Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 29


__ADS_3

Sampai malam tiba,


Aran yang masih setia berada di ruang tv, beberapa aktifitas di lakukanya, berharap


papasan dengan Airin, saat keluar dari kamar. Namun sampai jam 9 malam gadis


itu belum juga keluar. Lirikan Aran, yang berkali kali menatap pintu dengan  jenuh telah melewati rasa bosan.


Masakan untuk Airin,


dari sore sampai malamnya harus Aran, santap sendiri karena gadis itu tak


kunjung keluar.


Sedikit merasa


aneh, langkahnya menuju ke kamar Airin.  ”Airin.”


panggil Aran sedikit mengetuk pintu kamarnya.


”Kamu belum makan


lho.” kata Aran dengan suara tenang.


Tak ada jawaban,


telinganya rapat di daun pintu. Aran menghubunginya memalui ponsel. Tak lama


pintunya terbuka, Airin masih tak menunjukan dirinya.


”Aku baru bangun,


bapak makan saja lebih dulu.” suara Airin terdengar kecil dan serak.


”Bersiaplah, aku


akan menunggu kita makan bersama.”  ucapan


Aran mendapat respon yang lambat dari Airin. ’hm’ Aran berfikir Airin sakit


tenggorokan.


Aran masih dengan


ponselnya menunggu di meja makan sederhana itu. Wajahnya terlihat murung, Aran


menatapnya dengan sedikit cemas ketika gadis itu keluar dari kamarnya.


”Apa kau baik


baik saja.” Aran terus memperhatikan Airin. Gadis itu mengangguk pelan, makanya


pun tak semangat dengan sesekali melirik Aran.


”Lain kali kalau


pulang bersama temanmu, harus kabari aku dulu.” Aran mulai membahas soal


tadi. Airin mengangguk.


”Apa kalian sudah,


janji jauh hari.”  Tanya Aran terlihat


penasaran. Airin menggeleng lesu.


”Kenapa tidak


memberi tahu.” Aran sedikit bernada keras namun tetap sopan.


”Aku tidak ingin


mengacaukan pertemuanmu.” Airin dengan lesu berkata.  Aran sedikit berfikir keras.


”Makan dulu,

__ADS_1


setelah ini kerjakan soalmu.” masih memikirkan ucapan Airin.


Setelah


membersihkan meja makan, Aran kembali ke sofa depan tv. Di mana Airin tengan


mengerjakan beberapa soal dengan menyandarkan kepalanya di meja. Melangkah dengan


sedikit senyuman.


”Apakah soalnya


sulit.” tanya Aran melihat Airin hanya mencoret malas. Bukannya menjawab dengan


suara kali ini Airin hanya menggoyangkan pena di tanganya.


”Hei, ada apa


denganmu.” Aran mulai sedikit jail dengan mengambil pena di tangan Airin. Gadis


itu segera duduk tegap dan menatap Aran kesal.


Aran dengan wajah


masa bodoh. ”Kembalikan.” kata Airin dengan tangan meminta.


”Enggak.” kata Aran


kembali sibuk dengan letopnya. Airin berdiri di hadapan Aran. Gadis itu mencoba


meraihnya, kala Aran menjauhkanya. Namun keduanya malah saling berpelukan di


mana Airin jatuh tepat di atas tubuh Aran yang tengah menggenggam pena.


Tatapan mereka


bertemu lagi kali ini, Aran tak memalingkan  matanya.


”Ada apa


denganmu.” Aran bertanya dengan menatap ke dalam sorot mata Airin. Gadis itu


memberikanya namun Airin harus duduk di sampingnya.


”Aku menyukai


seseorang, namun ternyata dia menyukai temanku.” Airin berkata bohong dengan


wajah serius, layaknya orang patah hati.


”Apa kau ingin


berpacaran.” Aran sedikit kaget dengan pernyataan Airin.


”Apa itu salah.” Airin berkata dengan bingung.


”Aku baru


menyukainya beberapa hari ini. Tapi dia bilang tidak suka padaku. Dia lebih


menyukai yang dewasa.” tak bisa menghentikan air matanya. Gadis itu menangis. Perkataan


Airin membuat laki laki itu kaget dan tak percaya, walaupun tetap


mendengarkanya.


”Remaja sepertimu


memang sedang dalam fase yang cepat jatuh cinta. Mungkin perlu buat dia nyaman,


apa kau langsung menyatakan perasaanmu padanya.” Aran sedikit mengulik.


”Tidak, tapi aku


merasa seharusnya dia tahu.” Airin berkata yakin.

__ADS_1


”Seharusnya


begitu. Tapi penampilan sepertinya tak terlalu penting selagi kau cerdas.” Kalimat


Aran memberi arahan.


”Tapi semua


wanita ingin kelihatan cantik, dan dewasa.” Airin dengan nada yang melemah.


”Kalau begitu


cepatlah dewasa dan kejar impianmu.” Aran mengacak rambut Airin perlahan.


Airin berfikir sejenak.


Kemudian merasa penasaran.


”Em.” dengan


suara yang ragu ragu. ” Apa bapak suka dengan penampilan bu Shena, secara dia


gadis yang dewasa dan pintar.” Airin dengan bola mata yang liar mulai


memberanikan diri.


”Shena, kalau aku


bukan suami mu, mungkin tidak.” Aran sedikit tersenyum, padahal Airin mulai mendengarkan


dengan fokus.


”Shena dewasa,


namun tidak semua laki laki menyukai yang seperti itu. Aku secara  pribadi tidak tertarik denganya.” Aran


berkata dengan mengetik di leptopnya. Wajah Airin yang sayu tadi kemana


perginya. Kini matanya berbinar binar dengan rona wajah.


”Kenapa tidak.”


Tak puas dari jawaban Aran.


Aran tertawa


sebentar. ”Kamu akan paham kalau udah waktunya.” kali ini Aran terdengar mengagumkan.


”Baiklah, mulai


saat ini aku akan berusaha untuk membuktikanya. Aku akan menjadi wanita dewasa


dan cerdas yang bisa membuatnya senang dan bahagia. Semangat.” kata Airin


dengan suasana hati yang bahagian, semangat yang keluar dengan membara.


”Semangat.” Aran


tersenyum dengan mengikuti gerakan tangan Airin.


’Mulai saat ini


akan aku pastikan bahwa akulah yang akan bersama dengan pak Aran. Aku akan


mengejar cintanya, akan aku paksa dia mencintaiku dengan segenap hatiku. Aku hanya


harus pikirkan bagaimana dia bahagia bersama ku.” Airin dengan semangat dalam


hati berjanji pada dirinya sendiri.


Hal itu


membawanya hingga naik kelas 2 SMA masih dengan tekad yang sama dirinya kini


bertambah dewasa namun masih dengan penampilan sama. Tiap bangun pagi Aran

__ADS_1


selalu berada di hadapannya, dengan menu makanan yang lezat. Kenikmatan mana


lagi yang harus di ragukan kala lelaki tampan menjadi penyegar mata.


__ADS_2