
Sampai malam tiba,
Aran yang masih setia berada di ruang tv, beberapa aktifitas di lakukanya, berharap
papasan dengan Airin, saat keluar dari kamar. Namun sampai jam 9 malam gadis
itu belum juga keluar. Lirikan Aran, yang berkali kali menatap pintu dengan jenuh telah melewati rasa bosan.
Masakan untuk Airin,
dari sore sampai malamnya harus Aran, santap sendiri karena gadis itu tak
kunjung keluar.
Sedikit merasa
aneh, langkahnya menuju ke kamar Airin. ”Airin.”
panggil Aran sedikit mengetuk pintu kamarnya.
”Kamu belum makan
lho.” kata Aran dengan suara tenang.
Tak ada jawaban,
telinganya rapat di daun pintu. Aran menghubunginya memalui ponsel. Tak lama
pintunya terbuka, Airin masih tak menunjukan dirinya.
”Aku baru bangun,
bapak makan saja lebih dulu.” suara Airin terdengar kecil dan serak.
”Bersiaplah, aku
akan menunggu kita makan bersama.” ucapan
Aran mendapat respon yang lambat dari Airin. ’hm’ Aran berfikir Airin sakit
tenggorokan.
Aran masih dengan
ponselnya menunggu di meja makan sederhana itu. Wajahnya terlihat murung, Aran
menatapnya dengan sedikit cemas ketika gadis itu keluar dari kamarnya.
”Apa kau baik
baik saja.” Aran terus memperhatikan Airin. Gadis itu mengangguk pelan, makanya
pun tak semangat dengan sesekali melirik Aran.
”Lain kali kalau
pulang bersama temanmu, harus kabari aku dulu.” Aran mulai membahas soal
tadi. Airin mengangguk.
”Apa kalian sudah,
janji jauh hari.” Tanya Aran terlihat
penasaran. Airin menggeleng lesu.
”Kenapa tidak
memberi tahu.” Aran sedikit bernada keras namun tetap sopan.
”Aku tidak ingin
mengacaukan pertemuanmu.” Airin dengan lesu berkata. Aran sedikit berfikir keras.
”Makan dulu,
__ADS_1
setelah ini kerjakan soalmu.” masih memikirkan ucapan Airin.
Setelah
membersihkan meja makan, Aran kembali ke sofa depan tv. Di mana Airin tengan
mengerjakan beberapa soal dengan menyandarkan kepalanya di meja. Melangkah dengan
sedikit senyuman.
”Apakah soalnya
sulit.” tanya Aran melihat Airin hanya mencoret malas. Bukannya menjawab dengan
suara kali ini Airin hanya menggoyangkan pena di tanganya.
”Hei, ada apa
denganmu.” Aran mulai sedikit jail dengan mengambil pena di tangan Airin. Gadis
itu segera duduk tegap dan menatap Aran kesal.
Aran dengan wajah
masa bodoh. ”Kembalikan.” kata Airin dengan tangan meminta.
”Enggak.” kata Aran
kembali sibuk dengan letopnya. Airin berdiri di hadapan Aran. Gadis itu mencoba
meraihnya, kala Aran menjauhkanya. Namun keduanya malah saling berpelukan di
mana Airin jatuh tepat di atas tubuh Aran yang tengah menggenggam pena.
Tatapan mereka
bertemu lagi kali ini, Aran tak memalingkan matanya.
”Ada apa
denganmu.” Aran bertanya dengan menatap ke dalam sorot mata Airin. Gadis itu
memberikanya namun Airin harus duduk di sampingnya.
”Aku menyukai
seseorang, namun ternyata dia menyukai temanku.” Airin berkata bohong dengan
wajah serius, layaknya orang patah hati.
”Apa kau ingin
berpacaran.” Aran sedikit kaget dengan pernyataan Airin.
”Apa itu salah.” Airin berkata dengan bingung.
”Aku baru
menyukainya beberapa hari ini. Tapi dia bilang tidak suka padaku. Dia lebih
menyukai yang dewasa.” tak bisa menghentikan air matanya. Gadis itu menangis. Perkataan
Airin membuat laki laki itu kaget dan tak percaya, walaupun tetap
mendengarkanya.
”Remaja sepertimu
memang sedang dalam fase yang cepat jatuh cinta. Mungkin perlu buat dia nyaman,
apa kau langsung menyatakan perasaanmu padanya.” Aran sedikit mengulik.
”Tidak, tapi aku
merasa seharusnya dia tahu.” Airin berkata yakin.
__ADS_1
”Seharusnya
begitu. Tapi penampilan sepertinya tak terlalu penting selagi kau cerdas.” Kalimat
Aran memberi arahan.
”Tapi semua
wanita ingin kelihatan cantik, dan dewasa.” Airin dengan nada yang melemah.
”Kalau begitu
cepatlah dewasa dan kejar impianmu.” Aran mengacak rambut Airin perlahan.
Airin berfikir sejenak.
Kemudian merasa penasaran.
”Em.” dengan
suara yang ragu ragu. ” Apa bapak suka dengan penampilan bu Shena, secara dia
gadis yang dewasa dan pintar.” Airin dengan bola mata yang liar mulai
memberanikan diri.
”Shena, kalau aku
bukan suami mu, mungkin tidak.” Aran sedikit tersenyum, padahal Airin mulai mendengarkan
dengan fokus.
”Shena dewasa,
namun tidak semua laki laki menyukai yang seperti itu. Aku secara pribadi tidak tertarik denganya.” Aran
berkata dengan mengetik di leptopnya. Wajah Airin yang sayu tadi kemana
perginya. Kini matanya berbinar binar dengan rona wajah.
”Kenapa tidak.”
Tak puas dari jawaban Aran.
Aran tertawa
sebentar. ”Kamu akan paham kalau udah waktunya.” kali ini Aran terdengar mengagumkan.
”Baiklah, mulai
saat ini aku akan berusaha untuk membuktikanya. Aku akan menjadi wanita dewasa
dan cerdas yang bisa membuatnya senang dan bahagia. Semangat.” kata Airin
dengan suasana hati yang bahagian, semangat yang keluar dengan membara.
”Semangat.” Aran
tersenyum dengan mengikuti gerakan tangan Airin.
’Mulai saat ini
akan aku pastikan bahwa akulah yang akan bersama dengan pak Aran. Aku akan
mengejar cintanya, akan aku paksa dia mencintaiku dengan segenap hatiku. Aku hanya
harus pikirkan bagaimana dia bahagia bersama ku.” Airin dengan semangat dalam
hati berjanji pada dirinya sendiri.
Hal itu
membawanya hingga naik kelas 2 SMA masih dengan tekad yang sama dirinya kini
bertambah dewasa namun masih dengan penampilan sama. Tiap bangun pagi Aran
__ADS_1
selalu berada di hadapannya, dengan menu makanan yang lezat. Kenikmatan mana
lagi yang harus di ragukan kala lelaki tampan menjadi penyegar mata.