
" Ini pembiasan cahaya." jelas Aran.
Rasa gugup Airin terus membuatnya gemetar, bahkan mereka hampir 20 menit masuk pembahasan materi latihan soal.
Ketika Aran mendekat, Airin reflek bergerak hingga menumpahkan minuman bekas makan Sean dan lusi.
"Bentar aku beresin pak." Airin mencoba berdiri, namun Aran menahannya.
"Kamu lihat baik baik yah, Airi ini warnanya bening kan." Mengambil gelas kaca berisi air.
Airin mengangguk paham.
"Nah coba kamu simpan di atas genagan air yang tumpah." Mnegikuti perkataan Aran.
"Warnanya berubah pak." ucapnya keget.
"Coba kamu letakan, di bagian yang gak ada air nya." Aran fokus pada latihan.
"Air tetap terlihat bening." Kata Airin yang kemudian menyimpulkan.
"Berarti cahaya yang dari atas, atau di biaskan kalau menyentuh bagian dasarnya permukaan air, dia akan mendominasi." Aran mengacak rambut Airin ketika cepat tanggap.
__ADS_1
"Pinter." katanya tersenyum pada Airin. "Karena melewati batas antara dua medium yang beda. Sinar yang datang, dan membentuk sudut tertentu, cahaya yang tidak tegak lurus lebih kecil dari 900 dari bidang batas. makanya bisa terjadi." penjelasan Aran sangat mudah di mengerti.
"Kalau di soal ini kan, kenapa dan masalah pada cahaya yang non dinamik, terjadi aku hanya menjelaskan bagian yang dapat keran itu terjadi sebab arah lurus cahaya nya." Airin paham letak kesalahan dari rumus masukan tentang pembiasan cahaya.
"Pantesan tadi Reynald bilang akuĀ keliru." Airin mengingat kajadian tadi.
"Gak apa apa, kan sekarang udah paham." dengan mengubah arah cahaya yang ada di kertas.
"Masih ada yang belum kamu ngerti." Aran memastikan.
"Udah mau jam 11 pak." Airin dengan mata yang hampir merah.
"Yaudah, kamu pergi tidur aja dulu." Aran membereskan meja yang ketumpahan air.
Aran menarik gelas di tangan Airin. Gadis itu sontak kaget.
"Mata kamu udah merah, besok masih harus sekolah." Aran dengan wajah tegas namun bernada lembut.
Airin secepatnya melangkah pergi, masuk ke dalam kamar.
Hatinya sedikit merasa sakit, Sorot mata Aran terlihat marah.
__ADS_1
Kalau di ingat ingat baru tadi sore merasa malu dengan Aran, malam nya merasa kesal dan sakit hati. Dua kejadian berbeda dengan orang yang sama.
Rasa kantuk Airin melelapkanya dari perasaan sakit hati, dan terbangun paginya Aran tak lagi ada di sampingnya.
Mengerjapkan matanya beberapa kali, ekor matanya menangkap pergerakan, sosok Aran dengan telanjang dada membuat rona di wajah Airin terlihat malu malu.
Mencuri kesempatan dari balik selimut untuk melihat lebih jelas dada bidang lebar nan kekar.
Karena membayangkan nya Airin tak sadar langkah Aran mendekat padanya.
"Airin." Sapaan pagi itu membuat gadis dalam selimut bangun dengan nafas berderu.
"Kenapa pak." wajahnya pucat pasi. "Sumpah aku gak ngebayangin apa apa ko." Mengangkat dua jarinya sebagai simbol jujur.
Aran berfikir sejenak. Sampai menangkap kalimat di balik ucapan Airin.
"Aku gak nuduh." Memasang wajah bingung. " Aku hanya memanggilmu." Tersenyum sekilas.
Airin menarik nafas, mencoba cari alasan. Lirikanya tak lepas dari bagian atas yang terlihat menggoda.
"Aku mau mandi." Segera benajak masuk ke kamar mandi terburu buru. Pagi ini merasa malu lagi.
__ADS_1
Pasangan suami istri macam apa ini.
"Iiiiihhh. Knenapa harus malu berkali kali sih." Airin tak terima, dirinya selalu jadi korban.