Pamit

Pamit
96. Nekat


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Rifki sudah mulai terbiasa tanpa hadirnya Dara di hidupnya. Terbiasa bukan berarti melupakan. Hanya saja ia tak mau lagi berharap dengan keadaan dan cinta yang membuatnya semakin hancur.


Rifki sudah banyak perubahan. Ia tak lagi menggunakan kursi roda. Meskipun ia tak tahu ia berjalan untuk siapa, ia tak tahu sembuh untuk siapa. Cintanya sudah gagal total untuk yang kedua kalinya. Ia melakukan ini hanya untuk ibunya saja, ia rak tega jika harus membuat ibunya sedih terus-menerus.


"Rif, ada kabar baik dari pihak rumah sakit." Bu Rini berteriak histeris saking senangnya.


"Apa, Bu?"


"Kamu sudah mendapatkan donor mata. Sebentar lagi kamu bisa melihat. Operasi akan dilakukan satu bulan lagi Jika kamu mau atau keadaan kamu stabil." Bu Rini sangat bahagia, saking bahagianya beliau sampai memeluk erat sang anak. Hal yang tidak pernah beliau dilakukan sebelumnya.


Namun, Rifki memberikan reaksi yang berbeda. Ia biasa saja, bahkan tersenyum pun tidak. Hal itu berhasil mengundang tanya di hati Bu Rini.


"Kenapa wajahmu biasa saja? Kamu sebentar lagi bisa melihat, apa yang kamu sedihkan? Hal apa yang membuat kamu tidak bahagia?"


"Untuk apa aku bisa melihat kalau tidak lagi bersama dengan Dara. Sedangkan keindahanku ada padanya, masa depanku ada di sana tapi dia pergi meninggalkan luka. Aku tidak punya alasan untuk bisa melihat kembali."


" Tidak adakah cinta di hatimu untuk Ibu? Setidaknya lakukan ini untuk Ibu, hanya untuk Ibu saja. Kalau kamu bisa melihat kamu bisa kembali menata masa depan kamu yang sempat tertunda. Hidup kamu tidak selesai di sini. Kamu harus kuat untuk Ibu."


"Aku tidak sanggup melihat Dara bahagia dengan orang lain. Aku sudah terbiasa tanpa dia tapi hatiku tidak."


"Baiklah kamu tidak perlu operasi, kamu tidak perlu bisa melihat Biarkan Ibu merawat kamu sampai Ibu tua." Bu Rini pergi dengan dengan terisak.


Tak lama setelah kepergian ibunya,  Rifki pun melakukan hal yang sama ia menangis dalam diam dan tak bersuara. Di satu sisi ia enggan untuk bisa melihat, tapi di sisi lain jika ia melakukan itu ibunya yang akan terluka. Rifki sudah benar-benar bosan dengan hidupnya. Apapun keputusan yang ia ambil akan tetap salah baginya.


Rifki melangkahkan kaki menuju kamar ibunya berharap yang menemukan wanita itu di sana. Ia merasa berdosa membuat ibunya menangis.


Di saat Rifki berhasil meraih gagang pintu kamar ibunya, ia samar-samar mendengar isakan ibunya yang begitu lirih dan menyayat hati.


"Ya Tuhan kenapa Kau ambil kebahagiaan anakku begitu lama. Apa salahku sehingga aku menanggung dan menjalani ujian seberat ini. Bagaimana caraku menjelaskan bahwa hidupnya sangat berarti untukku. Aku tidak keberatan jika aku merawatnya hingga tua, rapi siapa yang akan merawatnya nanti jika aku tiada. Tolong bukakan pintu hatinya Tuhan, tolong buat dia menjadi semangat kembali untuk menjalani hidupnya."

__ADS_1


Rifki meringis, hatinya terasa teriris perih. Ia menyadari bahwa ia saat ini sedang sangat egois. Ia hanya condong memikirkan perasaannya saja tanpa memikirkan perasaan ibunya yang sudah merawatnya berbulan-bulan.


"Ibu," Panggil Rifki pelan seraya mengetuk pintu kamar.


"Iya ada apa?" Tanya Bu Rini sibuk mengelap ingusnya.


" Aku mau operasi demi Ibu."


