
"Apa apaan sih Shena itu." Aran menggerutu kesal.
Kepikiran dengan ucapan Ghana. " Apa aku ke ruangan TU beneran aja." Aran melangkah ragu.
"Mungkin di sana ada petunjuk." Berjalan sambil berfikir.
Sementara itu di lain tempat Airin tengah berada cafe.
"Kamu sendiri aja." Tanya Endi, selaku pemillik cafe. "Aran kemana."
Mellirik sebentar. ' Oh iya, aku tadi kepikiran tempat ini! Gak sadar kalau ini cafe milik teman pak Aran.' Mulai teringat.
"Pak Aran ngajar soal, aku lagi masa libur." Wajahnya terlihat murung.
Lebih tepatnya Airin diskorsing hanya 3 hari namun sudah seminggu tidak masuk sekolah.
"Kamu ini imut banget yah." Endi memperhatikan dengan intens. "Berunntung banget si Aran bisa lihat kamu tiap hari." Endi terus memandang Airin.
"Ka Endi temanan sama Pak Aran udah lama yah." Airin merasa kepo.
"Dari awal masuk kuliah sih." Mulai menceritakan kebiasaan Aran.
"Aran tuh cukup populer di campus, dia kan tinggi jarang ngomong kalau sama cewe, tapi beda kalau sama Adinda." Endi tertawa ketika membicarakan soal Adinda.
"Adinda siapa nya pak Aran." dengan wajah yang kaku Airin bertanya.
__ADS_1
"Adinda tuh satu satunya cewek yang dekat sama Aran, dia gak populer sih di sekolah, tapi lumayan cantik juga, cuman gak ada yang tahu, sebenarnya mereka pacaran atau tidak." Endi membericarakan dengan cukup malas.
"Kamu sering sering donk ke sini." Seseorang datang menghampiri mereka.
Kalimat Endi membuat Airin terus datang ke cafenya. Di sana dirinya bisa bercerita bebas.
Bahkan merasa di perhatikan. Beberapa kali kesana sampai dirinya bertemu dengan Zaka.
"Hy Airin, ini puding spesia buat kamu. Kebetulan Zaka bakal mampir gak apa apa kan." tanpa merasa keberatan Airin juga menyambut sahabat Aran itu.
"Aku mampir sebentar pesan kopi, karena begadang setelah oprasi 3 jam rasanya ngantuk banget." Zaka dengan pakaian dokternya duduk di samping Airin.
"Ini kakak minum punya aku aja, kebetulan ini jjuga kopi." menyodorkan minuman yang baru saja diantarkan pelayan.
"Kalau kaka mau, ini sekalian pudingnya." Airin sedikit canggung untuk beberapa saat, namun setelahnya tidak llagi sebab Endi, dan Zaka sangat asik di ajak bercerita.
Mereka asik ngobrol sampai tak terasa waktunya sudah mau gelap.
"Pulangnya aku antar aja." Zaka menawarkan permintaan.
"Emang gak ngerepotin, kali aja kaka buru buru ke rumah sakit." Airin merasa tidak enak.
"Enggak, kamu abis ini masih mau kemana." Zaka cukup pengertian.
"Gak ada tuuan sih, emang mau angsung pulang aja." Kata Airin.
__ADS_1
Keduanya pamit pada Endi.
Zaka memasangkan sit bell, pada Airin.
"Eh, kaka aku bisa sendiri." Merasa kaget.
"Kuku jari kamu kan baru sembuh, kalau gak sengaja kejepit lainya bisa bahaya." Zaka ini benar benar perhatian.
"Besok kamu chat kaka aja kalau pengen cerita." perjalanan mereka bicara banyak hal. Tak terasa waktu mendekati rumah Airin dengan tersenyum lebar.
"Kaka terimasih sudah anterin aku, nanti aku DM llewat ig aja." Katanya sebelum masuk.
Aran melihat dari balkon kamar.
Beberapa hari ini Airin selalu pergi pagi, bahkan hampirĀ tak bicara denganya.
Padahal Aran tengah membersihkan namanya dengan mencari cara.
Sementara gadis itu hanya asik keluyuran entah kemana.
Aran kamu harus bagaimana lagi!
Jangan lupa like dan comen
Kik favorite yah
__ADS_1