Pamit

Pamit
37. Kritis


__ADS_3

"Dok, bagaimana keadaannya? Kenapa sejak tadi anak ini tidak bangun?" Seorang wanita yang dilanda kecemasan dan kepanikan sejak tadi tak henti-hentinya bertanya.


"Pasien kritis, Bu. Kita berdoa sama-sama supaya pasien bisa segera sadar. Benturan di kepala cukup keras, itu sebabnya pasien kritis." Dokter laki-laki itu pergi dari ruangan setelah memberikan penjelasan singkat.


Gita, wanita yang tak sengaja menabrak Alif saat dirinya baru saja menambah kecepatan. Tak sempat menginjak rem membuat Gita menabrak Alif dan menyeret Alif beberapa meter.


Sejak tadi wanita itu mondar-mandir di dalam ruang Alif. Ia sama sekali tak tahu identitas anak ini. Ia tak hanya memikirkan anak kecil ini, tapi juga orang tuanya yang pasti bingung mencari anaknya.


.


*


Ayu kehabisan kata untuk menjawab ucapan mantan ibu mertuanya. Dengan kasar Ayu meraih tangan bu Lasmi dan menyeretnya keluar kamar.


Bu Lasmi yang belum sembuh benar dari gejala stroke yang menyerang hanya mampu menahan sakit karena mengimbangi langkah Ayu yang cepat dan membabi buta. Dua laki-laki yang berada di sana hanya terbengong melihat Ayu yang kesetanan.


"Wanita sialan! Kamu mau bawa kemana saya? Lepaskan! Dasar wanita tidak punya etika. Anang, tolong ibu, kenapa kamu hanya diam melihat ibu diperlakukan seperti ini?" Bu Lasmi tak henti-hentinya meracau meminta tolong.


"Apa kau bilang? Aku wanita tidak punya etika? Lalu aku harus menyebutmu apa? Membuang anak yang tidak tahu apa-apa! Kau boleh membenciku, silakan saja aku tidak peduli. Kau perempuan, sama sepertiku, bagaimana perasaanmu jika aku juga membuang anakmu?" Ayu sudah kalap, ia pun akhirnya berteriak di depan wajah bu Lasmi.


"Bukannya kau memang sudah membuang anakku? Kau tinggalkan Anang demi laki-laki yang katamu supir taksi online ini. Jangan merasa paling tersakiti jika dirimu sendiri juga menyakiti orang lain!" Bu Lasmi sama sekali tak mau kalah. Wanita itu bicara tak kalah lantang seraya mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Ayu.


"Turunkan atau aku potong jarimu! Jangan mengalihkan pembicaraan dengan membahas yang sudah berlalu. Anakmu saja sudah merelakan aku pergi, kurang puas kau sakiti aku? Sekarang ikut aku, tunjukkan di mana kau meninggalkan anakku sendirian!" Ayu kembali meraih tangan Bu Lasmi dan menyeretnya keluar.


Wanita tua itu berteriak meminta bantuan dari anaknya. Sementara anaknya hanya melihat keduanya. Ia sendiri bingung harus bagaimana, di satu sisi ia kasihan melihat ibunya, namun di sisi lain apa yang di perbuat ibunya adalah kesalahan.


"Masuk!" dorong Ayu serta bicara dengan nada bentakan.


"Mau bawa saya ke mana kamu?"


"Ikut aku dan tunjukkan di mana kau buang anakku!"

__ADS_1


"Tidak mau, lagian kalau mau cari, ya cari sendiri saja! Anak itu saya buang ke alas." Bu Lasmi melipir pergi dengan kaikinya yang masih terpincang-pincang.


Ayu melangkah hendak mengikuti langkah wanita tua itu namun, tangannya di cekal oleh Jaka. Pria itu menggeleng pelan. Ayu kembali akan menepis tangan Jaka, tapi cengkraman itu ternyata cukup kuat.


Dengan ekspresi memohon, Ayu menatap Jaka dengan mata yang sudah penih dengan air.


"Kita cari Alif besok. Aku janji aku akan temani kamu, kita cari sama-sama." Jaka meletakkan tangannya di kedua sisi pundak Ayu.


"Mana bisa, Mas? Aku nggak akan tenang sebelum aku temui Alif. dia pasti takut, kelaparan, dia pasti cari aku." Suara Ayu kembali bergetar. "Aku harus membuat wanita itu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku harus minta dia buat cari Alif sampai dapat." Ayu kembali akan melangkah.


