
Rasa bimbang Airin,
membuat ia belum memutuskan akan berangkat hari apa.
Airin berbaring
dengan mengotak atik layar ponselnya sebelum notifikasi dari Anara masuk.
”Airin, besok
kerja kelompoknya di base cump gw aja.” Airin membaca pesan itu dengan serius.
”Gimana yaa, soalnya
bokap gw ngajak ke bandung.” balasan Airin berakhir dengan emot menangis. Airin
mendenggar suara dari arah dapur namun mengabaikanya, kemudian fokus pada pesan
di ponselnya.
”Lah jadi
gimana.” Ema masuk setelah Anara menambahkanya kedalam obrolan.
”Aku seraahin
sama kalian aja sih.” balasan Airin mendapat emot kesal dari Anara dan Ema.
”kok gitu sih,
padahal aku pengen weeeken ini ngajak kalian ke Bromo.” Emma terus membalas
dengan antusias.
”Lusa aja deh.” Anara
membalas pesan Airin dengan menandainya.
”Aku gak janji,
tapi bakal usahain pulang cepet.” Anara mengakhiri percakapan dengan keluar
dari obrolan.
Ponselnya
berbunyi dengan nada panggilan. ”Kenapa malah nelfon Nar.” suaranya terdengar
malas.
”Kamu belum
tidur.” Airin menatap layar ponselnya. Tatap matanya berubah malas ketikka
melihat mama yang tertera.
”Ngapain sih
nelfon.” suaranya di buat seketus mungkin.
Bukanya menjawab Wilson
malah meminta untuk vidio call.
”Jangan bilang
__ADS_1
kamu sedang mengerjakan latihan soal.” wilson berkata tanpa ragu.
”Mata gw ngantuk
kalau natap buku.” Airin menatap layar ponselnya dengan malas.
”Itukan emang
karakter kamu.” suara wilson memang terdengar berat, kalau di telfon.
Airin mematikan
panggilanya kala wilson tengah bicara. Tanpa peduli dan langsung membuang
ponselnya menjauh ke ujung ranjang.
Airin terlelap.
Setelah kesenang nya bersama Aran tak ingin lagi rasanya dia mengukir rasa
sedih dengan ucapan Wilson yang tak berguna itu.
Suara mengoreng
terdengar masuk dengar samar samar ke kemar Airin. Menyapa telinga nya dan
membuatnya bangun dan menggeliat beberapa saat.
Berjalan dengan
mengucek matanya perlahan.
”Bapak ngapain.”
”Buatin kamu
sarapan.” Aran berkata dengan suara lembut. Kalimat itu membuat Airin meringis
kesal. Seharusnya dia (Airin) yang menyiapkanya. Lagi lagi malah Aran yang
bertindak.
Apa tekadnya
kemarin hanya bualan. Bahkan Aran bangun lebih pagi, padahal ini hari
libur. Airin berharap dirinya
kembali tertidur.
”Tidurnya jangan
di lanjut donk. Mandi habis itu kita sarapan.” Airin melangkkah malas, kalimat
aran memmbuatnya malu. Gadis itu menutup pintu dengan kakinya tanpa berbalik.
”Isssh.” Airin
berjalan pada kasurnya dengan mengobrak abrik selimut dengan kesal. ”Itu manusia
apa bukan sih.” Menatap jam weker. Di sana masih jam 06:45.
Kakinya masih terasa
berat, masuk ke dalam kamar mandi. Dirinya bahkan tanpa semangat saat menggosokkan
__ADS_1
sabun. Sampai keluar Airin masih dengan wajah di tekuk.
Airin menatap
makanan yang berada di atas meja. ”Dia memasak sebanyk ini sendirian.” matanya
tak berkedip. ”Apa dia punya kekuatan supranatural.” sorot mata Airin penuh
curiga.
”Jangan mikir
macem macem.” Aran memberikan piring dengan senyuman hangat.
”Padahal apa
salahnya dia membangunkan aku dan memasak bersama.” Airin masih menggerutu
kecil dalam hati. Sementara Aran memasukan beberapa lauk ke piringnya.
”Apa aku
mengacaukanya.” mengingat kejadian kemarin saat memasak di dapur. Airin duduk
tegap dan membatu. ”Bapak tadi malam mencuci piring.” Airin dengan wajah serius bertanya.
Aran mendengarkan
kemudian mengangguk dan kembali makan.
”Aku pasti tidak
bersih mencuci piringnya. Airin mengingat kalau dirinya hanya menumpuk piring
di wastafel kemudian tanpa menggosoknya.
Ingatan itu
membuatnya merasa malu.
”Airin, ajakan
mama gimana.” Aran mencoba bicara
kembali. Tatapan mata Airin berubah bulat.
”Iya aku mau
pak.” jawab Airin dengan semangat. Aran sampai tak bergerak melihat respon Airin
yang berdiri menatap plafon.
”Aku harus
membuat ibu mertua bangga padaaku.” kata Airin dengan semangat dan yakin. Untuk
beberapa saat dirinya kembali sadar kalau dia tengah bertindak. Bola matanya
bergerak melirik aran. ” lubang, mana lubang aku mau mengubur diri.” Airin
kembali duduk dengan nafsu makan yang tinggi.
Aran tersenyum
kaku menangapinya.
__ADS_1