
Tak lama suara Aran
terdengar memanggil. Airin masih tak berhenti tersenyum. Make up
tipisnya membuatnya yakin.
Aran menatap kala
Airin keluar dari kamar.
”Kau ada janji.” Airin
tersentak mendengar ucapan Aran. kebingungan. Kaku, merasa kecewa.
”Sebelum pergi
makan dulu, dikit aja gak apa apa.” Aran tersenyum, dan meletakan piring untuk
Airin.
Airin melangkah
kaku, bukankah seharusnya Aran tengah mempersiapkan makan malam romantis untuk
mereka berdua. Kenapa dia terlihat seperti biasanya, senyuman gadis itu
memudar.
”Kau ingin pergi
bersma siapa.” tanya Aran dengan memperhatikan Airin yang tetap diam, kemudian
bergerak kaku.
’Apa yang
sebenarnya aku harapkan? Bukankah ini juga adalah makan malam berdua. Kenapa rasanya
aku sedikit kecewa. Apanya yang harusnya berubah, bukankan kah setiap malam
kami makan malam berdua. Lantas apa yang sebenarnya aku harapkan.? Airin tak
bisa menahan air matanya.
Suara notif
ponselnya membuat gadis itu mengalihkan pandangnya.
”Ada apa.? Dengan
wajah kebbingungan Aran bertanya
Isak tangis
terdengar dari gadis itu, Aran segera berhenti makan kemudian mendekati nya dengan
rasa khawatir.
”Dia seharusnya
mengajakku pergi, namun tidak jadi.” Airin berkata dalam tangisnya yang sedih.
Aran merangkulnya dengan coba menenangkan. Sakit rasanya tak seindah ekspetasi.
Aran mencoba mengibur,
dengan tetap menepuk pundak dan kepalanya bergantian. Tangis nya berhenti
sekitar setengah jam dari sekarang. Aran menyuruhnya untuk tidur, tanpa harus
__ADS_1
memikirkan masalah hari ini. Gadis itu menurutinya.
Aran kembali
sibuk dengan leptopnya, mengetik dan melupakan masalah sekitar. Dirinya sempat
terfikir dengan Airin, yang merasa sedih namun pikir Aran itu adalah masalah
remaja yang biasa terjadi di usianya.
Airin masih
menangis di kamarnya, berada di bawah selimut membuatnya sedikit terhibur.
Hatinya sangat sedih, mengetahui kalau Aran tak mempersiapkan apapun. Bagaimana
bisa dirinya menyepelekan ulang tahun yang teramat spesial ini.
Hampir 2 jam Airin
menangis dalam kamarnya. Rasanya terlalu sakit sampai bernafas saja begitu
susah.
”Sekedar ucapan
saja dia tidak bilang.” suara Airin yang kecil namun terasa parauh.
Tangisnya mereda
namun matanya membengkak. Untung sekali besok adalah hari libur. Setidaknya dia
bisa berada di kamar seharian.
Malam ini adalah
kado terpahit dalam hidupnya.
airin mengumpat sebelum dirinya terlelap.
Ke esokan
paginya, Aran bangun lebih pagi setelah melakukan aktifitas biasanya. Sarapan
pagi adalah kebiasanya. Tak membagunkan Airin hari libur juga hal biasa
baginya. Maklum dia adalah anak remaja.
Hampir jam 10,
aran kembali duduk dengaan ponsel dan leptopnya mulai melakukan beberapa
laporan hasil belajar siswa. Matanya melirim ke arah pintu kamar airin.
”Apa dia tidak
merasa lapar. Rasanya tadi malam dia makan hanya sedikit.” Aran bergumam dengan
rasa sedikit khawatir.
Menunggu beberapa
saat, setelah memeriksa data dirinya kembali memasak di dapur, kemudian
membangunkan Airin.
”Airin, aku
membawakan mu makanan.” Aran mencoba membuka pintu kamarnya. ”Di kunci.” Aran
__ADS_1
mencoba menghubungi gadis itu.
Percobaan ke tiga
kali baru panggilanya terjawab.
”Pintunya buka.” Aran
terdengar dingin. Menunggu di balik pintu.
Dengan rasa
malas, kakinya melangkah, kemudian memutar handle pintu dan kembali masuk ke
dalam selimut.
Melihat pintu
terbuka sedikit Aran, berfikir Airin akan bicara padanya, namun menunggu
berapaa saat tak ada sapaan pagi yang di terima. Kakinya pun ikut melangkah
masuk ke dalam kamar dengan membawa sarapan Airin.
”Apa kau
manangisinya semalaman.” tanya Aran curiga. Selimut bagian kepala terlihat
bergerak. Dugaannya benar.
”Apa dia belum
mengirimkan pesan padamu.” Aran kembali bertanya. Airin menggeleng lagi.
”Dia tidak
mengatakan apa apa.” Aran semakin penasaran.
”Dia hanya
mengatakan hal yang tidak berguna.” Airin bicara dengan suara yang parau.
”Maaf aku tidak
pandai dalam hal seperti ini.” Aran mengehal nafas.
”Tiba waktunya
sekola, kau curhat sama temanmu. Mereka bisa memberikanmu solusi.” Araan
berkata yakin.
”Aku membawakan
mu jeruk hangat, dan makan sarapanmu. Semalam kau tidak banyak makan.”
mendengar itu Airin lagi lagi menggeleng tanpa semangat.
”Nanti malam apa
kau ada rencana.” Aran melirik kado yang berserakan. Airin menggeleng kuat.
”Aku akan pergi
menghadiri loanching restourant temanku! Kau bisa ikut, atau bersama dengan
temanmu, nanti acara selesai aku akan menjemputmu kembali.” Aran memberikan
pilihan yang membuat Airin duduk lesu.
__ADS_1
”Apa aku boleh ikut.” Airin memastikan, dengan langsung
menatap wajah Aran. Laki laki itu mengangguk pasti.