Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 16


__ADS_3

Malam semakin


larut, Aran beberapa kali menguap, layar ponselnya segera di nonaktifkan.


”Rin, sudah jam 12.” Aran tak dapat menahan kantuk yang menyerang matanya.


”Bapak tidur


saja.  Aku masih belum selesai.” Airin


masih terlihat fokus pada soal sekolahnya.


Aran melirik nya,


memang terlihat sangat serius. Tak mungkin meninggalkan nya seorang diri di


ruangan ini. Aran beranjak pergi tak lama dirinya kembali dengan selimut dan


bantal yang memenuhi tangannya.


Entah jam berapa Airin


selesai mengejarkan tugasnya, yang jelas setelah Aran bangun jam 5 dirinya tak


melihat ada Airin lagi.


Aran mengusap


wajahnya sedikit kasar kemudian segera bangun. Dan bersiap siap untuk kesekolah.


”Airin.” panggil Aran


dari balik pintu. Tak ada jawaban. Aran melangkah naik ke atas. Dirinya lebih


dulu bersiap. Setelah itu menyempatkan waktu untuk mengisi perut kala menunggu Airin


bangun.


”Airin kita punya


waktu 20 menit lagi.” aran memanggil di depan pintu berharap bocah itu segera


bangun. Setelah beberapa saat menunggu dan memanggilnya tak ada jawaban,


perlahan memutar handle pintu.


Gelap, kamar itu


teramat gelas. Aran kembali melihat layar ponselnya untuk menyelakan penerangan.


Melangkah mendekati ranjang Airin.


”Airin bangun.” Aran


masih mencoba memanggilnya dalam gelapnya ruangan.


”Bapak ngapain.” suara


yang menggagetkan itu membuat aran menarik nafas setelah tegang.


”airin, kenapa


lampunya gak di nyalain.”  langkahnya menuju

__ADS_1


saklar lampu, dekat pintu.


Tak ada jawaban. Aran memutuskan untuk keluar.


Beberapa saat


setelah kejadian itu Aran menggungu di luar dengan menahan cemas.


Sementara Airin


masih berada di kamar dengan sedikit bingung.


”Aku pakai rok


ini aja.” Airin memegang 2 macam rok yang sama dengan beda model. ”Uchh, ini


perut aku kenapa terasa sakit sih.” meringis sebentar kemudian segera berdiri.


Setelah


menentukanya dirinya terlihat sedikit kesulitan karena badan yang terlihat sedikit


turun, akibat kesedihan mungkin.


15 menit akhirnya


airin keluar dari kamar, dirinya berjalan dengan langsung mengabil sepatu tanpa


tali dan langsung memakainya.


Aran


memperhatikan penampilan Airin. Dengan tatapan mata di alihkan.


ayok.” ajak Aran kemudian.


Di perjalanan


semua terasa sunyi, tak ada yang terdengar selain suara mesin mobil yang


lembut.


Ehem .


Aheeekkk. Aran


berbatuk.


”Itu, rok kamu


apa gak kependekan.” kata aran dengan memegang telinga.


Tak ada jawaban.


Sama sekali. Airin hanya memandang keluar dari jendela menatap langgit.


”Pr kamu gimana.”


tanya Aran lagi. Sayang sekali Airin tak menjawabnya untuk ke dua kali.


Aran akhirnya,


menyerah dirinya membuat laju mobil mendadak. Airin memutar kepala kepada Aran

__ADS_1


yang terlihat kesal.


Airin terlihat


mengencangkan sabuk pengamannya dan memegang handel gagang karena lajunya aran memacu


mobil.


Tak butuh waktu


lama, untuk sampai di sekolah. Airin kala itu segera turun dari mobil dengan


wajah yang setengah kesal.


”Ada apa


denganya? Kalau mau cepat sampai sebaiknya dia terbang saja.” gerutu Airin.


Gadis itu berjalan cepat tanpa mengucapkan


apapun pada Aran.


Kesal


Kesal


Kesal


Sampai di kelas Airin


bertemu dengan Emma,


”Airin kamu


gimana keadaanya? Udah baikan.” tanya Emma memastikan.


”Ehem.” Airin


bersuara sekedarnya.


”Oh bentar, tugas


kamu yang kemarin udah selesai belum.” tanya Airin.


”Iya sudah.” kata


Emma. ”Kamu mau lihat.” lanjutnya.


”Iya nih, ada


beberapa yaang kurang aku pahami.” Setelah mendapatkan buku dari Emma, dirinya


segera masuk ke dalam kesal.


Mengamati dengan


sangat teliti, Airin bahkan benar benar tak melewatkan satu angka pun.


”Done.! Kata Airin


mengembalikan buku Emma.


”Udah.” Emma

__ADS_1


bertanya. Airin mengangguk pasti.


__ADS_2