
"Aku rasa dekor ini udah bagus, Kak. ini tuh meriah, ini udah mewah, elegan. Ada red karpetnya juga, kurang mewah apa?"
"Nggak mau, aku nggak mau yang ini. Dekor yang seperti ini udah umum banget. ini udah dipakai semua sama temen-temen aku, nggak mau, aku maunya yang beda. Tunjukin yang lain Mbak. Yang sekiranya belum pernah dipakai atau belum banyak yang pakai," pinta Rifki pada wo-nya.
"Baik, Mas. Akan saya tunjukkan."
Dara berdecak kesal. Sejak awal mengurusi acara pernikahannya, apapun yang diinginkannya selalu bertolak belakang dengan apa yang diinginkan oleh calon suaminya.
"Ini ada beberapa dekor yang baru kami desain dan juga belum banyak yang pakai ini. Karena memang ini bener-bener baru. Mungkin ada yang masuk di hati Mas Rifki dan juga Mbak Dara."
"Yang mana, Dek?"
"Masih perlu pendapat aku? Udah pilih aja sendiri apa yang aku pilih juga bukan selera kamu. Kamu, kan nikah sendirian nggak sama aku."
"Astagfirullah. Bukan gitu, Dek maksudnya. Kamu tahu sendiri, kan pernikahan kita ini dinantikan sama banyak orang dari keluarga kamu keluarga aku terutama. Aku mau pernikahan kita ini wow, ini hanya masalah dekor, kamu ngambek. Dekor yang kamu pilih itu udah banyak dipakai sama orang, Dek. Kamu nggak mau pernikahan kita itu beda dari yang lain?"
"Kalau dipakai banyak orang, berarti itu artinya bagus, kan?"
"Iya tahu, bagus. Nggak ada salahnya kalau kita pakai yang berbeda dari yang lain. Ini juga bagus-bagus kok pilihannya udah, yuk. Jangan ngambek mulu, ya. Kita harus memilih ini sekarang waktu kita udah nggak banyak lagi, Dek."
"Ya kamu kerja mulu, makanya apa-apa serba mepet, kan?"
"Ya udah, maaf. Maaf ya, aku ambil libur mendekati hari pernikahan, biar nanti setelah menikah aku ada waktu banyak buat kamu. Kalau aku libur dari sekarang setelah menikah aku langsung kerja, kamu pilih yang mana?"
Dua orang yang sedang menunggu mereka menentukan dekor hanya menatap mereka seraya tersenyum. Calon suami istri itu sungguh menggemaskan di mata mereka.
"Ya udah milih libur mepet nikah." Dara menjawab asal dan kesal.
"Bagus kalau begitu. Milih dekor lagi yuk, kamu lihat dulu dong."
Dara menurut, ia mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang sejak tadi teronggok di meja.
__ADS_1
Dan di hari pernikahannya itu, Dara dan Rifki memakai gaun, dekorasi dan semuanya hasil dari pikiran mereka berdua. Tidak ada yang condong salah satu.
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Rifki di sepanjang hidupnya hanya hari ini yang ia inginkan. Duduk berdua di pelaminan bersama orang yang ia cintai adalah sebuah momen yang begitu menenangkan untuknya.
Sejak terdengar satu kata sah dari beberapa petua tadi pagi. Tangan mereka tak pernah lepas di mana pun dan kapan pun. Selalu saling terpaut satu sama lain, seakan tidak ada satupun yang bisa memisahkan mereka.
"Duduk aja, Dek. Kalau capek, udah dari tadi berdiri."
"Kepalaku agak berat rasanya, Kak. Nggak tahu kenapa tiba-tiba pusing."
"Ya udah kita ke kamar aja kalau gitu. Biar aku kasih tahu Bang Jaka sama ibu kita. Duduk dulu di sini sebentar, ya."
Setelah bernegoisasi sedikit dengan ibu dan juga kakak iparnya Rifki kembali ke pelaminan dan menggandeng Dara untuk istirahat.
"Nanti kalau teman Kakak ada yang ke sini gimana? kakak nggak ketemu kalau kita ke kamar sekarang."
"Kamu lebih penting, Dek. Kok kamu malah mikirin temen-temen aku."
