Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 45


__ADS_3

Airin kembali sudah sangat sore. Masih menggunakan seragam sekolah.


Saat memasuki rumah, tak ada siapa siapa di sana. Airin berjalan dengan rasa takut menuju kamarnya.


Menyimpan tas nya kemudian berniat membersihkan diri. Apakah dirinya sendirian saat ini di rumah. Kemana kak Sean, Lusi, dan pak Aran?


Penuh pertanyaan di kepala nya yang terus berputar putar.


Mandi dengan air panas memang terbaik. Sampai dirinya tak sadar kalau sudah hampir sejam di kamar mandi.


Suara yang berada dari luar, menyapa telinganya dan kini merasa khawatir.


"Aku lupa." Dengan khawatir Airin mencoba keluar dari bathtub. Pintu yang tak tertutup rapat adalah alasanya saat ini.


Kalah cepat sampai Aran membuka lebar pintunya.


Terlihat keduanya saling melihat satu sama lain. Airin menjadi kaku dan malu, sementara Aran bersikap biasanya.


"Airin udah pulang." Sean bertanya di dekat pintu kamar. Aran menutup pintu kamar mandi dengan sebagian badanya berada di dalam.


"Ia." Mendengar itu Sean kembali ke rungan tv. Aran mengambilkan handuk mandi Airin, memberikanya tanpa melihat.


Airin menerimanya dengan malu, karena tadi berasa gerah, dan masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk.


Kini Aran sudah melihatnya tanpa benang yang melilit. Airin sangat malu.


Beberapa saat keluar dari kamar mandi, dirinya melirik sekitar tak ada Aran di sana. Dengan cepat memakai baju.

__ADS_1


"Arin, nanti keluar makan bareng yah." Aran berteriak dibalik pintu.


Rasa malunya sampai saat ini belum hilang, namun bagaimana bisa dirinya melihat wajah Aran.


Mau tak mau, Airin keluar dari kamar dan segera menuju dapur.


Karena letak dapur yang langsung terlihat dari sofa di ruangan tv membuat Airin tak tahu harus bersembunyi di mana.


Di sana ada Sean yang sedang memasak mie instan.


"Aran keluar tadi beli telor, stok nya abis." Sean memberi tahu.


Airin sama sekali tak bertanya namun seakan bisa membaca pikiran gadis itu.


Setelah beberapa lama, Aran kembali. Terlihat Airin dan Sean tertawa renyah.


"Ngomongin apaan sih." Sapa Aran cuirga.


"Kepo." Kata sean. "Makanya sekali kali tuh santai jangan tegang mulu mukanya."  Sean kembali meledeka dengan perkataan yang tak di mengerti Aran.


"Orang ngiranya kamu, bakal lebih tua dari aku tahu, sama adek ipar aja kamu di sangka bapaknya." Sean tak berhenti tertawa.


Kalimat barusan membuat Aran menginat kejadian yang di maksud, saat mereka pertama kali makan setelah pulang sekolah.


Yah tidak salah juga.


Sean dan Aran menuju sofa, di sana Lusi menerima semangkok besar yang berisi mie dan telor yang double.

__ADS_1


"Makasih ayang." Kata Lusi menerima dengan gembira.


"Mau mata sapi atau yang di rebus." Bisik Aran di telingga Airin.


Menetap dengan bingung. Aran memberikan piring berisi telur dengan dua macam.


Airin mengambil telur rebus. Tak lama Aran mengambilnya lagi.


Wajah Airin terlihat kesal. Tak sampai 10 detik telur yang sudah bersih itu measuk ke dalam mie nya.


Airin tersenyum. "Terimkasih pak." Aran mengangguk.


Airin kamu tadi balik nya jam berapa." Lusi mulai bertanya.


"Sekitar jjam 5 an." Dengan mengingat.


"Lombanya gak lama lagi yah, entar kalau udah selesai kami bakal balik ke apartemen." Lusi menyuapi Sean yang saat itu membuat Airin tersenyum sendiri.


"Yah kenapa gak di sini aja." Sorot matanya melirik Aran sekilas.


"Gak, bisa donk. Kalau di sini enak enak nya susah." Sean ikut bicara.


"Maksud kaka, makanannya gak enak." Airin masih berfikir positif. Sementara Aran dan Lusi menetap tajam.


"Rin, soal latihan tadi dapat berapa." Aran mengalihkan pembicaraan.


"92, katanya rumus yang aku pakai kurang tepat." Airin tak berani menatap Aran.

__ADS_1


"Aku udah kenyang yah, kalian lanjutin aja deh belajarnya." Lusi melangkah ke kamar. Sementara Sean ikut dan segera meletakan mangkoknya di meja.


Airin panik, dirinya berkeringat dingin kalau di tinggal bersama Aran setelh kejadian tadi


__ADS_2