Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 21


__ADS_3

Rasa bimbang Airin,


membuat ia belum memutuskan akan berangkat hari apa.


Airin berbaring


dengan mengotak atik layar ponselnya sebelum notifikasi dari Anara masuk.


”Airin, besok


kerja kelompoknya di base cump gw aja.” Airin membaca pesan itu dengan serius.


”Gimana yaa, soalnya


bokap gw ngajak ke bandung.” balasan Airin berakhir dengan emot menangis. Airin


mendenggar suara dari arah dapur namun mengabaikanya, kemudian fokus pada pesan


di ponselnya.


”Lah jadi


gimana.” Ema masuk setelah Anara menambahkanya kedalam obrolan.


”Aku seraahin


sama kalian aja sih.” balasan Airin mendapat emot kesal dari Anara dan Ema.


”kok gitu sih,


padahal aku pengen weeeken ini ngajak kalian ke Bromo.” Emma terus membalas


dengan antusias.


”Lusa aja deh.” Anara


membalas pesan Airin dengan menandainya.


”Aku gak janji,


tapi bakal usahain pulang cepet.” Anara mengakhiri percakapan dengan keluar


dari obrolan.


Ponselnya


berbunyi dengan nada panggilan. ”Kenapa malah nelfon Nar.” suaranya terdengar


malas.


”Kamu belum


tidur.” Airin menatap layar ponselnya. Tatap matanya berubah malas ketikka


melihat mama yang tertera.


”Ngapain sih


nelfon.” suaranya di buat seketus  mungkin.


Bukanya menjawab Wilson


malah meminta untuk vidio call.


”Jangan bilang

__ADS_1


kamu sedang mengerjakan latihan soal.” wilson berkata tanpa ragu.


”Mata gw ngantuk


kalau natap buku.” Airin menatap layar ponselnya dengan malas.


”Itukan emang


karakter kamu.” suara wilson memang terdengar berat, kalau di telfon.


Airin mematikan


panggilanya kala wilson tengah bicara. Tanpa peduli dan langsung membuang


ponselnya menjauh ke ujung ranjang.


Airin terlelap.


Setelah kesenang nya bersama Aran tak ingin lagi rasanya dia mengukir rasa


sedih dengan ucapan Wilson yang tak berguna itu.


Suara mengoreng


terdengar masuk dengar samar samar ke kemar Airin. Menyapa telinga nya dan


membuatnya bangun dan menggeliat beberapa saat.


Berjalan dengan


mengucek matanya perlahan.


”Bapak ngapain.”


”Buatin kamu


sarapan.” Aran berkata dengan suara lembut. Kalimat itu membuat Airin meringis


kesal. Seharusnya dia (Airin) yang menyiapkanya. Lagi lagi malah Aran yang


bertindak.


Apa tekadnya


kemarin hanya bualan. Bahkan Aran bangun lebih pagi, padahal ini hari


libur.  Airin berharap dirinya


kembali  tertidur.


”Tidurnya jangan


di lanjut donk. Mandi habis itu kita sarapan.” Airin melangkkah malas, kalimat


aran memmbuatnya malu. Gadis itu menutup pintu dengan kakinya tanpa berbalik.


”Isssh.” Airin


berjalan pada kasurnya dengan mengobrak abrik selimut dengan kesal. ”Itu manusia


apa bukan sih.” Menatap jam weker. Di  sana masih jam 06:45.


Kakinya masih terasa


berat, masuk ke dalam kamar mandi. Dirinya bahkan tanpa semangat saat menggosokkan

__ADS_1


sabun. Sampai keluar Airin masih dengan wajah di tekuk.


Airin menatap


makanan yang berada di atas meja. ”Dia memasak sebanyk ini sendirian.” matanya


tak berkedip. ”Apa dia punya kekuatan supranatural.” sorot mata Airin penuh


curiga.


”Jangan mikir


macem macem.” Aran memberikan piring dengan senyuman hangat.


”Padahal apa


salahnya dia membangunkan aku dan memasak bersama.” Airin masih menggerutu


kecil dalam hati. Sementara Aran memasukan beberapa lauk ke piringnya.


”Apa aku


mengacaukanya.” mengingat kejadian kemarin saat memasak di dapur. Airin duduk


tegap dan membatu. ”Bapak tadi malam mencuci piring.”  Airin dengan wajah serius bertanya.


Aran mendengarkan


kemudian mengangguk dan kembali makan.


”Aku pasti tidak


bersih mencuci piringnya. Airin mengingat kalau dirinya hanya menumpuk piring


di wastafel kemudian tanpa menggosoknya.


Ingatan itu


membuatnya merasa malu.


”Airin, ajakan


mama gimana.”  Aran mencoba bicara


kembali. Tatapan mata Airin berubah bulat.


”Iya aku mau


pak.” jawab Airin dengan semangat. Aran sampai tak bergerak melihat respon Airin


yang berdiri menatap plafon.


”Aku harus


membuat ibu mertua bangga padaaku.” kata Airin dengan semangat dan yakin. Untuk


beberapa saat dirinya kembali sadar kalau dia tengah bertindak. Bola matanya


bergerak melirik aran. ” lubang, mana lubang aku mau mengubur diri.” Airin


kembali duduk dengan nafsu makan yang tinggi.


Aran tersenyum


kaku menangapinya.

__ADS_1


__ADS_2