Tak berselang lama berjalan, mereka sampai di kamar mereka yang sudah dihias sedemikian rupa oleh petugas hotel. Banyak bunga mawar merah persebaran di setiap sudut ruangan dan juga kasur.
Rifki melipir ke kamar mandi. Ganti pakaian dengan cepat-cepetan dan juga menghapus make up tipis yang ada di wajahnya.
Sementara Dara masih duduk termenung di tepian ranjang dengan menghadap cermin di meja rias. Jatuhnya sungguh berdebar hebat. Sebenarnya Dara belum siap melakukan malam pertama malam ini, rasa trauma akan sakit yang ia rasa malam itu nyatanya masih membekas hingga sekarang.. Tapi ia juga terlalu takut untuk berkata jujur, ia takut mengecewakan pria itu, pria yang beberapa jam yang lalu menjadi suaminya.
Dara masih melamun ketika Rifki keluar dari kamar mandi.
"Loh, kok belum ngapa-ngapain?"
"Ha? Iya, istirahat aja, Kak. Aku capek banget."
"Ya udah aku bantu duduk di sini aja!" Rifki menunjuk kursi yang di depan meja rias. Dengan ragu dan beban pikiran yang ada Dara berjalan pelan menuju meja rias itu.
__ADS_1
"Ada apa sih, Dek? Kok kayak ada yang dipikirin? Kita sekarang sudah suami istri, nggak baik kalau menyembunyikan apa-apa. Kita harus saling terbuka dan saling percaya karena memang itu pondasi yang paling penting. Ada apa?"
Rifki yang berniat melepas atribut kepala Dara seketika urung, karena melihat istrinya itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia duduk berlutut di depan sang istri dan menggenggam tangannya erat.
Dara tak sanggup bercerita, mulutnya seakan terkunci rapat. Ia merasa kasihan jika harus menceritakan ini pada Rifki, manik-manik mata yang ia lihat begitu tulus dan sabar membuatnya iba.
"Aku, sebenarnya aku. Sebaiknya aku ganti baju dulu, Kak. ini terlalu berat."
"Ya udah aku bantu."
"Aku bisa, Kak. Di kepalaku ini, kan nggak ada apa-apanya, cuman ada hijab doang aku bisa sendiri kok. Aku ke kamar mandi sebentar, ya." Dara buru-buru menuju lemari dan berjalan cepat ke kamar mandi.
Hal itu membuat Rifki jadi bertanya-tanya, ada apa dan kenapa istrinya mendadak berubah?
Sejurus kemudian Rifki tak mau memikirkan hal yang negatif. Ia berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran negatif itu dan juga memikirkan hal positif. Ia mengambil ponselnya yang di meja lalu merebahkan dirinya di ranjang dengan memainkan ponsel tersebut.
Rifki menoleh begitu pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok Dara yang sudah berganti pakaian dan juga melepas kerudungnya.
Dengan sebuah piyama berwarna pink bermotif bunga-bunga kecil dengan ragu Dara berjalan ke arah tempat tidur. Rambut panjang sepinggang terurai ke bawah berwarna hitam legam, sungguh Rifki benar-benar terkesima dengan apa yang ia lihat.
"Masya Allah, cantiknya istriku. Duduk sini, Dek duduk di dekat, Mas." Rifki menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
"Makasih, Kak." Dara dengan begitu takutnya duduk di samping Rifki.
"Mas. Mulai sekarang panggil aku, Mas." Pinta Rifki.
"Baiklah."
Rifki meraih rambut Dara yang panjang lalu ia mainkan di tangannya.
"Harum, Mas suka baunya."
__ADS_1
"Mas, aku belum siap untuk memberikan hakmu sekarang, aku masih truma dengan rasa sakit yang begitu membekas." ucapan itu meluncur begitu saja di mulut Dara seakan tanpa sadar. Sedetik kemudian ia sadar dengan apa yang ia ucapkan, seketika ia mendongak ke arah Rifki. Pria itu hanya diam dan menatap istrinya dengan datar.
(Nggak perlu protes dengan konflik yang ini, karena ini tidak akan berlangsung lama hanya tinggal beberapa bab lagi akan menuju akhir dari kisah pamit)