Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 15


__ADS_3

Malam hampir tiba,


anara sedikit take nak kalau harus meninggalkan Airin seorang diri. “Rin,


you father its not back now.” Tanya Anara


khawatir.“Palingan juga dikit lagi.” sejenak Airin mematung dengan pucat. Baru ingat


dengan Aran. “Tapi gue tuh pengennya ..” ucapan Anara terpotong.“Gak. balik


sana, aku lagi pengen sendiri.” suara lemah namun tegas itu berkata yakin.”Padahal


you lagi sakit yah. Nadanya jangan judes gitu donk.” Anara terlihat tak senang.”Tangks


banget udah dateng.” kata Airin dengan mata sayu dan tersenyum.”Alerginya parah


gak sih.” tanya Wilson menatap foto Anara di nakas.”Engggak kok, palingan besok


juga masuk sekolah.” nadanya mulai lemas.


”Gak ada lho di


sekolah, gak aneh sih.” kata Reynald dengan wajah di buat sedih.


”Makasih yah Rey.”


suara yang penuh dengan penekanan.


”Bdw kapan nih gw


ngedrive, pake mobil di depan.” Reynald terlihat tak sabar. Dirinya


mempratekkan gaya balapan.


Tawa menghiasi


ruangan itu. Reynald tak hanya lucu, dia jjuga sangat pintar melihat situasi.


”Rin, beneran gak


apa apa ninggalin lu sendirian? Papah kamu kenapa belum balik juga.” tanya Anara


khawatir.


”Tadi aku ngasih


tau kalau kalian di sini.” Airin memperlihatkan ponsel dengan layar mati pada


mereka.


”Tadi aku nelfon


kamu kenapa di angkat.” tanya Anara dengan sorot mata kesal.


”Yah karena.” Airin


menghidupkan layarnya, di sana terlihat walpaper yang menurutnya asing.  Astaga itu ponsel Aran. Mati sudah. Bagaimana


menjelaskanya.


Dengan mencoba


agar tidak gugup namun nyatanya tanganya gemetar Airin memutar otak agar bisa


beralasan. Dengan wajah panik Airin bicara terbata bata. ”Itu kar- na- tadi –


ponsel aku gak ada suaranya.” Airin terseyum dengan panik.


”Coba lihat.” Emma


mencoba menggambilnya.


”Jangan.” sorot


matanya terlihat kesal.”Yaudah sih.” ada kekecewaan di wajah Ema.


”Balik yok, udah


mau malam ini.” ema segera berdiri dari ranjang.

__ADS_1


”Rin kalo ada


apa, kabari gw yaeh.” Anara merasa sedih meninggalakn sahabatnya yang tengah


sakit. Airin mengangguk. Mereka segera beranjak turun dari ranjang Airin. Hanya


Wilson yang berdiri di dekat nakas.


”Ini bukan karena


lho usaha sampai sakit kan.” kata Wilson dengan nada meledek.


”I am not loser.”


kata Airin menatap kesal.


“Yeah sayang aja


sih, gitu ajja kok sampai sakit.” Wilson melipat tangan dengan wajah angkuh.


”Get out.” Airin


menahan kesal.


“Lagian kalo gak


bisa juga gak apa, permintaan aku simple ko.” wilson menyeringai merasa penuh


kemenangan.


Hampir 2 jam


mereka berada di rumah Airin, dan itu sedikit membuat nya khawatir dengan kondisi


Aran.


”Pak Aran.” Airin


memanggil dengan nada pelan. Tak ada jawaban membuat nya turun dan memeriksanya


langsung.


”Pak Aran.” kali


”Bapaaak.”


berteriak dengan singkat. Gadis itu menarik sekuat tenaga.


”Mereka udah


pergi.” tanya Aran hendek keluar.


”Iya.”  Airin memutari ranjang untuk mengambil gelas di


nakasnya dan memberikan pada Aran.


“Maaf yah pak.” dengan


wajah bersalah Airin Kembali mengambil gelas yang sudah kosong.


“Kamu belum minum


obatnya kan.” Aran terlihat khawatir, kemudian mencoba meraih obat yang ada di


nakas Airin dengan berbaring.


“Kamu ngapain.”


Kata Aran setelah merasa berat bagian dadanya.


“Aku kira bapak


mati.” Kata Airin dengan wajah tegas. Seolah di sana penuh keyakinan.


Aran mencoba


bangun, mensejajarkan diri dengan Airin. ”Aku gak bakal mati muda Airin.” Aran


memberikan obat pada Airin

__ADS_1


“Tadi bapak kayak


gak ada nafas.” Airin yakin. ”Aku kira mati.” lanjutnya.


“Yah, itu karena


aku habis dehidrasi.” Suara Aran lemah.


“Bagus kalo bapak


gak kenapa kenapa, soalnya aku gak bisa apa apa.” Airin berkata dengan wajah


datar namun tetap imut.


Wajah Aran


membatu mendengar ucapan Airin.


Sejujurnya Airin


adalah anak yang terbilang imut, dirinya berkata dengan apa yang akan dia


rasakan. Matanya agak sipit bola matanya bulat, alisnya yang tak sama membuanya


menjadi unik. Pipinya agak tembem, hidungnya mungil, bulu matanya tidaklah


lentik dengan rambut panjang sepinggang.


Sementara Aran,


sosok lelaki yang famyly man, dia adalah anak  terakhir dari kedua bersaudara. Aran sangat mencintai ibunya, sebab


mereka di besarkan dengan kasih sayang. Tidak ada perbedaan anatara ibu dan


ayahnya mereka saling menyayangi.


Aran bertubuh


tegap, namun tidak berotot dengan bahu lebar dan ada sedikit luka jahitan di


pundaknya, Aran sendirin berwajah baby face, berambut lurus dan tatapan mata


yang hangat. Dia sosok pendiam tapi tegas. Menatap wajah Aran dapat membuat nyaman.


Aran sanggat suka


membaca buku, berbading terbalik dengan Airin tidak suka membac buku melainkan


menonton.


Airin dan Aran


berada di depan tivi yang sama, namun beda aktifitas. Aran tengah membaca buku


sementara airin tengah mengerjakan soal latihan. ”Semua bagian tugas 1 sampai 5


harus benar, jangan sampai lupa dengan bagian yang ada sususnannya.” nada tegas


yang membuat Airin kesal.


Sejak sembuhya Airin


dari demam sehari membuat Aran menghabisinya dengan tugas tugas. Entah yang


sudah lewat dari pelajarannya atau tidak tetap saja harus di kerjakan dengan


benar.


”Ini aku, sedang


mengerjakanya.” Wajah Airin melirik kesal. Kenapa demamnya gak lama aja sih.


Airin bersungut, dan menyesal terlalu cepat sembuh.


Aran meliriknya


sebentar kemudiaan dirinya langsung kembali memasukan cemilan dengan senyuman.


Malam itu mereka

__ADS_1


terlihat dengan keseibukanya masing masin. Tak banyak pembicaran yang terjadi,


hanya beberapa pertanyaan.


__ADS_2