Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 27


__ADS_3

Menjelang petang, Reno baru mengajak pulang. Baju Airin penuh dengan noda dari air buah strobery


yang ia makan.


”Sudah mau malam. Nanti kalau ada waktu kita kembali ke kebun buah yang lain.” kata Reno berjanji. Setelah mereka tiba di depan rumah Aran. Airin mengganguk. Sebelum benar benarnmasuk ke rumah Reno, turun dari motor dan memberikan Airin 1 keranjang penuh buah strobery.


”Kenapa memberikanku sebanyak ini. Aku sudah makan dengan puas tadi.” kata Airin mengembalikan


keranjang berisi buah stroberi.


”Untuk kamu aja.” kata Reno melangkah mundur. ”Sampaikan salam ku sama tante dan om.” Reno menancap gas motornya pergi. Airin kemudian berjalan masuk dengan melihat isi keranjang strobery yang sangat banyak.


Di depan pintu ada Aran yang terlihat menunggunya dengan berdiri tegap. Airin berjalan cepat menghampirinya.


”Bapak tibanya jam berapa.” tanya Airin kembali memasukan buah ke dalam mulutnya. Aran membungkuk menyamakan tingginya.


”Kau pergi denganya kenapa tidak mengabariku.” Aran menatap dalam.


”Ah itu, aku rasa tidak perlu.” jawab Airin tanpa berfikir. Aran kembali berdiri tegap.


Memperhatikan baju Airin yang penuh bercak air stobery.


”Bapak mau.” Airin memberikanya dengan menodorkan keranjang. Aran menggelang. Gadis itu kembali


memasukanya ke dalam mulutnya. Dirinya berjalan masuk mendahulai Aran.


Aran mencoba menghembuskan nafasnya kasar, kemudia mengikuti Airin berjalan masuk dan menggengam tanganya membawanya menuju kamar.


”Airin gimana jalan jalanya.” Sean bertanya ketika melihat keduanya.

__ADS_1


”Seru.” kata Airin tersenyum dengan mulut penuh dan memperlihatkan ibu jarinya.


Suara Sean kembali terdengar melihat bagaimana eksperis Aran yang tengah menatapnya.


Dengan merangkul Airin. Segera mennghilang dari pandangan Sean.


”Kamu pergi mandi gih.” Aran mengambil keranjang stobery. ”Aku akn membersikahnya lebih dulu.” Aran


keluar dengan menenteng keranjang.


”Mamah tahu kamu kecewa. Tapi dia masih remaja.” Anna mendekat kala melihat Aran berjalan ke dapur. Nafasnya di hembuskan kasar, dengan tetap memcuci buah stroberinya.


”Bagaimana dengan Adinda. Kalian bertemu.” Anna terlihat penasaran. Walaupun sudah mendengar cerita  dari Sean, namun ingin dengar versi Aran.


”Mah, aku sama Adinda gak ada hubungan apa apa.” meski suara Aran bernada lembut namun bisa di rasakan kalau ada rasa risih di sana.


”Airin muntah munta.” teriak Sean saat mendeket pada mereka. Dengan wajah cemas. Aran segera berlari cepat menuju kamar.


”Pak apa aku akan mati.” ucapan AAirin kembali membuat Sean tertawa kecil. Lagi lagi Anna mecubit kulit perutnya agar diam.


”Kerumah sakit yah.” kata Aran dengan cekatan menggendong Airin.


Mereka semua ke rumah sakit, membawa Airin. Setelah di periksa ternyata Airin mengalami gejala bulimia. Memaksakan makan dalam porsi banyak sehingga lambungnya menjadi terlalu penuh.


Mendengar penjelasan dokter membuat Aran harus mengatur porsi makanya. Tak boleh makan dalam keadan sangat lapar dan harus berhenti makan sebelum terlalu kenyang.


Aran yang akan menjaga Airin, setelah menyuruh mamah, papah dan Sean kembali. Tinggallah Aran dan Airin dalam kamar pasien.


Bahkan Aran terlelap setelah beberap saat. Sementara Airin yang baru saja sadar setelah di berikan obat waktu tibanya.

__ADS_1


Airin membuka matanya, menatap langit langit kamar yang terasa asing.  Mencoba bangun, tangannya berada dalam genggaman Aran. Seketika gerakannya kaku.


Airin ingat betapa paniknya wajah Aran ketika melihatnya muntah, bahkan sampai di rumah sakit. Mengingat bagaimana Aran mengendongnya membuat Airin tersenyum malu.


”Huaaaahh rasanya jantungku akan melompat keluar.” sebelah tangan Airin memegang dadanya. Matanya melirik nakal pada Aran yang terlelap.


Ingatanya membawan nya kembali di mana pertemuanya dengan Aran saat bersama Wilson. Di tambah mereka baru pertama kali bertemu langsung menikah. Aran yang merawatnya ketika sakit, di mana mereka memasak bersama, makan bersama, dan belajar bersama, di mana menelfon dengan pelukan, kemudian perjalan ke Bandung dan sampai di puncak kemarin. Hal itu membuat Airin sadar dirinya nyaman ketika berada di samping Aran. Airin mulai menyukai lelaki yang sedang menjadi suaminya itu.


Airin mencoba menyingkirkan benang yang ada di rambut Aran. Gerakanya membuat laki laki itu terbangun. Airin yang keget segera menjatuhkan tanganya dan menutup mata.


Aran mengedipkan matanya beberapa kali. Sebelum dirinya kembali memeriksa Airin. Pengelihatan Aran nafas Airin tak beraturan. Laki laki sedikit cemas kemudian mencoba mendekat untuk memastikan.


Airin yang merasa aneh dan penasaran kenapa menjadi redup mencoba membuka matanya perlahan.


Bam, tatapan mereka bertemu untuk yang ke tiga kalinya. yang ini cukup lama, sebelum pipi Airin merona.


”Butuh sesuatu.” mereka hampir tak ada jarak. ”Apa merasa sesak.” Aran dengan wajah cemas dan semakin perhatian.


”Ah, aku mau minum.” kata Airin segera mengalihkan tatapnya. Aran mengambilkanya. Dengan lirikkan malu malu Airin minum.


”Kapan aku bisa keluar pak.” tanya Airin dengan suara lembut.


”Besok pagi.”  Aran menarik botol air, di saat Airin masih minum dengan sedotan. Sorot mata Airin menjadi kaku.


Ke esokan pagi nya setelah kembali ke rumah, Aran membereskan barangnya dan Airin.


”Jangan sampai ada yang tertinggal.” kata Aran selesai memasukan semua bajunya. Airin masih mencari bonekanya.


”Apa bapak lihat boneka ku.” Airin mendekat dengan gelisa. Aran mencoba mengingatnya.

__ADS_1


”Nanti aku tanya mamah.” Aran keluar mencari ibunya.


__ADS_2