Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 34


__ADS_3

Paginya Aran, bangun dan bersiap berangkat sekolah. Tak lupa membangunkan Airin kala dirinya menyiapkan bekal.


Hanya sarapan dengan beberapa potong daging dan roti untuk Airin.


Sementara Aran roti dengan selai kacang.


Airin keluar dari kamar dengan seragam siap berangkat. Aran memperhatikanya dengan lirikan.


”Entar bakal ada kegiatan camping, aku sarankan gak usah ikut.”


Aran memberikan sarapan di depan Airin yang sudah duduk manis.


”Kenapa pak.” Airin mulai memakanya dan bertanya.


”Bahaya, bukan termasuk kegiatan murni sekolah. Cuman pengalihan dana aja.”


Aran ikut melahap sarapanya.


”Aku mewakili lomba celo di SMA nusa ambara.” menunggu respon Aran.


”Kenapa gak ngambil fisika. Padahal nilai kamu masuk.” Aran sedikit kecewa.


”Tahun ke tahun, kalau soal fisika, atau kimia, dan biologi pasti yang wakilin hanya Wilson, Ema,


atau Anara. Jadi aku gak selalu ke bagian. Hanya bisa ngambil kelas musik, atau


teather.” Airin dengan malas mengunyah.


”Tapi mau.” Aran memberi pilihan. Airin menggeleng dengan ragu.


“Kali ini yang ngadain TOBI. Jadi kemungkinan berkelompok tiap perwakilan sekolah ada 5


orang.” Aran menjelaska.


”Soal TOBI aku belum dengar sih? Emang pengadaanya kapan.” Airin terlihat penasaran.


”3 minggu dari sekarang, kamu ikutan aja nanti aku yang latih.” Aran menyarankan.


”Kayaknya di Cello aja pak, lagian aku ambil tiga lomba. Musik, drama, sama olahraga lempar bola.”


Aran cukup terkejut dengan penuturan Airin.


”kenapa ngambilnya banyak.” tak menyangka kalau gadis yang masih terlihat remaja labil


dengan banyak kemampuan.


”soal prestasi begitu emang aku paling banyak ngambil. Papa nyimpan pialanya di kamar kerjanya.”


Airin melahap habis makanannya.


Aran masih terkejut bahkan ketika sampai di sekolah dirinya segera mencari berkas Airin melalui computer sekolah.

__ADS_1


Setelah melihat tanpa pamit, Aran bahkan tak menyangka kalau Airin ternyata punya banyak


prestasi di bidang lainya.


Setelah melihatnya, Aran kembali melakukan pertemuan dengan beberapa guru, di mana Aran


menyarankan untuk menjadi panitia di beberapa cabang. Ada rasa khawatir disana.


Mendapatkan izin dari guru yang bertugas seleksi Aran, kini hanya harus memilih yang nilainya


paling tinggi dalam bidang biologi untuk melaju ke cabang TOBI.


Ada beberapa siswa yang di kumpulkan dalam ruangan, dari kelas 1 dan 2. Dengan memilih yang


terbaik dan paling menguasai.


”Maaf menggangu jam istrirahatnya, di ruangan ini saya mengumpulkan kalian karena ada beberapa


dari kalian yang akan mewakili sekolah di TOBI.” Aran terlihat begitu senang.


”Apa ada yang tahu apa itu tobi.” Arah mata Aran melirk pada Airin asik berbicara dengan Reynald.


”TOBI. Tim olimpiade biology indonesia adalah organisasi yang didirikan untuk seleksi


perwakilan Indonesia ke internasional.” Jelas Anara dengan senyuman yang


mengambang penuh.


sekolah ini di ajang bergengsi.” Aran masih berusaha menyemangi. Antusias terlihat dari anak kelas 1.


”Apa perwakilanya hanya 1 orang pak.” Emma bertanya untuk memastikan. Jika di lihat juara umum


pemenangnya adalah Wilson.


”Enggak! Kali ini berkelompok yang terdiri dari 5 orang. Maka dari itu bapak harap kalian belajar


agar dengan serius dan bersunguh sungguh, agar terpilih menjadi perwakilan.”


sedikit kesal melihat Airin yang tak terlalu menanggapi.


”Kita akan kembali ke sini dalam 7 hari ke depan di ruangan ini.” ucapan terakhir yang di


ucapkan Aran adalah sebuah kata pemberitahuan.


Siswa yang semua di kumpulkan adalah nilai terbaik dari keseluruhan siswa. Tentu saja yang


paling banyak di beri kesempatan adalah anak kelas 2 karena ini adalah tahun


terakhir mereka untuk ikut.


Aran masih berharap kalau Airin, berniat untuk ikut dalam lomba TOBI, namun gadis itu

__ADS_1


telihat engan. Bahkan Aran, masih berusaha meyakinkan nya lagi.


Karena ini adalah ajang bergengsi, maka peserta yang ikut di berikan tolerasi untuk lebih aktif


dalam lomba. Sepulang sekolah Aran yang berada di rumah mencoba laggi untuk


bicara dengan Airin.


”Airin.” Aran mengetuk pintu kamarnya.


Membukanya dengan tahu maksud Aran. ”Kapan kamu mulai latilah celonya.” Astaga tak sanggup


rasanya memaksa gadis itu ketika melihat wajahnya. Aran mengurungkan niatnya.


”Ini mau ke kuil musik.” Airin bersiap dengan cello nya.


“Aku antar.” Aran naik ke kamarnya kemudian bersiap. Airin menunggu.


Perjalan ke sana tak begitu lama. Mereka sampai Aran, membawakan celo yang berukuran badan Airin.


Melihat gadis itu latihan membuat Aran kagum pada sosok gadis manja seperti Airin.


Aran teringat dengan sosok Afan. Terlihat ada kesedihan di matanya, hidup dengan penuh bayang


bayang. Aran merasa kesepian. Membayangkanya kejadian 20 tahunan itu membuatnya


kecewa pada diri sendiri.


Bagaimana bisa berlaku kejam pada saudara nya sendiri. Aran memiliki luka masa kecilnya.


Hingga membuatnya tak bisa lepas dari bayang bayang Afan. Mengingat hal itu,


membuatnya takut di jauhi lagi.  Aran


selalu mencoba untuk menjadi menyenangkan, tersenyum dan selalu menolong.


Siapa sangka, lagi lagi dengan bekas luka di bahu belangkang nya ini menyimpan luka di


baliknya. Alasan Aran yang selalu tersenyum.


Akhir akhir ini dirinya selalu merasa bahagia, namun apakah itu akan membekas. Lalu bagimana


kalau Airin mendengar kisah ini. Mengingat hanya keluarganya tempatnya berlindung selama ini.


Melintas nama Airin, dirinya kembali sadar ketika gadis itu telah selesai bermain celo. Airin


menghampirinya.


”Gimana pak.” tanya dengan menunggu pendapat.


Hy semua, terimkasih sudah mampir. Jangan lupa like sama comentarnya yah.

__ADS_1


Sehat sehat selalu ..


__ADS_2