Satu kalimat yang membuat Bu Rini kembali menangis memeluk Rifki. Beliau menangis bahagia ketika keputusan yang diambil sang anak sudah tepat.


"Terima kasih sudah mengembalikan kebahagiaan Ibu. Ibu akan hubungi dokternya lagi."


***


Di lain tempat, Dara masih belum bisa sembuh total dari traumanya. Ia masih takut keluar rumah, masih takut dengan orang yang tak dikenal. Namun, sudah tak pernah histeris seperti dahulu. Keceriaannya pun berangsur-angsur kembali meskipun senyumnya jarang terlihat menghiasi bibir.


Dara tak pernah lupa dengan perasaannya dan juga Rifki. Perasaannya masih sama dan akan tetap sama, namun ia tak punya keberanian untuk menemui pria itu.


Enam bulan menghilang membuat Dara tersiksa sendiri dengan perasaannya. Berulangkali Jaka membuat gadis itu percaya bahwa Rifki akan menerimanya tanpa syarat. Tapi Dara merasa tak pantas untuk pria itu.


Ayu diam-diam menghubungi Bu Rini saat Jaka tak sedang di rumah. Terdengar nada sambung yang sedikit lama, namun di detik berikutnya Ayu sudah mendengar suara Bu Rini.


"Iya halo."


"Ibu apa kabar?" tanya Ayu basa-basi.


"Maaf ini siapa, ya?"


Pertanyaan sederhana yang mampu membuat Ayu terkejut. Ia yakin ini terjadi karena keluarganya yang tak ada kabar selama berbulan-bulan dan hal itu membuat Bu Rini dan Rifki sakit hati. Seharusnya bulan ini mereka sudah melangsungkan pertunangan. Tapi keluarganya mendadak tak ada kabarmengert. Siapa yang tidak salah paham dengan situasi seperti itu, batin Ayu.


"Ini aku, Bu, Ayu."

__ADS_1


" Oh kamu. Ada apa masih ingat sama saya?"


"Bagaimana bisa saya lupa dengan Ibu?"


" Ada apa hubungi saya?"


"Saya mau menjelaskan perihal hilangnya kabar kami."


"Untuk apa? Membuka harapan baru lagi untuk Rifki? Dibuat terbang lalu dijatuhkan."


"Bu, apa yang Ibu pikirkan bukan itu kenyataannya, kami tidak pernah meninggalkan kalian. Tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Agar tidak ada penyesalan di antara kita."


Bu Rini tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Beliau sebenarnya kecewa dan marah pada keluarga Dara. Tapi mendengar ucapan Ayu menjadikan beliau berpikir bahwa beliau perlu mendengar penjelasan mereka, beliau perlu tahu apa yang membuat mereka pergi tanpa kabar .


"Ya sudah jelaskan sekarang!"


"Saya akan ke rumah sekarang, ya, Bu."


Tak mau membuang waktu lebih lama lagi dari segera bersiap menuju rumah Rifki.


"Mau ke mana?" tanya jaga yang baru datang.


Ayu gelagapan, ia tak pernah bohong sebelumnya kepada suaminya itu. Ia membuang beberapa detik waktu untuk berpikir alasan apa yang akan ia buat.


"Mau ke rumah temen."


Jaka mengernyit. "Aku antar," ucapnya kemudian. Entah apa yang membuat Jaka merasa istrinya sedang bohong papadanya.


"Ya sudah ayo ke rumah makan anti lapar."


Daripada Jaka curiga, Ayu lebih memilih untuk berbohong seperti ini, tidak apa-apa sedikit ribet dan repot yang penting ia bisa ke rumah Rifki.

__ADS_1


Tak ada percakapan sepanjang perjalanan mereka hening dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sepanjang perjalanan Ayu terus berdoa agar apa yang ia lakukan perbuntut baik pada keduanya. Untuk Rifki dan juga Dara, besar harapan wanita itu untuk melihat mereka tetapi baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah makan yang dimaksud Ayu. Wanita itu langsung turun dan berjalan menuju dalam rumah makan. Duduk di sana dan pura-pura memesan sesuatu. Begitu ia duduk di sebuah kursi Jaka melipir pergi dari sana. Seketika Ayu juga melakukan hal yang sama melesat dari rumah makan itu dan memesan taksi online.


__ADS_2