Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 25


__ADS_3

”Airin.” panggil Aran


dengan senyuman mendekatinya. Tanpa bicara Airin menatap Aran.


”Sampe keringatan


gini.” Aran mengambil tisu dan menempelkanya pada wajah Airin.


”Sini biar aku


aja.” kata Aran mengambil pisau dari tangan Airin.


Aran kemudian


mengambil buah semangka di kulkas, memotongnya dengan cepat dan rapi.


Airin menggulung


lengah baju Aran. Di sana menekan beberapa kali daging tulang.


”Kenapa.” tanya Aran


dengan wajah heran.


”Ini buah nya gak


keras, padahal ini kan besar banget. Tadi aku tanganya kayak mau patah.” Airin terdengar


mendramatisir. Aran tertawa dengan ucapan isrinya. Yah terlihat dari wajahnya


dia terlihat lelah.


Usai memotong


buah Aran kemudian menarik lengan Airin dengan nampan berisi buah menuju


ruangan tengah.


Sementara Aran


terus tersenyum. Lusi melotot ketika mendapati suaminya mengukir senyuman.


”kayak gitu malah


di foto, kamu yah sean benar benar.” Anna terdengar menceramahi Sean.


Aran menatap


kesal pada Sean.


”Mah, mah liat Aran


mah.” Sean menujjuk Aran dengan tertawa.


”Sean.” suara Ahmadi membuat Sean Kembali mengulum senyuman.


Airin keingungan. Sementara menatap Aran lelaki itu hanya tersenyum.


Beberapa saat


berbincang aran pamit untuk mengajak Airin berkeliling.


”Aku sama Arin


keluar bentar.”  kata Aran dengan menatap


Airin tang tengah duduk sambil memakan cemilan dengan lahab. Dia dari pagi


belum makan. Airin melirik Aran yang tak memberitahukanya sedari tadi.


”Iya, pergi aja.


Bawa Airin keliling bandung.” kata Ahmadi.


”Sekalian ke


kebun buah Ran.” ledek Sean. Segera 4 pasang mata menatap Sean.


”Mah.” Aran terlihat


kesal.

__ADS_1


”Kamu Sean, kapan


mau kasih papa cucu.” Ahmadi membuat wajah Sean datar dengan beberap detik.


Airin menatap Sean,


dan Lusi secara bergantian.  Bola matanya


tertangkap, bukanya terlihat  murung


istri sean malah terlihat meledek Sean kemudian mengedipakn matanya pada Airin.


”Airin ayok.”


kata Aran beranjak.


Airin segera


berdiri dan masuk ke kamar dulu. Mengganti pakaian, keluar dengan bau baju imutnya


dan rok hitam pendek.


Melihat Airin


keluar dengan gaya anak remaja membuat Sean tertawa tanpa henti.


”Sean.” kali Lusi


mencubitnya dengan meninggalkan rasa sakit. Suara Sean menggelegar, demi apapun


Airin sangat kaget.


”Dengerin papah


minta cucu.” kata Aran segera keluar setelah menyalami Anna dan Ahmadi.


Menarik tangan Airin


segera keluar. Di perjalanan wajah Aran masih terlihat sisa kesalnya.


”Bapak kenapa.”


tanya Airin ragu ragu. Aran mengambil  tangan Airin dan menggenggamnya dalam diam tanpa penolakan. Airin


”Pak kita


kemana.” kali ini suara Airin sedikit besar.  Aran terdengr beeberapa kali menghembuskan nafasnya kasar.  Kemudian menepikan mobilnya dekat


supermarket.


”Beli cemilan


ayok.” ajak Aran segera turun. Airin mengikutinya berjalan di belakang Aran.


Mereka masuk dan


memilih beberap snack ringan.


”Kita kemana


pak.” tanya Airin lagi, tangannya masih di genggam Aran, sementara satunya


memegang keranjang snack.


”Kamu pilih


beberapa minuman aja.” kata Aran melepas tangan Airin. Gadis berjalan dengan wajah


cemberut. Saat memilih minuman seseorang memanggilnya.


”Airin lunania.”


mendengar namanya di panggila Airin segera berbalik melihat asal suara.


Beberapa saat Airin menetap datar. ”Reno yuan. Ingat gak.” senyuman khas itu


membuat Airin tak percaya dengan apa yang di lihat. Sahabatnya sejak SMP.


”Kamu apa kabar.”


Airin memeluk setengah badan Reno karena tingginya hampir setara Aran.

__ADS_1


”Syukur itu


beneran kamu. Aku hampir malu.” Reno membalas pelukan Airin.


Aran berada jauh


diantara mereka dapaat melihat dengan jelas di mana Airin lebih dulu memeluk


laki laki yang teramat di kenalnya.


”Ke bandung


ngapain.” tanya Reno tak hentinya mentap Airin. Kalimat Reno membuat Airin


berfikir keras.


”Reno.” suara Aran


menghampiri mereka.


”Ka Aran.” Reno


menyalami tangan Aran. Reno adalah orang yang sangat sopan. Aran mengangguk


melirik Airin. Sorot matanya tak bisa berbohong kalau dirinya tengah panik dan


kesal. Namun senyuman Aran selalu terlihat tulus.


” Sudah.” Aran


bertanya pada Airin, gadis itu kemudian mengangguk.  Aran kembali menarik pergelangan Airin.


”Bapak sama .? Reno


melirik Airin.


”Dia sepupuh aku


dari mamah.” kata Aran memberikan keranjang belanjaan pada Airin dan credit


card. Airin segera membawanya ke ke kasir. Sementara Aran dan Reno tengah


berbincang.


”Kaka kapan balik


ke jakarta.” tanya Reno dengan polosnya.


”Mungkin minggu.”


kata Aran. ”Papa kamu gimana keadaanya.”  Aran terlihat bingung.


”Kemarin sempat


kritis, tapi udah baikan, ka Adinda juga lagi urus kepulanganya, rencana bakal


menetap di jakarta, tapi gak tau bagian mana.” kalimat Reno membuat Aran


tersedak. Hal itu membuat Airin memberikan Aran air segera.


”Udah selesai


bayar.” tanya Aran setelah minum. Airin mengangguk.


”Yaudah  ayok buruan.” ajak Aran buru buru.


”Rin nanti aku


mau ke situ yah.” teriak Reno kala Airin hampir keluar dari minimarket. Tapi jelas


melihat Airin mengangguk.


Di perjalan Airin,


menatap Aran dengan fokus. Aran menyadari itu, mencoba unuk tak peduli tapi


tatapan Airin sudah cukup lama.


”Ayok


turun.”  ajak Aran membawa barang belanjaan.

__ADS_1


Mengambil kain di bagasi lalu menyikapnya di atas rumput hijau. Merapikan


cemilan dengan susunan yang pas.


__ADS_2