Pamit

Pamit
100. Sekarang Jam Berapa, Bu?


__ADS_3

Ayu, Jaka dan Bu Rini kini sedang duduk di depan ruang operasi dengan was-was dan hati yang terus mengucapkan doa. Berharap semuanya berjalan sesuai dengan keinginan mereka.


Entah sudah berapa lama lampu operasi itu menyala, namun tak kunjung dimatikan. Sesekali Bu Rini berdiri dari duduknya dan mondar-mandir tak sabar.


"Bu duduklah. Tidak perlu mengkhawatirkan yang di dalam semua akan baik-baik saja."


"Operasinya kenapa lama, Yu?"


"Dokter sedang melakukan yang terbaik Bu, kita berdoa saja, ya."


Kegundahan itu runtuh begitu saja saat pintu operasi terbuka. Mereka bertiga berbondong-bondong mendekati dokter pria yang menangani. Mereka menanyakan hal yang sama.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Sangat terlihat dari semangat pasien untuk bisa melihat lagi, saya suka dengan sugesti positif darinya. Kita tunggu hasilnya tiga hari lagi, ya tiga hari lagi perban akan dibuka."


"Alhamdulillah boleh kami lihat Rifki, Dok?" Bu Rini yang bertanya.


"Biarkan di pindahkan ke ruang rawat dulu, ya Bu. setelah itu kalian bebas menjenguknya. Saya permisi," ujar dokter itu Rama lalu pergi meninggalkan ruang operasi.


***


Dara beberapa kali melirik jam yang berada di dinding rumahnya. Iya sedang menghabiskan waktu dengan Ibu dan juga Nathan. Ia begitu lama menunggu kabar dari sang Kakak apakah operasi sudah selesai atau belum. Dan bagaimana hasilnya? Sungguh Dara sudah tidak sabar mendengar kabar bahwa Rifki sudah bisa melihat. Meskipun ia tahu tidak akan bisa mendengar hasilnya sekarang. Entah kenapa ia selalu ingin cepat-cepat.


"Bu, apa operasinya belum selesai, kenapa berjalan nggak ada kabar?" Akhirnya pertanyaan itu tercetus dari mulutnya.


"Tadi kenapa kamu nggak ikut aja sini, Nak?"


"aku belum siap ketemu sama dia, tapi aku juga mau tahu operasinya itu lancar apa nggak. Salah aku ingin tahu keadaan Kak Rifki?"


"Nggak, Sayang. Nggak ada yang salah, ya sudah Ibu telepon Bang Jaka, ya."


Bu Lin lalu mengambil ponselnya dan menekankan-nekan layarnya lalu mendekatkannya pada telinga. Terdengar sambungan telepon yang sedikit lama lalu mendengar suara Jaka.

__ADS_1


"Halo, Jaka gimana operasinya udah selesai apa belum?"


"Astagfirullah aku lupa kabarin Ibu. Udah Bu udah selesai. Ini juga udah dipindah ke ruang rawat, kok. Semuanya berjalan lancar kita tinggal tunggu hasilnya tiga hari lagi."


"Alhamdulillah kalau begitu. Sampaikan salam Ibu dan juga Maaf Ibu ke Bu Rini ya."


"Ibu sudah aku sampaikan berapa kali Ibu ngomong itu?"


Sambungan terputus setelah obrolan singkat dengan kabar bahagia itu. Bu Lin menatap wajah Dara yang mengekspresikan wajah tak sabar menunggu ucapan darinya.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar dan tiga hari lagi kita akan tahu hasilnya. Nanti kalau Rifki nyari kamu di rumah sakit gimana?"


"Ya nanti pasti dia akan datang ke rumah kalau tahu aku nggak ke rumah sakit. Itu pun kalau memang apa yang dia ucapkan beberapa waktu lalu benar."


Hari memang berjalan begitu lambat ketika kita sedang menunggu hari-hari tertentu. Kan itu dirasakan oleh Rifki dan Dara. Meskipun mereka di tempat yang berbeda dan terpisah sedikit jauh mereka merasakan hal yang sama dan menunggu hal yang sama.


Dara bingung dengan apa yang ia rasakan. Di satu sisi ia belum siap bertemu dengan Rifki, tapi di sisi lain ia berharap Rifki yang mendatanginya, aneh bukan? Begitulah perasaan dan juga logika ketika sudah tak berjalan beriringan.


***


Rifki rasanya sudah sangat bosan, rasanya waktu begitu lama berjalan. Berkali-kali ia menanyakan pada ibunya,


"Bu,sekarang jam berapa?" Dalam tiga hari itu entah sudah berapa kali Rifki menanyakan hal yang sama sudah persis seperti anak kecil yang sudah dijanjikan jalan-jalan oleh kedua orang tuanya.


