
"Alif, Dara, naik dulu, yuk. Kita makan mie dulu, ngangetin badan," panggil Rifki setengah berteriak.
Untunglah Dara dan Alif mendengar teriakan Rifki. Mereka bergegas ke atas untuk memenuhi panggilan pria berbadan kekar dan berkulit putih mulus itu.
"Nih ada mie, ini minumnya gantian, ya. Aku balik ke kantin dulu."
"Makasih, ya Om. Baik deh," ucap Dara menerima satu cup mie dan bersiap akan menyantapnya. Baru saja membuka mulut, cup itu sudah kembali di rebut Rifki.
"Panggil yang bener dulu, nanti aku kasih lagi," protesnya.
Dara berdecak, "iya, makasih, ya Kak. Udah beliin kita mie." Dara berucap dengan manis meskipun terkesan dipaksakan.
"Nah, gitu dong." Rifki mengembalikan mie itu sebelum kembali pergi.
Rifki kembali ke kantin dan membeli beberapa sosis bakar. Dengan senyum yang entah apa artinya ia berjalan ke arah di mana Jaka dan Ayu berada.
"Hai, sudah kuduga kau di sini, Jak. Si kembar ini anakmu?"
"Ah, iya. Ghiani dan Ghina."
"Hai anak-anak cantik. Ada yang mau sosis bakar?" Rifki menujukan sebuah mika yang berisi sosis bakar berukuran besar.
Mereka tampak senang dan menyusul Rifki yang berada tak jauh dari mereka. Rifki lalu membagikan sosis itu pada Anin dan kedua anak Jaka. Dengan telaten pria itu sesekali membersihkan mulut mereka yang penuh dengan saos dan mayones.
Jaka dalam hati merasa ketar ketir melihat perlakuan Rifki terhadap Anin. Ia resah dan gelisah dalam duduknya.
"Bentar-bentar, ada sesuatu di ujung mata kamu, aku ambil." Rifki mendekat wajahnya dan meniup-niup pelan mata Ayu yang sebenarnya tak ada apa-apa.
Jaka yang semakin tak nyaman mengajak kedua anaknya untuk pergi dari sana. Ia menyusul ibunya yang sedang duduk di salah satu saung. Ia berjalan dengan sesekali menengok ke arah di mana Ayu dam Rifki duduk.
"Nggak bisa, aku nggak bisa diem aja kalau begini caranya. Di terima atau nggak dan bagaimana caraku nanti menghidupi Ayu dan anak-anak itu urusan belakangan. Aku pasti bisa menghidupi mereka. Aku sehat dan ada kerjaan. Persetan dengan uang," gerutu Jaka menahan kesal.
Sementara itu, Rifki hanya menatap punggung Jaka dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya kenal Jaka?"
"Seneng, lah. Dia baik, punya keluarga harmonis, penyayang, cara dia natap aku membuatku merasa cantik. Eh kenapa jadi tanya ini? Kenapa, sih orang-orang pada aneh aku rasa. Nggak Jaka nggak kamu, pada aneh," cibir Ayu sedikit salah tingkah. Ia menyadari bahwa ia salah bicara di akhir jawaban tadi.
"Emang beda tatapan aku sama Jaka?"
Ayu menatap mata Rifki dan menelitinya. "Beda, tatapan kamu tatapan sayang," jawabnya kemudian.
"Kalau Jaka?"
"Jaka tatapannya dalam dan hangat. Itu yang aku lihat dari caranya menatap keluarganya."
"Bagaimana kalau Jaka dan aku jatuh cinta sama kamu. Mana yang akan kamu pilih sebagai suami kamu?"
"Nanyain apa, sih Rif. Jangan tanya aneh-aneh, lah," protes Ayu.
"Nggak, apa salahnya aku pengen tahu aja. Ya barangkali Jaka jatuh hati beneran sama kamu, kan."
"Iya tanya doang, aku. Emang kamu nggak mau nikah lagi apa gimana?"
"Ya mau, aku juga mau punya sandaran pas pulang kerja, cape, pengen punya teman curhat. Tapi aku juga nggak mau menaruh harapan sama siapapun."
"Jadi pilihan kamu?"
