
Airin terbangun di kamar dengan selimut yang membungkusnya. Nafasnya terasa sesak, bagaimana bisa dirinya di lilit dengan erat begini
Airin terus bergerak sampai jatuh ke lantai. Suara teriakannya menyapa telinga Aran dan Sean bersamaan.
Keduanya datang bersamaan. Mereka terkejut melihat pergerakan di samping ranjang.
"Airin, kamu ngapain." Aran mendekat dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Sean terus saja tertawa. Aran membatu melepaskan lilitan selimut yang membungkus tubuh Airin.
"Maaf yah." Aran dengan penuh penyesalan.
"Lagian kenapa ngikat nya keyak pencuri aja sih." Sean yang berdiri di daun pintu melihat kelakuan dua orang yang terasa aneh.
"Kamu mandi aja dulu, persiapanya masih setengah jam lagi." kata Aran setelah membantu Airin. Gadis itu segera masuk ke kamar mandi. Hari ini adalah kegitan terakhir dalam mengikuti tes untuk majju lomba Tobi yang akan di adakan lusa.
Hal itu tentu terasa semakin sengit. Airin harus mati matian belajar bersama dengan Aran atau pun sahabantnya.
"Aku gak ingat apa yang terjjadi setelahnya, tadi malam yang masih membekas aku terbaring di sofa, tahu tahu bangun paginya aku terbungkus selimut yang membuatku ku sesak nafas." Perjalan memakan banyak emosi pada Airin. Pemikiran nya yang terlalu penasaran namun enggan bertanya.
__ADS_1
Mengingat kalau Aran marah padanya.
"Hari ini aku ada plan bareng Anara." Klaimat Airin seolah berpamitan. Aran tak menjawab nya melainkan hanya suara 'Em'
Kekesalan Airin berlipat ganda. Entah bagaimana rasa sukanya terhadap Aran bisa memudar namun saat ini itu kekesalan yang di alaminya tak mengubah apapun.
"Aku akan di antar sama crus." Airin mencoba mencari perkara.
"Jangan." Kalimat itu membuat bola mata Airin melebar sampai perkataan berikutnya.
"Gak enak di lihat kak Sean." Penjelasan Aran masuk akal. Tetapi bukan itu yang Airin harapkan.
"Bapak punya pacara gak sih." Pertanyaan Airin sama sekali tak di jawab. Layaknya Ac mobil yang berbunyi memberi kesejukan namun tak penting selagi masih berfungsi.
Untuk jam pertama, wajahnya masih datar. Wilson memberikan minuman berwarna putih.
Airin menyimpanya ke dalam tas.
"Kenapa gak di minum." Wilson terlihat kecewa.
__ADS_1
"Maih kenyang." Airin menjjawab jutek.
Tak lama ponsel nya berdering, dengan gerakan malas, Airin menyempatkan menatap layar ponselnya sebelum guru penguji datang.
"Heh." Airin melirik sekitar memastikan tak ada yang melihatnya dengan wajah kaget.
Saat akan membuka isi pesan guru penguji masuk kala itu Airin spontan menyimpan ponselnya.
Perasaan tak sabar ingin membaca apa pesan Aran. Airin yang tadinya malas, seketika semangat dalam mengerjakaan latihan soalĀ pagi ini.
Dalam 45 menit Airin berhasil menyelesaikan soalnya setelah memeriksanya 3 kali. Meletakan lembar jawaban di atas meja kemudian meninggalkan kelas dan segera menuju kamar mandi.
Semua yang melihat nya terkejut, Bahkan Anara dan Wilson tak menyangka.
Sepemekiran Wilson kalau Airin menyerah dengan lomba ini. Hal itu terlihat dari raut wajahnya yang kecewa.
Airin memastikan tak ada siapan pun di kamar mandi. Membuka pesan dari Aran di sana memberi pesan " Semangat ujiannya, tetap fokus." Hanya sebatas ucapan penyemangat.
Airin meloncat loncat. Bagaimana bisa kalimat iitu membuat hatinya senang.
__ADS_1
"Tapi tunggu dulu." Overthingking. " Seharusnya kalimat minta maaf, apa pak Aran gak pernah merasa bersalah." Airin sedikit kesal.
"Apa aku keruangannya saja." Airin berfikir mengambil tindakan. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Airin tersenyum dengan ide di otaknya.