Berkali-kali pula Bu Rini menjawab dengan sabar. Ia sudah persi seperti memiliki anak kecil yang berkali-kali menanyakan hal yang sama.


"Dara sama sekali nggak ke sini, Bu?"


"Nggak Rif, dia sama sekali nggak ke sini kalau begitu kau saja yang datang ke rumah nanti." Jaka yang baru saja datang mendengar pertanyaan Rifki dan langsung menyahuti.


"Eh ada Jaka, tho?" Bales Rifki sedikit malu.

__ADS_1


"Iya baru datang. Hari ini perban mu jadi dibuka, kan?"


"Iya jadi katanya, sih nanti agak siangan."


"Setelah ini apa rencanamu?"


"Yang paling penting, sih aku ketemu Dara dulu. Dia traumanya udah sembuh, kan Jak. Aku hanya takut nanti kalau aku datang ke rumah dia histeris."


" Udah, kok udah. Dia masih agak takut aja kalau ketemu orang yang memang nggak pernah dia tahu sebelumnya, cuman takut aja nggak histeris."


"Aku udah nggak sabar mau ketemu dia aku mau bicarakan lagi semuanya dari awal. Seharusnya aku dan dia sekarang udah tunangan dan dia udah sibuk dengan skripsinya, kan."


"Apa kau tidak terlalu terburu-buru jika langsung membicarakan ini sekarang? Biar bagaimanapun kalian perlu adaptasi kembali, kan?"


Bukannya tak setuju jika Rifki membicarakan pernikahan sekarang, tapi alangkah baiknya psikis Dara disembuhkan total terlebih dahulu.


"Iya, sih. Sepertinya aku terlalu terburu-buru untuk menikah. Tolong maklumi, usiaku sudah tidak lagi muda aku takut kalau reproduksi itu tidak lancar."


Bu Rini dan Jaka sontak tertawa mendengar ucapan Rifki. Sudah tidak dirakukan lagi, Rifki sudah benar-benar menjadi budak cinta Dara.


"Kau mau menikah cepat ingin punya anak cepat atau memang kau jatuh cinta pada adikku? Aku jadi ragu kalau kau masih cinta dia. Jangan-jangan kau nikahi adikku hanya untuk membuat anak," seloroh Jaka bercanda.


Namun, wajah Rifki langsung berubah menjadi panik. Ia tak tahu betapa Jaka dan Bu Rini kesulitan menahan tawa.


"Astagfirullah nggak gitu, Jak maksudnya. Aku hanya ingin memastikan apakah dia benar-benar ingin menikah denganku. Iya itu saja. Kalaupun memang dia tidak mau terburu-buru aku akan sabar lagi untuk menunggu. Biar bagaimanapun aku harus paham jika Dara butuh waktu untuk memulai semuanya dari. Aku akan selalu setia di sampingnya sampai dia sembuh."


"Jangan lupa cari kerja! Mau kamu kasih makan apa nanti Dara kalau kamu nggak kerja? Cinta?" celetuk Bu Rini yang sejak tadi hanya diam saja.


"Ah,iya. Itu juga penting, rencanaku selanjutnya setelah aku bertemu dengan Dara, nanti aku akan segera mencari kerja. Mungkin akan lebih sedikit sulit karena usiaku ini tapi setidaknya aku harus mencoba, kan? Jak, apa kau masih menjadi driver taski online sepertinya aku harus mencoba itu. Sebelum aku bisa mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang banyak seperti yang sebelumnya." Semangat Rifki tiba-tiba saja menggebu, ia sudah memikirkan banyak hal untuk kedepannya nanti. Ia harus memulai semuanya dari nol, seperti memulai kehidupan baru.


"Nggak, aku udah nggak jadi supir taksi online. Aku ngurusin tokonya Ayu yang udah buka cabang di beberapa kota, jadi nggak mungkin aku membiarkan Ayu mengurusnya sendirian apalagi anak kita ada setengah lusin, kan." Jaka terkekeh sedikit sungkan membahas jumlah anak yang banyak. "Tapi kalau kau mau coba untuk jadi supir taksi online akan aku usahakan. Akan aku masukkan kau ke perusahaan yang dulu aku naungi. Gampang itu, mah bisa diatur."

__ADS_1


"Boleh daripada aku bingung-bingung cari kerjaan lebih baik pakai itu dulu. Bu sekarang jam berapa?"


Bu Rini menghela nafas panjang, pertanyaan itu lagi, batin Bu Rini geleng kepala.


__ADS_2