. Raut wajah penuh
Sudah sejak tadi
dia menahannya, entah kenapa itu tak bertahan lama sampai akhirnya harus tumbang
juga. Langkah Airin semakin tertatih. Mendekati parkiran dirinya mengusap air
mata. Suasana yang sepi membuatnya melihat ke sekeliling berharap tak ada yang
memperhatikanya.
Airin segera
membuka pintu mobil, sayangnya pintu itu terkunci sehingga menimbulkan
bunyi. Hal itu membuat Airin semakin
kesal dan segera bersembunyi di dekat mobil dengan was was.
Melihat tingkah Airin
dari cctv membuat Aran tersenyum, tanpa sadar mengambil beberapa buku biologi
tanpa memilihnya. Dirinya segera keluar, menuju ruangan kantor. Di perjalanan
itu Aran menghubungi gadis yang tengah bersembunyi itu.
“Hallo.” Aran
berkata di balik ponsel. “Keruangan saya sekarang.” Lagi lagi intonasinya
bernada perintah.
Airin dengan
wajah serius menanggapinya pergi atau tidak. Dirinya masih mematung dengan ego,
sampai beberapa lama akhirnya kakinya melangkah sendiri menuju ke ruangan Aran.
Handle pintu
__ADS_1
berwarna silver itu bergerak ke bawah, pintu terbuka. Ada sosok Airin di
baliknya. Gadis cantik itu tersenyum sedikit dengan langkah kecil.
“Sudah makan.” bertanya
dengan fokus pada buku di tanganya.
Airin menggeleng.
Aran melirik jam
di tanganya. ”Kita punya waktu 20 menit untuk lunc“ lelaki itu membereskan buku
bukunya di atas meja.
”Kamu tunggu saya
5 menit di parkiran.” aran memberikan kunci mobil.
Airin mengambilnya
kemudian menuju parkiran. Memasang wajjah kesal dan ragu ragu setelah
memperhatikan sekelilingnya, merasa aman dirinya masuk lebih cepat dari bunyi
suaraa mobil terbuka.
”Hufff, ini gak
ada yang liat kan.” kata Airin dengan tubuh gemetar. Dari kejauhan terllihat
sosok Aran berjalan mendekat. ”Huf, si gila ini terlihat penuh percaya diri.” Airin
sampai tak berkedip
Saat Aran masuk
ke dalam mobil dirinya melirik Airin yang mematung. ”Lapar banget.” suara yang
menyadarkan Airin, seketika mengedipkan matanya beberapa kali.
Airin menggeleng bingung. Mobil berjalan keluar perlahan sampai
melaju mereka tetap hening.
”Tempat makan
enak, di ada di ujung jalan mau gak.” akhirnya Aran bicara setelah nafas Airin
teras sesak kerana kelamaan diam.
”Iya.” **** **** shittt. Nada kalem dari mana itu
tadi? Kenapa tak terdengar seperti Airin yang biasanya.
Sebagian mata
para pengunjung banyak yang memperhatikan keduanya. sampai salah satu pelayan menghamdiri mereka.
Aran
mempersilahkan untuk Airin memesan lebih dulu, setelah itu dirinya. Pelayan
yang tadinya tersenyum pada aran kemudian berkata. “ Adiknya cantik sekali.”
Puji pelayan dengan sorot mata pada Aran. Aran mengangguk tersenyum sejenak.
Airin tertawa,
dan itu terdengar seperti ledekan.
Kekesalan Aran membuatnya
segera ke kamar mandi.
“Apa muka gw
setua itu yah.” Aran memperhatikan wajahnya di cermin toilet. Tak habis pikir.
Beberapa lama
aran berada di kamar mandi, setelah kembali ke meja di sana Aran melihat pada
beberapa orang yang berbicara pada Airin.
__ADS_1
Kalau suka jangan lupa tanda cintanya yah