
Malam hampir tiba,
anara sedikit take nak kalau harus meninggalkan Airin seorang diri. “Rin,
you father its not back now.” Tanya Anara
khawatir.“Palingan juga dikit lagi.” sejenak Airin mematung dengan pucat. Baru ingat
dengan Aran. “Tapi gue tuh pengennya ..” ucapan Anara terpotong.“Gak. balik
sana, aku lagi pengen sendiri.” suara lemah namun tegas itu berkata yakin.”Padahal
you lagi sakit yah. Nadanya jangan judes gitu donk.” Anara terlihat tak senang.”Tangks
banget udah dateng.” kata Airin dengan mata sayu dan tersenyum.”Alerginya parah
gak sih.” tanya Wilson menatap foto Anara di nakas.”Engggak kok, palingan besok
juga masuk sekolah.” nadanya mulai lemas.
”Gak ada lho di
sekolah, gak aneh sih.” kata Reynald dengan wajah di buat sedih.
”Makasih yah Rey.”
suara yang penuh dengan penekanan.
”Bdw kapan nih gw
ngedrive, pake mobil di depan.” Reynald terlihat tak sabar. Dirinya
mempratekkan gaya balapan.
Tawa menghiasi
ruangan itu. Reynald tak hanya lucu, dia jjuga sangat pintar melihat situasi.
”Rin, beneran gak
apa apa ninggalin lu sendirian? Papah kamu kenapa belum balik juga.” tanya Anara
khawatir.
”Tadi aku ngasih
tau kalau kalian di sini.” Airin memperlihatkan ponsel dengan layar mati pada
mereka.
”Tadi aku nelfon
kamu kenapa di angkat.” tanya Anara dengan sorot mata kesal.
”Yah karena.” Airin
menghidupkan layarnya, di sana terlihat walpaper yang menurutnya asing. Astaga itu ponsel Aran. Mati sudah. Bagaimana
menjelaskanya.
Dengan mencoba
agar tidak gugup namun nyatanya tanganya gemetar Airin memutar otak agar bisa
beralasan. Dengan wajah panik Airin bicara terbata bata. ”Itu kar- na- tadi –
ponsel aku gak ada suaranya.” Airin terseyum dengan panik.
”Coba lihat.” Emma
mencoba menggambilnya.
”Jangan.” sorot
matanya terlihat kesal.”Yaudah sih.” ada kekecewaan di wajah Ema.
”Balik yok, udah
mau malam ini.” ema segera berdiri dari ranjang.
__ADS_1
”Rin kalo ada
apa, kabari gw yaeh.” Anara merasa sedih meninggalakn sahabatnya yang tengah
sakit. Airin mengangguk. Mereka segera beranjak turun dari ranjang Airin. Hanya
Wilson yang berdiri di dekat nakas.
”Ini bukan karena
lho usaha sampai sakit kan.” kata Wilson dengan nada meledek.
”I am not loser.”
kata Airin menatap kesal.
“Yeah sayang aja
sih, gitu ajja kok sampai sakit.” Wilson melipat tangan dengan wajah angkuh.
”Get out.” Airin
menahan kesal.
“Lagian kalo gak
bisa juga gak apa, permintaan aku simple ko.” wilson menyeringai merasa penuh
kemenangan.
Hampir 2 jam
mereka berada di rumah Airin, dan itu sedikit membuat nya khawatir dengan kondisi
Aran.
”Pak Aran.” Airin
memanggil dengan nada pelan. Tak ada jawaban membuat nya turun dan memeriksanya
langsung.
”Pak Aran.” kali
”Bapaaak.”
berteriak dengan singkat. Gadis itu menarik sekuat tenaga.
”Mereka udah
pergi.” tanya Aran hendek keluar.
”Iya.” Airin memutari ranjang untuk mengambil gelas di
nakasnya dan memberikan pada Aran.
“Maaf yah pak.” dengan
wajah bersalah Airin Kembali mengambil gelas yang sudah kosong.
“Kamu belum minum
obatnya kan.” Aran terlihat khawatir, kemudian mencoba meraih obat yang ada di
nakas Airin dengan berbaring.
“Kamu ngapain.”
Kata Aran setelah merasa berat bagian dadanya.
“Aku kira bapak
mati.” Kata Airin dengan wajah tegas. Seolah di sana penuh keyakinan.
Aran mencoba
bangun, mensejajarkan diri dengan Airin. ”Aku gak bakal mati muda Airin.” Aran
memberikan obat pada Airin
__ADS_1
“Tadi bapak kayak
gak ada nafas.” Airin yakin. ”Aku kira mati.” lanjutnya.
“Yah, itu karena
aku habis dehidrasi.” Suara Aran lemah.
“Bagus kalo bapak
gak kenapa kenapa, soalnya aku gak bisa apa apa.” Airin berkata dengan wajah
datar namun tetap imut.
Wajah Aran
membatu mendengar ucapan Airin.
Sejujurnya Airin
adalah anak yang terbilang imut, dirinya berkata dengan apa yang akan dia
rasakan. Matanya agak sipit bola matanya bulat, alisnya yang tak sama membuanya
menjadi unik. Pipinya agak tembem, hidungnya mungil, bulu matanya tidaklah
lentik dengan rambut panjang sepinggang.
Sementara Aran,
sosok lelaki yang famyly man, dia adalah anak terakhir dari kedua bersaudara. Aran sangat mencintai ibunya, sebab
mereka di besarkan dengan kasih sayang. Tidak ada perbedaan anatara ibu dan
ayahnya mereka saling menyayangi.
Aran bertubuh
tegap, namun tidak berotot dengan bahu lebar dan ada sedikit luka jahitan di
pundaknya, Aran sendirin berwajah baby face, berambut lurus dan tatapan mata
yang hangat. Dia sosok pendiam tapi tegas. Menatap wajah Aran dapat membuat nyaman.
Aran sanggat suka
membaca buku, berbading terbalik dengan Airin tidak suka membac buku melainkan
menonton.
Airin dan Aran
berada di depan tivi yang sama, namun beda aktifitas. Aran tengah membaca buku
sementara airin tengah mengerjakan soal latihan. ”Semua bagian tugas 1 sampai 5
harus benar, jangan sampai lupa dengan bagian yang ada sususnannya.” nada tegas
yang membuat Airin kesal.
Sejak sembuhya Airin
dari demam sehari membuat Aran menghabisinya dengan tugas tugas. Entah yang
sudah lewat dari pelajarannya atau tidak tetap saja harus di kerjakan dengan
benar.
”Ini aku, sedang
mengerjakanya.” Wajah Airin melirik kesal. Kenapa demamnya gak lama aja sih.
Airin bersungut, dan menyesal terlalu cepat sembuh.
Aran meliriknya
sebentar kemudiaan dirinya langsung kembali memasukan cemilan dengan senyuman.
Malam itu mereka
__ADS_1
terlihat dengan keseibukanya masing masin. Tak banyak pembicaran yang terjadi,
hanya beberapa pertanyaan.