
”Airin.” panggil Aran
dengan senyuman mendekatinya. Tanpa bicara Airin menatap Aran.
”Sampe keringatan
gini.” Aran mengambil tisu dan menempelkanya pada wajah Airin.
”Sini biar aku
aja.” kata Aran mengambil pisau dari tangan Airin.
Aran kemudian
mengambil buah semangka di kulkas, memotongnya dengan cepat dan rapi.
Airin menggulung
lengah baju Aran. Di sana menekan beberapa kali daging tulang.
”Kenapa.” tanya Aran
dengan wajah heran.
”Ini buah nya gak
keras, padahal ini kan besar banget. Tadi aku tanganya kayak mau patah.” Airin terdengar
mendramatisir. Aran tertawa dengan ucapan isrinya. Yah terlihat dari wajahnya
dia terlihat lelah.
Usai memotong
buah Aran kemudian menarik lengan Airin dengan nampan berisi buah menuju
ruangan tengah.
Sementara Aran
terus tersenyum. Lusi melotot ketika mendapati suaminya mengukir senyuman.
”kayak gitu malah
di foto, kamu yah sean benar benar.” Anna terdengar menceramahi Sean.
Aran menatap
kesal pada Sean.
”Mah, mah liat Aran
mah.” Sean menujjuk Aran dengan tertawa.
”Sean.” suara Ahmadi membuat Sean Kembali mengulum senyuman.
Airin keingungan. Sementara menatap Aran lelaki itu hanya tersenyum.
Beberapa saat
berbincang aran pamit untuk mengajak Airin berkeliling.
”Aku sama Arin
keluar bentar.” kata Aran dengan menatap
Airin tang tengah duduk sambil memakan cemilan dengan lahab. Dia dari pagi
belum makan. Airin melirik Aran yang tak memberitahukanya sedari tadi.
”Iya, pergi aja.
Bawa Airin keliling bandung.” kata Ahmadi.
”Sekalian ke
kebun buah Ran.” ledek Sean. Segera 4 pasang mata menatap Sean.
”Mah.” Aran terlihat
kesal.
__ADS_1
”Kamu Sean, kapan
mau kasih papa cucu.” Ahmadi membuat wajah Sean datar dengan beberap detik.
Airin menatap Sean,
dan Lusi secara bergantian. Bola matanya
tertangkap, bukanya terlihat murung
istri sean malah terlihat meledek Sean kemudian mengedipakn matanya pada Airin.
”Airin ayok.”
kata Aran beranjak.
Airin segera
berdiri dan masuk ke kamar dulu. Mengganti pakaian, keluar dengan bau baju imutnya
dan rok hitam pendek.
Melihat Airin
keluar dengan gaya anak remaja membuat Sean tertawa tanpa henti.
”Sean.” kali Lusi
mencubitnya dengan meninggalkan rasa sakit. Suara Sean menggelegar, demi apapun
Airin sangat kaget.
”Dengerin papah
minta cucu.” kata Aran segera keluar setelah menyalami Anna dan Ahmadi.
Menarik tangan Airin
segera keluar. Di perjalanan wajah Aran masih terlihat sisa kesalnya.
”Bapak kenapa.”
tanya Airin ragu ragu. Aran mengambil tangan Airin dan menggenggamnya dalam diam tanpa penolakan. Airin
”Pak kita
kemana.” kali ini suara Airin sedikit besar. Aran terdengr beeberapa kali menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian menepikan mobilnya dekat
supermarket.
”Beli cemilan
ayok.” ajak Aran segera turun. Airin mengikutinya berjalan di belakang Aran.
Mereka masuk dan
memilih beberap snack ringan.
”Kita kemana
pak.” tanya Airin lagi, tangannya masih di genggam Aran, sementara satunya
memegang keranjang snack.
”Kamu pilih
beberapa minuman aja.” kata Aran melepas tangan Airin. Gadis berjalan dengan wajah
cemberut. Saat memilih minuman seseorang memanggilnya.
”Airin lunania.”
mendengar namanya di panggila Airin segera berbalik melihat asal suara.
Beberapa saat Airin menetap datar. ”Reno yuan. Ingat gak.” senyuman khas itu
membuat Airin tak percaya dengan apa yang di lihat. Sahabatnya sejak SMP.
”Kamu apa kabar.”
Airin memeluk setengah badan Reno karena tingginya hampir setara Aran.
__ADS_1
”Syukur itu
beneran kamu. Aku hampir malu.” Reno membalas pelukan Airin.
Aran berada jauh
diantara mereka dapaat melihat dengan jelas di mana Airin lebih dulu memeluk
laki laki yang teramat di kenalnya.
”Ke bandung
ngapain.” tanya Reno tak hentinya mentap Airin. Kalimat Reno membuat Airin
berfikir keras.
”Reno.” suara Aran
menghampiri mereka.
”Ka Aran.” Reno
menyalami tangan Aran. Reno adalah orang yang sangat sopan. Aran mengangguk
melirik Airin. Sorot matanya tak bisa berbohong kalau dirinya tengah panik dan
kesal. Namun senyuman Aran selalu terlihat tulus.
” Sudah.” Aran
bertanya pada Airin, gadis itu kemudian mengangguk. Aran kembali menarik pergelangan Airin.
”Bapak sama .? Reno
melirik Airin.
”Dia sepupuh aku
dari mamah.” kata Aran memberikan keranjang belanjaan pada Airin dan credit
card. Airin segera membawanya ke ke kasir. Sementara Aran dan Reno tengah
berbincang.
”Kaka kapan balik
ke jakarta.” tanya Reno dengan polosnya.
”Mungkin minggu.”
kata Aran. ”Papa kamu gimana keadaanya.” Aran terlihat bingung.
”Kemarin sempat
kritis, tapi udah baikan, ka Adinda juga lagi urus kepulanganya, rencana bakal
menetap di jakarta, tapi gak tau bagian mana.” kalimat Reno membuat Aran
tersedak. Hal itu membuat Airin memberikan Aran air segera.
”Udah selesai
bayar.” tanya Aran setelah minum. Airin mengangguk.
”Yaudah ayok buruan.” ajak Aran buru buru.
”Rin nanti aku
mau ke situ yah.” teriak Reno kala Airin hampir keluar dari minimarket. Tapi jelas
melihat Airin mengangguk.
Di perjalan Airin,
menatap Aran dengan fokus. Aran menyadari itu, mencoba unuk tak peduli tapi
tatapan Airin sudah cukup lama.
”Ayok
turun.” ajak Aran membawa barang belanjaan.
__ADS_1
Mengambil kain di bagasi lalu menyikapnya di atas rumput hijau. Merapikan
cemilan dengan susunan yang pas.