Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 80


__ADS_3

Menunggu dengan tenang, namun perasaan cemas nya tetap terlihat dari rahang yang mengeras. Sorot matanya kosong, bola mata itu seolah akan menghancurkan pintu yang tengah di tatap nya.


Rasa khawatirnya terlampau besar terhadap Airin. Sekarang hanya bisa menunggu dengan bosan kesadaran gadis itu. Beberapa kali berdecak kesal dengan perasaan malas.


Apakah kesabaranya di ambang batas, sikapnya cukup berubah sejak kajadian itu. Wajah nya yang meneduhkan tak lagi terlihat. Daun pintu itu berayun terbuka. Dokter dengan pakaian putihnya keluar dari dalam dengan wajah yang cukup mengkhawatirkan.


Aran berdiri, seakan menyambut langkah orang yang telah memeriksa istrinya. Tatapan mereka beradu.


 Perlahan bibir itu mulai bergerak. Dokter mengatakan sesuatu. "Dia mengalami anakfilaksis, kemungkinan tekanan darah menurun secara dratis." Jelasnya yakin. " Jadi hilang kesadaran, beruntung masih tertolong." Lanjutnya.

__ADS_1


Perkataanya masih berlajut penjelasan. Aran mendengarkan dengan seksama. Berfikir apakah karena ulahnya, namun kembali mengingat lantai yang sempat di pijaknya tadi pagi terasa hangat, sementara tempat tidur yang tidak rapi itu terasa dingin. Aran mulai menduga.


Dokter mengatakan kalau Airin akan sadar dalam beberapa jam, setellah di masukan obat kedalam cairan infus. Aran duduk di sofa terus menatap gadisnya dengan sorot mata yang tajam.


Kakinya saling bertaut, wajah tegang dengan kepanikan di dahinya. Menyesap aroma disenfektan dengan terpaksa. "Apa dia lebih suka tidur, atau mau pinsan sih." Aran terdengar menggerutu.


Langit hampir gelap, Cuaca nya cukup dingin, tanganya meraih remot ac kemudian mengatur suhu yang terbaik demi gadisnya. Ini memang sunyi, namun rumah tetap tempat ternyaman.


"Apa kau sudah berniat bangun." Aran merendahkan suaranya. Tak terdengar lembut namun rendah. Airin memeinkan dengan asing bola matanya. Ingatanya terakhir yang menyapa saat keberadaan nya di ruangan UKS dengan ranjang seukuran tubuh siswa.

__ADS_1


Airin memallingkan wajahnya, ke samping. Seolah itu adalah penolakan atas kekejaman ucapan Aran tadi malam. 'Untuk apa dia peduli.' Mulutnya terkatup ingin berkata. 'Berakhir di ceraikan, apa perlu memberi kesan baik.'   Tetap tenang dengan mengumpat di balik bibirnya.


Aran tak terima dengan penolakan berpaling nya wajah Airin. Memegang ujung dagu dengan lembut namun penuh tekanan. "Apa kau sedang menghukum diri." Aran bertanya hingga masuk kedalam mata Airin yang terlihat kesal. "Aku senang kau belum dewasa." Perkataan berakhir tawa sebentar.


"Bapak bisa pulang saja." Keberanian yang dia dapatkan dari menggigit bibirnya sendiri, Mengucapkan kalimat seolah tak peduli pada kehadiranya saat ini. "Terimakasih karena sudah peduli, aku menghargainya." Itu bentuk rasa kecewa, namun Aran mendengarnya seolah ingin tertawa.


"Sejak aku mengatakan nama Zaka, kau terdengar menjadi lebih keras. Apa memang sebegitu besar perasaan mu saat bersamanya." Kalimat yang sulit di mengerti Airin membuatnya hanya memandang penuh kebingungan tanpa niat bertanya. Aran salah menanggapinya, menganggap diamnya Airin adalah jawaban yang telak dari benarnya pertanyaan Aran.


Rasa kecewanya, membuat tatapan yang tadinya tajam, berubah sayu, Genggaman tangan nya mulai terasa sakit. Haruskah dia berteriak, rasa takutnya meningkat. Apakah orang yang bersamanya saat ini adalah benar manusia?

__ADS_1


Oh itu terlalu menyakitkan Nona Airin.


__ADS_2