
Airin berlari dengan rasa senang berjalan menuju ruangan Aran. Semakin dekat jarak nya semakin lambat langkah kaki nya.
Menatap dirinya dari kaca transparaan, merasa penampilanya oke lanjut masuk ke dalam ruangan,
Samar samar terdengar, suara yang saling berbicara. Airin mencoba mendengar dari balik daun pintu.
Suaranya tak terlalu jelas, Airin menyerah.
Tak lama seseorang keluar wanita keluar dari ruangan itu. Pertama kalinya mereka bertemu.
Pakaianya tak terlihat sebagai guru atau pegawai lainya di sekolah.
Airin masuk ke ruangan dengan tersenyum ceriah.
"Bapak hari ini lembur." Airin duduk dengan pandangan mata liar.
"Enggak." membereskan beberapa buku di atas meja. "Mau langsung pulang." Tawaranya di anggukan Airin.
Mereka memacu laju mobil dengan kecepatan sedang, di sana Aran teringat dengan kalimat Airin kemarin tentang pergi bersama Anara.
"Kamu bukanya hari ini ada janjian sama Anara." Aran memastikan.
Airin ingat dengan alasan yang hanya kebohonganya saja. " Gak jadi." Wajahnya sedikit gugup.
"Lho kenapa." Aran merasa mengizinkan nya.
"Soalnya Reynald gak bisa ikutan, jadi di tunda." Airin masih memberikan alasan palsu.
Sesampainya di rumah, Airin segera masuk. Di sana keduanya di sambut oleh makanan di atas meja yang di buat Lusi dan Sean.
"Pas banget kalian udah dateng." Sean bersiap untuk makan.
"Kamu pasti laper." Kata Lusi menuntun Airin duduk.
__ADS_1
Mereka menyantap makanan bersama. Sekitar pukul 4 sore Airin diantar Aran untuk pergi latihan cello.
Terbilang padat dan menguras tenanga karena hampir satu bulan lama nya Airin menyibukan diri dengan mengikuti latihan.
Sampai waktu mereka sudah sangat dekat.
"Aku tungguin kamu di cafetaria dekat sana aja yah." kata Aran memberi tahu. "Nanti telfon kalau udah selesai, bentar lagi kayaknya mau hujan deh." Aran melihat cuaca.
Airin mengangguk. Menunggu setelah hampir 1 jjam lamanya. Airin menyebrang menuju cafe tempat Aran menunggunya.
Aran yang fokus pada ponselnya tak menyadari kedatangan Airin.
"Bosen yah pak." Airin menyapa yang membuat Aran kaget.
"Kenapa gak telfon aku aja." Aran terdengar protes.
"Cello kamu tuh berat lho." Airin meletakanya bersandar pada meja. "Kamu mau pesen apa." memangil waitres mendekat.
"leccy thea." Kara Airin.
Ada notif masuk di sana, beberapa kali panggilan, setelahnya notif lagi. Airin yang iseng melihat nama pemangil tak lama ponselnya berhenti berdering dan screen lock nya menampilkan nama Adinda dengan pesan emot love yang panjang.
Airin seketika terpaku, tak lama meninggalakan cafe dengan membawa cello pergi.
Hujan yang turun saat kakinya turun dari cafe tak membuatnya berhenti malangkah.
Aran kembali dari kamar mandi, bersamaan dengan itu pelayan datang membawa pesanan.
Memperhatikan sekeliling, setiap sudut. Menunggu beberapa saat.
Aran mengecek ponselnya, layar nya retak hal itu membuatnya kaget.
Screen lock nya menampilkan pesan dari Adinda yang memberikan banya emot love.
__ADS_1
Aran tak tenang, dirinya berjalan masuk ke kamar mandi wanita, membuka setiap pintu kamar mandi bahkan tak menghiraukan teriakan para gadis di sana.
Aran khawatir, tak mendapat Airin di mana mana. Tak lama seorang waiters menghampiri Aran.
"Maaf tapi sepertinya nona yang duduk di bangku bapak telah pergi." Jelasnya setelah itu pergi.
"Makasih mbak." Aran membayar di kasir degan cepat setelah itu menyusul Airin entah kemana.
"Airin kamu kemana sih." Aran mengemudi lambat. " Seharusnya dia belum jauh." Menatap tajam kebagian rumah atau cafe yang di lewatinya.
Berkali kali menelfon nomornya, namun tak ada jawaban.
Hujan semakin deras, pengelihatan untuk mengemudi cukup bahaya. Aran semakin merasa cemas.
Menunggu hujan reda, untuk beberapa lama. tak terasa langsi yang terlihat masih cerah sudah hampir malam.
"Ya ampun aku tertidur." Mengusap wajah nya kasar.
Aran kembali ke rumah, berharap Airin ada di sana.
"Kok pulangnya malam." Sapa Sean yang kala itu duduk di teras. "Wajah mu kenapa." Sean masih melihat dengan heran.
"Airin ada." Tanya Aran melangkah terburu buru.
"Lah gak bareng kalian? Airin juga belum kembali." Kata Lusi dengan nada curiga.
Aran kembali masuk ke dalam mobil, Sean memberhentikanya.
"Ada apa." Dengan wajah cemas.
Aran memperlihatkan srceen yang retak dan chat dari Adinda.
"Aku rasa Airin melihatnya." Aran bersandar pada Sean. Kedua kaka nya itu terdiam saling menatap.
__ADS_1
"Gimana nasib ku kak." Suaranya semakin lesu. Lusi mengelus pundak Aran.
Bagaimana sebenarnya perasaan Aran pada Airin. Cinta atau sekedar rasa tanggung jawab.