
Hatinya terasa sakit, kenapa keadanya begitu cepat berbalik. Airn lanjut merapikan baju yang di bawanya dari rumah sakit. Setelah itu berjalan keluar dari kamar, Di sana sama samar Aran terdengar sedang bicara, Airin mendekatinya diam diam.
Kaki mungil itu perjalan berjalan mendekatinya, di sana Airin tak dapat mendengar jelas percakapan sebab Aran sedikit menjauh, tetap memperhatikan kemudian cukup kaget saat lelaki itu menyesap sebatang rokok. Sejak kapan dia merokok. Airin tak pernah mellihatnya selama ini.
Airin hanya bisa menutup mulutnya tak percaya dengan pengelihatan mata telanjangnya. Dengan cepat berlari masuk kedalam kamar. Kenapa perubahanya sangat cepat. Guman dengan beribu pertanyaan di sana. Dengan perasaan yang terus ingin tahu, gadis itu memutuskan untuk tak mau pusinh walaupun berdepat dengan dirinya sendiri.
Hanya bisa merasakan kekesalan dengan bara api di ujung rasa. Sampai dirinya terlelap dengan pikiran yang lelah. Seseorang mungkin berubah kerana sesuatu yang di anggap sepela. Bukan kah sebaiknya dirinya bertanya, namun lelaki yang menjadi suaminya kemudian berubah dalam selamam itu sedang tak bisa diaak bicara dari hati.
__ADS_1
Airin terbangun, ketikan merasakan air menetes di wajahnya, terasa mimpi namun sangat nyata. Perlahan membuka matanya, yah benar saja, Aran sedang berada di atasnya dengan tatapan aneh. "Bapak kenapa." Suaranya penuh heran. Lelaki itu beranjak pergi. Airin melihatnya dengan rasa frustasi. Mengerjap beberapa kali. Mengecek ponselnya sudah hampir jam 4. Teringat dengan acara reuni Aran.
Setengah duduk, memperhatikan Aran yang sibuk memilih baju di lemari. Mungkin dia butuh bantuan. Pikirnya. Tiba tiba lengan mungil itu melingkar diantara pinggangnya. " Perlu bantuan." Tawarnya dengan suara hengat. Aran menarik tangan yang saling bertaut itu dengan acuh. Mengambil pakaian nya sendiri lalu memakainya segera. Airin terdiam kaku saat itu juga.
Ini jauh lebih sakit, bukan hanya di tusuk tetapi di cabik tanpa perasaan. Sebegitu menjijikanya kah. Menelan salivanya dengan kasar. Sudut matanya mengembun. Menghirup nafasnya lebih dalam, kemudian menghembuskannya dengan kasar.
Aran menunggu dengan menyibukan diri, sampai merasa bosan, kemudian kembali ke kamar di sana Airin masih belum kemballi dari kamar mandi. Aran mengetuk perlahan. "Aku gak punya banyak waktu." Suara keras itu terdengar menakutkan. Mengetuk sekali lagi.
__ADS_1
Daun pintu berayun terbuka, di sana dengan mata merah yang sembab, dan wajah yang segar kemerahan. Sudah berapa lama dia menangis, pikiran yang ada di benar Aran pertama kali mentapnya dengan sotor yang acuh. Airin menuduk dengan penuh ketakutan.
Secepat mungkin berganti pakaian dengan gerakan cepat memakai riasan tipis. Airin tak terlalu memperhatikan baju yang di pilihnya sampai dengan gerakan gemetar memakainya segera. Rambutnya di sanggul, terburu buru bajunya cukup terbuka di bagian atas, memamerkan baju dengan tulang selangka yang cantik. Benar benar menyejukan mata.
Aran hanya melihatnya tanpa berkomentar, Sangat acuh. Mereka melajju segera ke sekolah yang pernah dijadikan tempat mengenyam pendidikan. Aran terus memasang wajah kaku, dan tegas, sorot mata tajam itu cukup masih di pakainya.
Mengendarai dengan laju sedang, Airin sejak masuk sudah memegang handbeg hingga jarinya merah. "Kau bisa melepaskan handbegnya." Pemberitahuan. Suara dingin dengan maksud agar Airin bisa relaks selama perjalanan. Tanganya terllihat enggan. "Tadi pagi aku merasa berada di ambang kematian." Katanya dengan suara rendah. Seketika laju mobill itu tak bisa membuat merasa seakan terbang.
__ADS_1