
Aran bersama dengan beberapa guru rangkup sains berkumpul untuk memilih yang terbaik.
Mereka memilih tiap siswa yang jawabanya tepat. Dalam 2 jam kedepan, mereka akan tahu siapa
saja yang masuk dalam pratikum luar biasa.
Aran membagikan soal latihan para siswa, tak menyangka Airin hadir, padahal mengingat minatnya
pada lomba sains tak besar.
Tersenyum, bahkan beberapa guru memperhatikan Aran. Bukan soal siapa yang di berikan senyuman
akan tetapi Aran sangatlah tampan dan wangi.
Bukan hanya siswa yang mengidolakanya akan tetapi Aran cukup populer di kalangan wanita.
”Jangan tebar pesona yah.” Shena menengur dengan senyuman.
”Biar semangat.” kata Aran berjalan membagikan soal jawaban.
”Jadi di hadapan kalian sudah ada soal ujian, kalian perlu mengisinya, yang jawabannya benar,
maka melakukan pratikum biologi dan kimia. Jadi bapak harap kalian sangat
bersungguh sunguh dalam hal ini.” Aran mencoba menyemangati.
Semua terlihat sangat serius.
Tak dapat berbicara satu sama lain karena benar benar jarak diatara mereka cukup
berjauhan. Hampir 30 menit Wilson dan Anara memberikan jawaban mereka
bersamaan. Dan menit ke 50 Airin, dan Reynald, di ikuti Ema, memberika soal
jawaban mereka.
Waktu istirahat sekitar 20 menit.
Kemudian di ikuti 1 siswa kelas 1 kemudian di ikuti 3 orang lagi, setelahnya 1 orang terakhir.
Mereka akan di panggil kembali ketika hasil jawabanya telah rangkum.
”Mau sarapan di ruangan aku.” Aran mengirimkan pesan pada ponsel Airin. Yang keluar lebih dulu.
”Lapak sudah selesai.” Airin membalas kala mengingat masih ada 5 siswa lainya yang belum selesai.
”Iya sudah. Aku tunggu kamu di rungan.” Aran segera mengumpulkan soal dan membawanya ke ruangan.
Ke duanya bertemu kembali, kali ini di dalam ruangan kantor sekolah.
”Ini sarapan kamu.” Aran menyiap kaya di atas meja.
__ADS_1
”Bapak gak makan.” tanya Airin kala melihat hanya ada satu nasik kotak.
”Kamu makan aja dulu, karna selanjutnya soal kimia, habis itu biologi.” Aran memberi tahu.
Wajahnya terus tersenyum. Bergantian.
Airin memakanya dengan ragu ragu. ”Aku kira kamu gak bakal ikut.” Aran bertanya sambil membaca buku.
”Masih ada 10 menit, sambil makan perhatikan rumusnya.” Aran memperlihatkan label diagram
soal kimia pada Airin. ”Kalau nanti garis faktor ada x kamu hanya perlu
membentuknya lalu bulatkan.” Aran menjelaskan dengan serius. Ada harapan di sana.
Airin memperhatikan dengan seksama, bahkan tak bisa mengunya makananya dengan baik
karena terlalu fokus.
Tanpa mereka sadari panggilan untuk para siswa yang mengikuti lomba agar segera masuk ke
dalam ruangan.
”Aku yakin kamu bisa.” Aran memegang pundah Airin dengan gemas.
Berjalan lebih dulu masuk ke dalam kelas, di ruangan itu wilson berhenti di meja Airin.
”Aku gak lihat kamu sarapan tadi.” memberikan coklat kemudian berjalan ke mejanya.
membagikan soal. Sekarang mereka sisa 8 orang karena 2 siswa lainya gugur.
Ruangan rasanya semakin sengit, mereka harus berusaha agar tak sampai di bawah 90. Semua siswa
sangat serius. Kali ini Reynald dan Anara yang cepat mengumpulkan hasil
jawaban. Lalu di ikuti wilson dan Ema, kemudian Airin, lalu 3 siswa lainya.
Tanpa ada istirahat para guru kembali memberikan soal terakhir yaitu kimia. Aran kembali
membagikan soal pada siswa. Karena kertas jawabann kurang jadi harus menunggu Shena
yang membawanya
Saat masuk Shena menjatuhkan beberapa berkas di tangannya. Aran yang telah selesai membagikan
soal jawaban berlari menghampiri Shena dan membantunya.
Aran tersenyum hangat, begitu pun dengan Shena. Airin menatap kesal.
Tak sampai 20 menit Airin menyelesaikanya, tanpa ragu berjalan mengumpulkan soal jawabanya.
”Airin gak mau di periksa dulu jawabanya.” tanya Shena meragukan.
__ADS_1
”Enggak miss, lagian kalau gak lolos saya bisa fokus dengan cello.” Airin berjalan dengan
teramat kesal. Bahkan Aran kaget dengan
kalimat Airin yang terdengar judes.
”Sialan! Aku salah mengira, ternyata dia baik sama semua orang.” Airin berjalan dengan rasa kecewa.
”Lagian senyumanya padaku sama seperti melihat miss Shena. Katanya bukan type nya tapi
matanya gak berkedip.” Airin berjalan dengan buru buru. Menggengam coklatnya
sampai berubah bentuk.
”Airin.” panggil wilson ketika sudah berada di parkiran. ”Kamu kenapa.” memakaikan helm pada
gadis itu.
Airin hanya diam. ”Hari ini aku bawa motor. Siap jadi driver kamu.” wilson terlihat antusias.
”Gak setia kawan banget.” Anara bersuara kala mereka terlihat siap melaju.
”Guys, come on. Kita ke danau pama Ema.” Airin yang sudah duduk manis di motor mengajak
dengan senang.
”Lest go.” Ema segera melaju dengan mobilnya bersama Anara. 2 motor dan satu mobil berkendara
dengan keren melewati jalanan. Layaknya bintang mereka seperti idola populer
sekolah.
Danau yang pernah jadi tempat ulang tahun Airin tujuan mereka. Tak perduli dengan hasilnya
bagaimana.
”Bdw, what’s wrong with you.” Reyland setengah berbisik.
Mereka menghabiskan waktu dengan mandi dan makan cemilan. Kala itu Airin dan Reynald
sedang duduk di ujung kayu yang di bangun di atas danau. Sementara yang lain
terlihat asik bermain air.
”About what.” Airin seakan paham dengan pertanyaan Reynald.
“You sure.” Melirik ragu.
“I am oke.” Airin tahu kemana arah pembicaraan Reynald. Tak
lama dirinya mengelurkan ponsel dan memperlihatkan foto yang di ambil dari cctv.
__ADS_1