Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 14


__ADS_3

Di jam istrirahat


Anara mencoba menghubungi ponsel Airin namun tak ada jawaban.


“Shit, lho dengar


kan, gak ada jawaban sama sekali. Bisa gawat kalau Airin kenapa kenapa! Ini


semua karna kamu ya.” Kata Anara cemas.


“Heh, kenapa kamu


nyalahin aku.” Emma berkata dengan panik. “I hope  you don’t forget your memory.” Kata Emma menunjuk kepalanya.


“Shit.”  Anara menekan dagu Emma. “Listen, kalau sampe


terjadi apa apa dengan Airin, kita berempat harus tangggung akibatnya bersama.”


Emma mengangguk dengan wajah panik.


Toilet sekolah


memang paling the best untuk melakukan kemarahan apapun itu. usai mengatakan


itu Anara segera keluar.


Emma mencoba


untuk tenang, walau hatinya sedang merasa panik. Niat ingin memberikan solusi, Emma


buru buru mengejar Anara.


“Anaraaa.” Teriak


Emma. Langkahnya terhenti Ketika Wilson berdiri di pintu keliar toilet wanita.


Awalnya Emma


cuek, dan tak peduli dengan kehadiran Wilson, namun saat lelaki itu menarik


tanganya, seketika ada perasaan aneh di sana.


“Ngapain kamu.”


Kata Emma.


“Mau ajak makan.”


Wilson berkata. Dirinya membawa Emma pergi.


“Ada apa.” Tanya Emma


Ketika keduanya berada di depan kantin.


Wilson terlihat


bingung. Dan sedikit ragu ragu. Emma menatap wajah wilson lebih dekat. ”Traktir


kan.” kata Emma curiga. Saat melangkah tangannya di tarik wilson .


“Mau bayar uaang


kelas.”  Wilson enyerahkan uang kemudian


meninggalkan Emma.


“Apaan sih? Gak


jelas banget.” Emma berdecih kesal pada kelakuan Wilson. “Emang harus ngajak Anara


buat ngecek ke rumah Airin.” Emma berfikir sejenak.


Tanpa pertimbangan


dua kali Emma buru buru kembali kedalam kelas.


Menghabiskan


waktu dengan beberapa buku di depanya, setengah tertidur Aran kembali bangun


untuk memberikan obat pada Airin.


”Airin, obatnya

__ADS_1


minum dulu.” Aran berkata dan kembali mengecek suhu tubuhnya.


”Pak ac nya di


matikan aja.” kembali menarik selimut agar rapat sampai lehernya.


”Iya udah.” Aran  mengembil minyak Habbie dengan wangi lavender


itu segera di balurkanya pada lengan dan leher Airin. Sayang sekali melihat


kulit Airin alergi.


Aran ingat, salah


satu pesan Bakrie saat mereka di pernikahan.


“Airin itu alergi


dingin, ingat untuk mengatur suhu ruanganya.” aran mengingatnya dengan jelas kalimat


bakrie. Namun suhu di club malam itu membuat badanya alergi.


Mati sudah,


bagaimana dia lupa dengan pesan itu. Aran meletakan ponselnya di samping Airin.


Kemudian mengambil minyak oles dan mengoleskanya di bagian yang alergi.


Bola matanya


melebar melihat alergi yang membuat badan Airin bengkak. ”Maaf, aku olesin


minyak dulu di bagian perut kamu.” tangan Aran berjalan perlahan. Bola mata Airin


terlihat liar kala jemari Aran mulai menyentuh kulit perutnya


“Alergi kamu


lebih terlihat habis kena ulat bulu.” Gumam Aran. Apa semua ini karena dia.


’apa seharusnya


aku tidak mengizinkanmu pergi saja kemarin.?


suara mobil terdengar, Aran membuka jendela kamar. Terlihat Anaara dan Emma


berjalan masuk. Aran kebingungan. Bagaimana ini?


”Airin, di luar


ada teman kamu.” kata Aran sedikit panik.


Airin dengan


wajah sayu, berubah menjadi cemas. “Bapak sembunyi di dalam lemari dulu.” kata Airin


dengan suara lemah


Aran membuka


lemari, di sana terlihat rapi dan enggan untuk mengacaukanya. ”Jangan di


lemari.” Aran dengan panik berkata.


”Terus bapak sembunyi


di mana.” Airin hampir kehabisan nafas.


”Ke kamar papah.”


Saran Airin. Keduanya setuju, tapi sayang sekali, pintu masuk terbuka, dan cara


satu satu untuk merahasiakan status mereka adalah sembunyi di bawah ranjang.


“Maaf yah pak.”


Airin berkata pasrah.


“Airin.” Suara


anara terdengar dari luar.


Airin menyambut temanya dengan wajah pucat. “What happen

__ADS_1


with you.” Sapa Emma. Gadis itu


berjalan berjalan mendahului Anara. ” H-hay.” Airin melambaikanya tangnya kaku


“Alergi lagi.”


Anara menebak. Airin mengangguk.


“Back to sleep.” Emma membantu Airin kembali untuk


berbaring.


“Rin, apa ini


kerana semalam.” Emma khawatir. Airin terlihat gelisa.


’Duh kenapa harus


ngebahas itu sih.’


“I don’t think because of that.” Anara menawab dengan kecil.


Pliisss jangan bahas ini.


“You alone in here.” Anara bertanya. “Where you dad? Don’t


tell you father to go  to  work.” Anara terlihat melihat sekeliling.


Nada dering


panggilan ponsel terdengar.


“Kalian datengnya


berdua doank kan.” Tanya Airin memastikan.


”Iya.” jawa Emma


dan Anara yakin.


Ke tiganya


bertapapan dan langsung menebak dering ponsel.


“Reynald.” Ucap


ke tiganya bersamaan.


“Oh pliss.”  Kata Anara yang kemudian membuka pintu kamar Airin


dengan selebar lebarnya.


“Why you here.”


Sapa Anara dengan kesal, sebelum menyadari kehadiaran Wilson, yang berada di


belakangnya. “Oh my gods.” Anara berteriak. kemudian menutup mulutnya.


“I don’t fell


like inviniting you.” Kata Anara. Kemudian melihat kearah Emma.


Gadis itu menggeleng. “ Not me.” Kata Emma bersumpah.


“Aku ngikutin


kalian.? Kata Wilson dengan gaya juteknya.


“Sejak kapan loe


barengan sama.? Kalimat Anara terhenti. Wajah Lelah dan kesal itu terlihat


kehabisan kata kata.


Mau tak mau


mereka akhrinya menetap sedikit lebih lama. Berbincang, saling melempar


pertanyaan, bahkan terlihat mereka tertawa bersama.


Airin sendiri


melupakan, keberadaan aran sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2