
Berangkat kesekolah bersama, membuatnya sedikit merasa canggung. Krena hari ini adalah bisboal, Airin menggunakan pakaian dengan rok mini.
"Kalau udah selesai, nanti langsung ganti bau." Suara Aran terdengar perintah.
"Ini hanya ekstrakurikuler, sesama sekolah." Airin memberi tahu dengan santai.
Aran tak lagi menyahut ucapan Airin.
Jam 9 paggi, Aran mengajar di kesal 12A, sementara Airin tengah berada di lapangan golf. Rok mini yang di pakai para wanita di sana menampakan kaki jenjang dan terkesan ****.
Selama jam pelajaran selesai, Aran terus menerus memikirkan Airin menjadi santapan mata.
Apalagi semua yang main kebanyakan siswa laki laki.
Tak lama Aran memberika tugas pada siswa dan segera meninggalkan kelas menuju ke lapangan golf.
Aran menggunakan pakaian golf yang tersedia. Bagimana pun Airin adalah tanggung jawabnya.
Karena baru pertama kali memasuki, rungan dengan lapangan tiruan. Tentu saja ada adegan Aran tersesat.
Sampai beberapa kali memasuki ruangan yang salah baru dirinya bertemu dengan Airin yang terlihat penuh keringat.
"Ai, sini biar aku ajarai caranya buat posisi yang benar." Panggil seorang laki laki yang tengah memegang gagang golf.
__ADS_1
"Gak deh kak, aku lagi cape banget." Airin menolah dengan halus.
Kakak yang di sebut Airin itu berjelan mendekat. Mnecoba merai pergelangan Airin.
Sayangnya kalah cepat dengan Aran.
"Udah selesai kan." Aran yang terlihat layaknya siswa dengan wajah tampan itu, membuat Airin mematunhg sebentar.
Sampai mengangguk setelah memastikan sosok Aran dari balik topi putih.
"Bapak ngapain ke sini." Airin terus tersenyum karena pergelangan nya dalam gengaman Aran.
"Mastikan kamu gak kecapean." Langkah Aran sangat terburu buru.
Airin sedikit kesusahan mengimbanginya. Merasa kalau Aran sedang emosi.
Memasuki halaman rumah, Airin tak melihat mobil Sean di parkiran.
"Ka Sean kemana." Airin bertanya tanpa sadar.
Aran sama sekali tak bicara. Hal itu membuat AIirin merasa kesal
Aran masuk ke dalam rumah lebih dulu, meninggalkan Airin yang masih berada di dalam mobil.
__ADS_1
Kekesalahn yang di rasakan Airin tak lagi dapat di tahanya.
"Bapak kenapa sih? Kenapa selalu diamin aku seenaknya." Teriakan nya mengema. Tangisnya pecah. Nafasnya berpacu tanpa tonasi.
Membayangkan dirinya mengamuk di hadapan Aran dengan beribu pertanyaan di benaknya membuat Airin terbelenggu dalam kisah khayalan nya sendiri.
Andaikan semua itu bisa di rasakanya, apakah akan ada yang berbeda dari hubungn mereka?
Airin keluar dari dalam mobil, berjalan perlahan dengan wajah menunduk.
Aran selalu saja marah tanpa alasan.
Apakah sekarang dia menyesal bertemu dengan nya. Entahlah, saat ini membayangkan wajah Aran terasa menyebalkan.
Masuk ke dalam kamar hanya menyimpan tasnya saja, lalu kembali ke ruangan sofa, menghidupkan tv dan menonton acara yang sama sekali tak menarik saat ini.
Sampai akhirnya AIirin terlelap di sova dengan rok mininya.
Aran mendapakan Airin di depan tv tertidur nyenyak, tak henti nya menatapa wajah kecil Airin.
Dalam hati Aran selalu merasa ragu, taku, dan cemas. Akan kah hubungan merekaa berakhir tanpa saling mengingat satu sama lain.
Bagaimana dengan kekasih yang di impikan Airin saat inni. Bolehkan dirinya merasa egosi dengan satu hal ini?
__ADS_1
Aran masih menunggu jawaban.
Andai Airin dapat menerima dirinya. Bukan kah itu adalah kisah yang romantis