"Ayu! Dengerin aku, kamu lagi emosi. Aku yakin Alif pasti akan baik-baik saja. Dia bakal kuat, bukankah dia sudah mandiri? Jangan buat tangan dan mulutmu berdosa karena sudah memperlakukan orang tua seperti itu. Aku tahu dia jahat, tapi kamu nggak seperti dia, kan? Jadi sekarang kita pulang, kita istirahat, kita pulihkan tubuh untuk besok."


"Tapi...."


"Sudah, kia pulang sekarang, ya!"


Dengan terpaksa Ayu menganggukkan kepalanya. Dengan ogah-ogahan pula wanita itu masuk ke dalam mobil.


"Tanpa mengucap kata janji pun harusnya kau cari dia sampai dapat. Kau terlalu lalai menjaga satu anak saja."


*


Setelah adzan subuh berkumandang, Jaka pergi ke tempat terdekat di mana Alif di tinggalkan bu Lasmi. Ia membawa beberapa lembar poster foto Alif, ia berencana akan menempel poster itu di beberapa tempat.


Jaka rela melakukannya, karena ia tak tega melihat Ayu yang sepanjang perjalanan pulang semalam hanya terpaku diam memikirkan anaknya. Ia juga orang tua, ia tahu bagaimana perasaan Ayu yang mengetahui anaknya tak jelas keberadaan dan keadaannya.


Setelah semua poster terpasang, Jaka kembali pulang. Ia dan Ayu sudah sepakat untuk ke perkebunan yang di katakan Anang. Besar harapan mereka untuk menemukan Alif di sekitar sana.


"Makasih, ya Mas. Kamu udah bantu aku banyak. Kamu sampai nggak narik, aku akan bayar kerugian kamu untuk hari ini, Mas." Jujur saja Ayu merasa sungkan, namun di sisi lain ia juga tak tahu harus minta tolong pada siapa.


"Nggak usah di pikirkan. Berangkat sekarang aja, ya. Keburu siang."

__ADS_1


Ayu dengan mata sembabnya terus menggerakkan mulutnya dengan pelan. Ia tak henti-hentinya berdoa degan linangan air mata sejak semalam. Jaka semakin tak tega melihat kesedihan Ayu.


Di tengah pencariannya, dering ponsel Ayu berdering. Ia melihat deretan angka di layar ponselnya.


"Iya, halo," sapa Ayu


"Bapak serius, posisi Anda sekarang di mana, Pak? Saya ke sana," ucap Ayu yang membuat Jaka mengernyit.


"Ada apa?"


"Ada informasi di mana Alif, ayo kita ke sana, Mas. Bapaknya udah kirim lokasi, nggak jauh dari sini, sih ini kayaknya," terang Ayu mengecek ponselnya.


Mereka berdua bergegas pergi dari kebun yang lebih pantas disebut alas itu. Hanya menghabiskan waktu tiga menit saja untuk sampai di titik lokasi.


Mereka turun di sebuah rumah minimalis tanpa pagar. Ada sosok pria yang duduk di teras mungil nan bersih itu. Beliau tampak menghampiri keduanya.


"Mbak Ayu, ya?"


"Ah, iya, Pak. Saya ibunya anak yang ada di foto itu. Bapak lihat anak saya di mana, Pak?" Bahkan mereka masih berdiri di trotoar, Ayu langsung saja bertanya tanpa basa-basi.


"Saya lihat kemarin agak siangan gitu, yah kira-kira pukul sepuluh. Tapi anak Mbak saya temui dalam keadaan kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit sama yang tabrak."


"Kecelakaan?" ulang Ayu lirih dan dalam waktu bersamaan tubuhnya sedikit limbung sampai hampir terjatuh.


Ayu seperti mendadak lemas, seakan semangat yang semula membara kini entah hilang ke mana. Nafasnya terasa sesak oleh kenyataan yang baru saja menghantamnya.


"Ayu, tenang, Yu. Pak boleh kami menumpang duduk?" Jaka panik seketika saat melihat Ayu yang tiba-tiba saja terasa lemas dan terlihat kesulitan bernafas.


"Silakan, Mas. Saya ambilkan air sebentar." Pria yang kira-kira berusia empat puluh delapan tahun itu dengan buru-buru masuk rumah.


"Ayu, berpikir tenang, please! