
Airin dengan perasaan kacau merasakan hatinya terkoyak sakit. Rasanya begitu pilu, sangat sulit di jelaskan.
Apa kah perkataan Aran adalah akhir dari kisah mereka. Kakinya tertanam dengan kaku di lantai yang dingin. Benarkah dirinya akan menjadi janda di umur yang masih begitu muda. Bahkan untuk membayangkanya terasa menyakitkan.
Airin meremas kuat dadanya, kakinya terasa lemah, hingga kepalanya menekuk di lutut. Isak kanya terjadi dalam hening. Takdirnya terasa kejam.
"Papah." Gumamnya mengingat Bakrie.
Perasaanya terlampau takut. Bibirnya kembali mengeluarkan darah segar. Bekas kemarin belum kering. Tubuhnya bergetar hebat. Airin merindukan sosok seorang ayah saat ini.
Tahun ke dua Bakrie meninggalkanya, sebentar lagi, Airin akan naik kelas 3 SMA, dan apak ketakutanya saat ini akan menjadi nyata?
Entahlah yang pasti gadis itu masih merasa takut, sampai matanya yang lelah menangis sampai terbawa kantuk.
Tak ada yang dapat menebaknya esok. Hanya dengan melewatinya sampai mengetahui ada kejadian apa setelah ini.
Malam yang di lalui Aran terus bersama dengan Anna. Ke duanya saling bercerita. Ahmadi sudah lebih dulu meninggalkan ibu dan anak itu ke dalam kamar.
Aran memang akan lebih nyaman bercerita dengan Anna soal dirinya.
Paginya, Airin merasakan panas dengan tubuhnya, ya semalaman dia terlelap di bawah pintu. Suhu kamar yang dingin itu membuatnya mengalami alergi dingin.
__ADS_1
Airin tetap bersiap memakai seragam nya, masih terlalu pagi untuknya sudah bersiap. Langkah nya terburu buru keluar dari rumah. Matanya sejenak melirik Aran yang terlelap di sofa depan tv.
Pagi ini Airin harus mengusahakan berangkat sendiri. Memesan ojek online melalui ponselnya. Ucapan Aran tadi malam masih menghantui perasaan Airin.
Kalau di ingat, memang sejak awa Airin tak mau menikah, dengan alasan masih sekolah, namun setelah bertemu sosok Aran yang lemah lembut, membuat dirinya menyimpan perasaan lebih dulu pada Aran.
Sampai mengatakan dan berjanji pada dirinya sendiri kalau akan membuat Aran jatuh hati padanya. Tekatnya membuahkan hasil setelah satu tahun lebih pernikahan mereka. Mendengar bagaimana percakapan Aran melalui ponsel dengan Bakrie membuatnya merasa aman.
Malam itu, di mana Airin habis di permalukan oleh sahabatnya, yang sudah di anggap keluarga, ternyata orang yang menyimpan dendam padanya, terlebih sosok Anara adalah dalang di balik tersebarnya surat peringatan dari pihak sekolah.
Sia sia usahanya belajar selama ini, bukanya dapat ucapan terimkasih, dia malah di permalukan dan dianggap tak pernah menjadi muka sekolah lagi.
Mengingat kejadian yang itu, membuatnya sedih yang tertahan. Sampai Aran datang dan memberikan rasa nyaman, menjadi perisai di kala Airin merasa tersudutkan oleh tombak yang tajam.
Airin teramat senang, di balik apa yang terjadi pada dirinya, ternyata ada hikmah yang baik untuknya. Tak lagi mengalami cinta sendirian, tak lagi bertepuk sebelah tangan, Airin sampai merasa di cintai seutuhnya, sayang itu hanya perasaanya semata, sampai melupakan siapa yang sesungguh nya pemilik hati dari seorang Aran luesyah.
Pikiranya yang kalut, dengan ucapan yang Aran katakan terus menghantui Airin. Rasa sedihnya tak berkurang, di tambah kulitnya yang semakin meruam.
Airin sampai di sekolah dengan wajah yang mulai merah.
Di kelas dia bertemu dengan Hfasah. "Apa kau baik baik saja." Rasa penasaran yang melihat wajah mulai membengkak. Airin tersenyum dengan wajah bengkak dan merah.
__ADS_1
"Aku rasa kau perlu memeriksa diri." Hafsah cukup khawatir.
"I am oke." Airin tetap bersikeras.
Demi apapun rasa panas dan gatal mulai menjalar ke tubuhnya.
"Saka." Hafsah berteriak meminta tolong. Lelaki itu menoleh, kemudian mendekat. "Aku mau anterin Airin ke UKS, kamu tolong izinin yah." Hfasah segera menompang tubuh Airin.
"Mattias, kamu jagain anak anak, aku mau bantuin Hafsah." Pesan Saka mengambil tas Airin dan Hafsah.
"Saka." Hafsah memekik. Saka tak peduli, langsung menopang tubuh Airin.
"Kita bawa balik aja." firasat Saka.
"Aku gak tahu rumah dia mana." Hafsah ikut berjalan di belakang Saka.
"Yaudah kamu hubungi melalui ponselnya." Saran Saka.
Hafsah segera mengambil ponsel milik Airin. "Gak bisa, dia pakai pola." Kata Hafsah dengan cemas.
"Sidik jarinya kan bisa." Saka terdengar kesal. Hafsa menggeleng. Memperhatikan latar ponsel Airin dengan seksama.
__ADS_1
Menyembunyikan rasa kagetnya dari Saka.
Apa yang sudah membuat Hafsah kaget tak percaya.