
Di jam istrirahat
Anara mencoba menghubungi ponsel Airin namun tak ada jawaban.
“Shit, lho dengar
kan, gak ada jawaban sama sekali. Bisa gawat kalau Airin kenapa kenapa! Ini
semua karna kamu ya.” Kata Anara cemas.
“Heh, kenapa kamu
nyalahin aku.” Emma berkata dengan panik. “I hope you don’t forget your memory.” Kata Emma menunjuk kepalanya.
“Shit.” Anara menekan dagu Emma. “Listen, kalau sampe
terjadi apa apa dengan Airin, kita berempat harus tangggung akibatnya bersama.”
Emma mengangguk dengan wajah panik.
Toilet sekolah
memang paling the best untuk melakukan kemarahan apapun itu. usai mengatakan
itu Anara segera keluar.
Emma mencoba
untuk tenang, walau hatinya sedang merasa panik. Niat ingin memberikan solusi, Emma
buru buru mengejar Anara.
“Anaraaa.” Teriak
Emma. Langkahnya terhenti Ketika Wilson berdiri di pintu keliar toilet wanita.
Awalnya Emma
cuek, dan tak peduli dengan kehadiran Wilson, namun saat lelaki itu menarik
tanganya, seketika ada perasaan aneh di sana.
“Ngapain kamu.”
Kata Emma.
“Mau ajak makan.”
Wilson berkata. Dirinya membawa Emma pergi.
“Ada apa.” Tanya Emma
Ketika keduanya berada di depan kantin.
Wilson terlihat
bingung. Dan sedikit ragu ragu. Emma menatap wajah wilson lebih dekat. ”Traktir
kan.” kata Emma curiga. Saat melangkah tangannya di tarik wilson .
“Mau bayar uaang
kelas.” Wilson enyerahkan uang kemudian
meninggalkan Emma.
“Apaan sih? Gak
jelas banget.” Emma berdecih kesal pada kelakuan Wilson. “Emang harus ngajak Anara
buat ngecek ke rumah Airin.” Emma berfikir sejenak.
Tanpa pertimbangan
dua kali Emma buru buru kembali kedalam kelas.
Menghabiskan
waktu dengan beberapa buku di depanya, setengah tertidur Aran kembali bangun
untuk memberikan obat pada Airin.
”Airin, obatnya
__ADS_1
minum dulu.” Aran berkata dan kembali mengecek suhu tubuhnya.
”Pak ac nya di
matikan aja.” kembali menarik selimut agar rapat sampai lehernya.
”Iya udah.” Aran mengembil minyak Habbie dengan wangi lavender
itu segera di balurkanya pada lengan dan leher Airin. Sayang sekali melihat
kulit Airin alergi.
Aran ingat, salah
satu pesan Bakrie saat mereka di pernikahan.
“Airin itu alergi
dingin, ingat untuk mengatur suhu ruanganya.” aran mengingatnya dengan jelas kalimat
bakrie. Namun suhu di club malam itu membuat badanya alergi.
Mati sudah,
bagaimana dia lupa dengan pesan itu. Aran meletakan ponselnya di samping Airin.
Kemudian mengambil minyak oles dan mengoleskanya di bagian yang alergi.
Bola matanya
melebar melihat alergi yang membuat badan Airin bengkak. ”Maaf, aku olesin
minyak dulu di bagian perut kamu.” tangan Aran berjalan perlahan. Bola mata Airin
terlihat liar kala jemari Aran mulai menyentuh kulit perutnya
“Alergi kamu
lebih terlihat habis kena ulat bulu.” Gumam Aran. Apa semua ini karena dia.
’apa seharusnya
aku tidak mengizinkanmu pergi saja kemarin.?
suara mobil terdengar, Aran membuka jendela kamar. Terlihat Anaara dan Emma
berjalan masuk. Aran kebingungan. Bagaimana ini?
”Airin, di luar
ada teman kamu.” kata Aran sedikit panik.
Airin dengan
wajah sayu, berubah menjadi cemas. “Bapak sembunyi di dalam lemari dulu.” kata Airin
dengan suara lemah
Aran membuka
lemari, di sana terlihat rapi dan enggan untuk mengacaukanya. ”Jangan di
lemari.” Aran dengan panik berkata.
”Terus bapak sembunyi
di mana.” Airin hampir kehabisan nafas.
”Ke kamar papah.”
Saran Airin. Keduanya setuju, tapi sayang sekali, pintu masuk terbuka, dan cara
satu satu untuk merahasiakan status mereka adalah sembunyi di bawah ranjang.
“Maaf yah pak.”
Airin berkata pasrah.
“Airin.” Suara
anara terdengar dari luar.
Airin menyambut temanya dengan wajah pucat. “What happen
__ADS_1
with you.” Sapa Emma. Gadis itu
berjalan berjalan mendahului Anara. ” H-hay.” Airin melambaikanya tangnya kaku
“Alergi lagi.”
Anara menebak. Airin mengangguk.
“Back to sleep.” Emma membantu Airin kembali untuk
berbaring.
“Rin, apa ini
kerana semalam.” Emma khawatir. Airin terlihat gelisa.
’Duh kenapa harus
ngebahas itu sih.’
“I don’t think because of that.” Anara menawab dengan kecil.
Pliisss jangan bahas ini.
“You alone in here.” Anara bertanya. “Where you dad? Don’t
tell you father to go to work.” Anara terlihat melihat sekeliling.
Nada dering
panggilan ponsel terdengar.
“Kalian datengnya
berdua doank kan.” Tanya Airin memastikan.
”Iya.” jawa Emma
dan Anara yakin.
Ke tiganya
bertapapan dan langsung menebak dering ponsel.
“Reynald.” Ucap
ke tiganya bersamaan.
“Oh pliss.” Kata Anara yang kemudian membuka pintu kamar Airin
dengan selebar lebarnya.
“Why you here.”
Sapa Anara dengan kesal, sebelum menyadari kehadiaran Wilson, yang berada di
belakangnya. “Oh my gods.” Anara berteriak. kemudian menutup mulutnya.
“I don’t fell
like inviniting you.” Kata Anara. Kemudian melihat kearah Emma.
Gadis itu menggeleng. “ Not me.” Kata Emma bersumpah.
“Aku ngikutin
kalian.? Kata Wilson dengan gaya juteknya.
“Sejak kapan loe
barengan sama.? Kalimat Anara terhenti. Wajah Lelah dan kesal itu terlihat
kehabisan kata kata.
Mau tak mau
mereka akhrinya menetap sedikit lebih lama. Berbincang, saling melempar
pertanyaan, bahkan terlihat mereka tertawa bersama.
Airin sendiri
melupakan, keberadaan aran sejak tadi.
__ADS_1