Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 31


__ADS_3

Tak lama suara Aran


terdengar memanggil. Airin masih tak berhenti tersenyum. Make up


tipisnya membuatnya yakin.


Aran menatap kala


Airin keluar dari kamar.


”Kau ada janji.” Airin


tersentak mendengar ucapan Aran. kebingungan. Kaku, merasa kecewa.


”Sebelum pergi


makan dulu, dikit aja gak apa apa.” Aran tersenyum, dan meletakan piring untuk


Airin.


Airin melangkah


kaku, bukankah seharusnya Aran tengah mempersiapkan makan malam romantis untuk


mereka berdua. Kenapa dia terlihat seperti biasanya, senyuman gadis itu


memudar.


”Kau ingin pergi


bersma siapa.” tanya Aran dengan memperhatikan Airin yang tetap diam, kemudian


bergerak kaku.


’Apa yang


sebenarnya aku harapkan? Bukankah ini juga adalah makan malam berdua. Kenapa rasanya


aku sedikit kecewa. Apanya yang harusnya berubah, bukankan kah setiap malam


kami makan malam berdua. Lantas apa yang sebenarnya aku harapkan.? Airin tak


bisa menahan air matanya.


Suara notif


ponselnya membuat gadis itu mengalihkan pandangnya.


”Ada apa.? Dengan


wajah kebbingungan Aran bertanya


Isak tangis


terdengar dari gadis itu, Aran segera berhenti makan kemudian mendekati nya dengan


rasa khawatir.


”Dia seharusnya


mengajakku pergi, namun tidak jadi.” Airin berkata dalam tangisnya yang sedih.


Aran merangkulnya dengan coba menenangkan. Sakit rasanya tak seindah ekspetasi.


Aran mencoba mengibur,


dengan tetap menepuk pundak dan kepalanya bergantian. Tangis nya berhenti


sekitar setengah jam dari sekarang. Aran menyuruhnya untuk tidur, tanpa harus

__ADS_1


memikirkan masalah hari ini. Gadis itu menurutinya.


Aran kembali


sibuk dengan leptopnya, mengetik dan melupakan masalah sekitar. Dirinya sempat


terfikir dengan Airin, yang merasa sedih namun pikir Aran itu adalah masalah


remaja yang biasa terjadi di usianya.


Airin masih


menangis di kamarnya, berada di bawah selimut membuatnya sedikit terhibur.


Hatinya sangat sedih, mengetahui kalau Aran tak mempersiapkan apapun. Bagaimana


bisa dirinya menyepelekan ulang tahun yang teramat spesial ini.


Hampir 2 jam Airin


menangis dalam kamarnya. Rasanya terlalu sakit sampai bernafas saja begitu


susah.


”Sekedar ucapan


saja dia tidak bilang.” suara Airin yang kecil namun terasa parauh.


Tangisnya mereda


namun matanya membengkak. Untung sekali besok adalah hari libur. Setidaknya dia


bisa berada di kamar seharian.


Malam ini adalah


kado terpahit dalam hidupnya.


airin mengumpat sebelum dirinya terlelap.


Ke esokan


paginya, Aran bangun lebih pagi setelah melakukan aktifitas biasanya. Sarapan


pagi adalah kebiasanya. Tak membagunkan Airin hari libur juga hal biasa


baginya. Maklum dia adalah anak remaja.


Hampir jam 10,


aran kembali duduk dengaan ponsel dan leptopnya mulai melakukan beberapa


laporan hasil belajar siswa. Matanya melirim ke arah pintu kamar airin.


”Apa dia tidak


merasa lapar. Rasanya tadi malam dia makan hanya sedikit.” Aran bergumam dengan


rasa sedikit khawatir.


Menunggu beberapa


saat, setelah memeriksa data dirinya kembali memasak di dapur, kemudian


membangunkan Airin.


”Airin, aku


membawakan mu makanan.” Aran mencoba membuka pintu kamarnya. ”Di kunci.” Aran

__ADS_1


mencoba menghubungi gadis itu.


Percobaan ke tiga


kali baru panggilanya terjawab.


”Pintunya buka.” Aran


terdengar dingin. Menunggu di balik pintu.


Dengan rasa


malas, kakinya melangkah, kemudian memutar handle pintu dan kembali masuk ke


dalam selimut.


Melihat pintu


terbuka sedikit Aran, berfikir Airin akan bicara padanya, namun menunggu


berapaa saat tak ada sapaan pagi yang di terima. Kakinya pun ikut melangkah


masuk ke dalam kamar dengan membawa sarapan Airin.


”Apa kau


manangisinya semalaman.” tanya Aran curiga. Selimut bagian kepala terlihat


bergerak. Dugaannya benar.


”Apa dia belum


mengirimkan pesan padamu.” Aran kembali bertanya. Airin menggeleng lagi.


”Dia tidak


mengatakan apa apa.” Aran semakin penasaran.


”Dia hanya


mengatakan hal yang tidak berguna.” Airin bicara dengan suara yang parau.


”Maaf aku tidak


pandai dalam hal seperti ini.” Aran mengehal nafas.


”Tiba waktunya


sekola, kau curhat sama temanmu. Mereka bisa memberikanmu solusi.” Araan


berkata yakin.


”Aku membawakan


mu jeruk hangat, dan makan sarapanmu. Semalam kau tidak banyak makan.”


mendengar itu Airin lagi lagi menggeleng tanpa semangat.


”Nanti malam apa


kau ada rencana.” Aran melirik kado yang berserakan. Airin menggeleng kuat.


”Aku akan pergi


menghadiri loanching restourant temanku! Kau bisa ikut, atau bersama dengan


temanmu, nanti acara selesai aku akan menjemputmu kembali.” Aran memberikan


pilihan yang membuat Airin duduk lesu.

__ADS_1


”Apa aku boleh  ikut.” Airin memastikan, dengan langsung


menatap wajah Aran. Laki laki itu mengangguk pasti.


__ADS_2