
Malam semakin
larut, Aran beberapa kali menguap, layar ponselnya segera di nonaktifkan.
”Rin, sudah jam 12.” Aran tak dapat menahan kantuk yang menyerang matanya.
”Bapak tidur
saja. Aku masih belum selesai.” Airin
masih terlihat fokus pada soal sekolahnya.
Aran melirik nya,
memang terlihat sangat serius. Tak mungkin meninggalkan nya seorang diri di
ruangan ini. Aran beranjak pergi tak lama dirinya kembali dengan selimut dan
bantal yang memenuhi tangannya.
Entah jam berapa Airin
selesai mengejarkan tugasnya, yang jelas setelah Aran bangun jam 5 dirinya tak
melihat ada Airin lagi.
Aran mengusap
wajahnya sedikit kasar kemudian segera bangun. Dan bersiap siap untuk kesekolah.
”Airin.” panggil Aran
dari balik pintu. Tak ada jawaban. Aran melangkah naik ke atas. Dirinya lebih
dulu bersiap. Setelah itu menyempatkan waktu untuk mengisi perut kala menunggu Airin
bangun.
”Airin kita punya
waktu 20 menit lagi.” aran memanggil di depan pintu berharap bocah itu segera
bangun. Setelah beberapa saat menunggu dan memanggilnya tak ada jawaban,
perlahan memutar handle pintu.
Gelap, kamar itu
teramat gelas. Aran kembali melihat layar ponselnya untuk menyelakan penerangan.
Melangkah mendekati ranjang Airin.
”Airin bangun.” Aran
masih mencoba memanggilnya dalam gelapnya ruangan.
”Bapak ngapain.” suara
yang menggagetkan itu membuat aran menarik nafas setelah tegang.
”airin, kenapa
lampunya gak di nyalain.” langkahnya menuju
__ADS_1
saklar lampu, dekat pintu.
Tak ada jawaban. Aran memutuskan untuk keluar.
Beberapa saat
setelah kejadian itu Aran menggungu di luar dengan menahan cemas.
Sementara Airin
masih berada di kamar dengan sedikit bingung.
”Aku pakai rok
ini aja.” Airin memegang 2 macam rok yang sama dengan beda model. ”Uchh, ini
perut aku kenapa terasa sakit sih.” meringis sebentar kemudian segera berdiri.
Setelah
menentukanya dirinya terlihat sedikit kesulitan karena badan yang terlihat sedikit
turun, akibat kesedihan mungkin.
15 menit akhirnya
airin keluar dari kamar, dirinya berjalan dengan langsung mengabil sepatu tanpa
tali dan langsung memakainya.
Aran
memperhatikan penampilan Airin. Dengan tatapan mata di alihkan.
ayok.” ajak Aran kemudian.
Di perjalanan
semua terasa sunyi, tak ada yang terdengar selain suara mesin mobil yang
lembut.
Ehem .
Aheeekkk. Aran
berbatuk.
”Itu, rok kamu
apa gak kependekan.” kata aran dengan memegang telinga.
Tak ada jawaban.
Sama sekali. Airin hanya memandang keluar dari jendela menatap langgit.
”Pr kamu gimana.”
tanya Aran lagi. Sayang sekali Airin tak menjawabnya untuk ke dua kali.
Aran akhirnya,
menyerah dirinya membuat laju mobil mendadak. Airin memutar kepala kepada Aran
__ADS_1
yang terlihat kesal.
Airin terlihat
mengencangkan sabuk pengamannya dan memegang handel gagang karena lajunya aran memacu
mobil.
Tak butuh waktu
lama, untuk sampai di sekolah. Airin kala itu segera turun dari mobil dengan
wajah yang setengah kesal.
”Ada apa
denganya? Kalau mau cepat sampai sebaiknya dia terbang saja.” gerutu Airin.
Gadis itu berjalan cepat tanpa mengucapkan
apapun pada Aran.
Kesal
Kesal
Kesal
Sampai di kelas Airin
bertemu dengan Emma,
”Airin kamu
gimana keadaanya? Udah baikan.” tanya Emma memastikan.
”Ehem.” Airin
bersuara sekedarnya.
”Oh bentar, tugas
kamu yang kemarin udah selesai belum.” tanya Airin.
”Iya sudah.” kata
Emma. ”Kamu mau lihat.” lanjutnya.
”Iya nih, ada
beberapa yaang kurang aku pahami.” Setelah mendapatkan buku dari Emma, dirinya
segera masuk ke dalam kesal.
Mengamati dengan
sangat teliti, Airin bahkan benar benar tak melewatkan satu angka pun.
”Done.! Kata Airin
mengembalikan buku Emma.
”Udah.” Emma
__ADS_1
bertanya. Airin mengangguk pasti.