Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 79


__ADS_3

Sekolah barunya berbeda dengan sekolah lama, di sana mungkin sudah ada dokter jaga, karena sekolah swasta yang ternama, tak sama dengan yang sekarang. Ruangan UKS hanya menyediakan kotak P3K, tanpa bidan atau perawat jaga.


Melapor pada guru yang piket hanya membuat suasananya terasa runyam. Perasaan Airin sungguh tak nyaman, sudah merepotkan beberapa orang, tetapi dia sendiri juga sudah mencoba menahan rasa panas di kulitnya dengan bersusah payah.


Cuaca panas saja sudah membuat manusia normal mengelu, lalu bagaimana dengan Airin yang sedang merasakan ruam kepanasan di kulitnya. Tak bisa tahan lagi. Airin ingin segera menyiramkan air ke tubuhnya.


"Bawa aku ke kamar mandi saja." Airin dengan wajah yang setengah berkerut. Saka dan Hafsah saling menatap. Sepertinya mereka merasa kebinguan dengan perkataan Airin.


"Maaf, sebaiknya kamu tunggu seseorang menjemput mu saja, aku menelfon bapakmu." Kata Hafsah mengembalikan ponsel Airin.


"Saka, sebaiknya kamu kembali ke kelas saja, aku akan menemani Airin di sini." Hafsah mencoba segala cara agar Airin merasa sejuk.


Buku yang mulai melayang di udara hingga angin nya terasa menyapu ke tubuh Airin. Sorot mata Airin sedikit tak nyaman. "Kau tak perlu melakukanya." Airin menghentikan gerakan tangan Hafsah.


"Tidak apa apa." Hafsah menyingkirkan tangan Airin. Namun lagi lagi dia tetap menolak kebaikan teman nya.


"Persedian mu akan terasa keram." Airin mengambil buku di tangan Hafsah. Itu terlihat kasar.


Suasananya terasa canggung, Hfasah merasa terlalu gegabah. Sementara Saka hanya diam.


"Kalian bisa kembali ke kelas saja. Ini tidak akan lama." Katanya dengaan perasaan tak enak. Tahu salah kerana tindakannya berlebihan.

__ADS_1


Saka menarik pergelangan Hafsah. Namun gadis itu tertahan. Kakinya menginjak lebih dalam dan terpaku.


"Aku tidak bisa meninggalkan mu dengan keadaan seperti ini." Hafsah menarik tanganya dari Saka. "Aku akan menunggu sampai walimu datang." Tak bergeming. Wajah serius itu duduk dengan canggung.


"Aku tidak akan ikut campur dengan urusan perempuan. Kalian terlalu merepotkan jika harus di mengerti." Wajah serius itu, melangkah keluar dari UKS.


Kini tinggal Airin dan Hafsah. Keduanya diam dan hanya suara jjam dinding yang menjadi penengan diantara keduanya. Hafsah merasa penasaran setelah melihat wallpaper ponsell Airin, namun bukan hak nya jika harus meminta penjelasan dari pemiliknya.


Sementara Airin terllihat engan atau memang tak mau menjelaskan apapun pada teman barunya itu. Sampai Aran datang dengan cemas, bersama dengan seorang guru piket ke ruangan UKS.


"Hafsah, di mana siswa baru yang sakit itu." Kata gurunya bertanya ketika masuk di ruangan uks.


"Dia tertidur bu." Katanya berjelan mendekati rajang baring yang berukuran tubuh siswa.


"Saya perlu izin untuk sekolahnya hari ini, Airin akan saya bawa kerumah sakit. Jadi surat dari dokternya akan menyusul." Aran mengangkat tubuh Airin yang teah basah dengan keringat.


"Maaf, Airin di rawat di rumah sakit mana, biar setelah pulang sekolah saya bisa menjenguknya." Hafsah bicara dengan sangat sopan.


"Di rumah sakit bandung utama." Wajah Aran terllihat cemas, dengan otot lengan yang menonjol. Mereka pergi menjauh dengan langkah yang sempurna.


Hafsah masih menatap kepergian langkah tanpa berkedip, sampai menghilang diantara tembok pemisah.

__ADS_1


Aran memacu mobil, membelah jalanan yang teramat ramai. Dengan kecepatan yang cepat perjalanan mereka terasa singkat. Airin bukanya tidur, tapi sudah pinsan. " Sejak kapan dia tidak sadarkan diri." Aran seolah memprotes keadaan dan waktu secara bersamaan.


Pikiranya di penuhi dengan rasa bersalah. Gadisnya pasti sangat tersiksa.


Tadi pagi, Aran bangun sekitar pukul 06: 20 lewat. Dia tersadar, menatap langit rumah sejenak, kemudian berjalan dengan rasa enggan ke dalam kamar.


Kejadian waktu itu memang membuatnya menjadi egois, sekaligus rasa bersalah. Bersikap kasar pada Airin, hingga gadis itu merasa ketakutan. Sadar dengan hal itu, Aran pun merasa ragu kalau harus bebicara, entah bagaimana memulai permintaan maaf.


Sampai kemudian merasa tak pantas untuk bersama dengan Airin, dirinya akan lebih rela melepaskan gadis itu, walaupun dia akan merasa sakit dengan perasaan nya yang penuh dengan kebingungan.


Aran sangat sadar, dia sudah keterlaluan, terlebih Anna memberi pengertian padanya untuk segera meminta maaf pada Airin. Berfikir dengan perasaan yang salah, Aran berniat memperbaiki hubungannya dengan Airin pagi ini. Sayang sekali, niatnya tertunda.


Aran membuka pintu kamar, di sana tak menemukan Airin, cukup kaget dan penasaran kemana Airin sepagi ini. Mencari sekitar, sayang sekali tetap tak menemukanya.


Dugaan memang tak meleset. Airin menghindar darinya. Ini juga memang salahnya, sebab dia yang memulai. Pagi yang rapuh, menambah rasa bersalah Aran ketika mendapat panggilan dari Airin.


Wajahnya tersenyum senang, sesaat berubah gelisah dengan rasa panik yang hebat.


"Selamat pagi, Saya teman Airin. Hafsah, sekarang anak bapak sedang alergi, semua badanya muncull ruam dan bengkak. Sekarang dia berada di UKS, saya akan menemaninya sampai bapak datang." Jelas suara Hfasah dari balik ponsel.


Merayap dengan langkah panik, gelisah jangan di tanya. Aran segera menuju ke sekolahnya. Di hantam berbagai pertanyaan di kepanya sendiri. "Apakah ini akibat ulahnya, hampir nyawa gadis itu melayang." Cengkraman tangan yang kekar itu seakan dapat mematahkan setir mobil yang besi yang terbungkus kulit empuk.

__ADS_1


Jangan lupa like dan coemtarnya


__ADS_2