"Ya Jaka, lah. Aku sayang kamu sebagai kakak, nggak mungkin aku jadikan kamu sebagai suamiku dan tidak akan pernah mungkin. Aku sayang ke kamu, tuh ada tempatnya sendiri. Nggak ada yang bisa gantikan bahkan ketika aku menikah lagi nantinya. Aku nggak mau kehilangan kamu sebagai satu-satunya keluarga aku yang masih ada," terang Ayu merubah ekspresinya menjadi serius.
Sakit. Itulah yang dirasakan Rifki. Tapi, memang inilah resiko seseorang mencintai dalam diam. Ia paham betul itu, sudah belasan tahun memendam sendirian, tapi ternyata Rifki tak dapat tempat di kehidupan Ayu. Tempat Rifki hanyalah seorang kakak dan tidak akan pernah lebih.
"Kamu suka sama Jaka?"
"Kan kamu kasih pilihan antara kamu sama Jaka. Kalau aku nggak mungkin milih kamu, ya jelas aku milih Jaka."
"Kalau ada pilihan lain?"
__ADS_1
"Jaka juga. Yang aku kenal, kan Jaka. Kalaupun kamu kasih aku pilihan lain ya aku akan pilih Jaka."
"Lebih baik siapa antara Jaka dan aku?"
"Muter-nuter banget, si Rif. Udah aku bilang kamu, tuh ada tempat sendiri di kehidupan aku. Kamu sama Jaka bukan bandingan. Kamu juga nggak pantas dibandingkan dengan siapapun," jawab Ayu dengan kesal.
"Kamu cinta sama Jaka?"
"Aku nggak tahu." Kali ini Ayu menjawab dengan nada kesal.
"Eh, Jaka lagi ngobrol sama siapa, tuh?" tunjuk Rifki ke arah Jaka yang sedang berbincang dengan seorang wanita. Terlihat wanita itu sedang mengajak bicara si kembar juga.
"Ya mana aku tahu, Rif." Ayu hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada anaknya.
"Jaka mudah akrab sama orang, ya?"
"Belum selesai juga kamu tanya soal Jaka?" Ayu semakin dibuat kesal.
"Kamu anggap aku kakak, kan? Salah kalau aku tanya-tanya siapa aja yang dekat sama kamu. Aku nggak mau kejadian yang lalu terulang lagi. Aku begini juga lagi jaga hati kamu biar nggak sakit. Kamu cukup dekat dengan orang-orang yang bawa energi positif dan mereka yang baik-baik. Nggak usah dekat sama orang yang neihat kamu hanya karena iba, hanya karena kamu sukses dan banyak uang. Itu aja, Yu. Siapa memang yang akan ngingetin kamu atau melindungi kamu selain aku?"
"Kamu nggak usah khawatir, Rif. Jaka dan keluarganya memang benar-benar baik. Kamu juga kenal ibunya bagaimana, kan? Apa lagi yang kamu ragukan dari meraka?"
"Iya, aku tahu."
Rifki menanyakan semua itu bukan tanpa sebab. Ia yang mendengar semua pembicaraan Ayu dan Jaka, ia menyimpulkan bahwa Jaka menaruh hati pada Ayu. Namun, nampak ada kekhawatiran tersendiri di hati Jaka yang tak Rifki ketahui.
"Kamu merasa aman dan nyaman saat sama Jaka?" tanyanya lagi setelah beberapa saat terdiam.
"Iya, jangan tanya kenapa! Aku juga nggak bisa jelasin. Yang jelas, aku seperti menemukan sosok lain yang mengerti aku selain kamu."
Rifki manggut-manggut, ia mengerti apa yang harus ia lakukan. Sekali lagi mungkin saja sebentar lagi ia akan kembali merasakan sakit hati yang kedua kalinya.
Namun, kali ini ia tak mau melepas Ayu begitu saja seperti saat menikah dengan Anang. Rifki harus menginterogasi Jaka dan menanyakan perasaannya pada Ayu. Jika memang Jaka adalah sosok pengganti dirinya yang akan menjaga Ayu dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Maka ia akan melepaskan Ayu untuk kedua kalinya. Tapi jika tidak, akan jauh lebih baik jika Ayu sendiri saja. Terdengar sangat egois, tapi dalam kenyataannya, hanya Rifki lah yang mampu ada di sisi Ayu dalam keadaan apapun dari dulu hingga detik ini.
__ADS_1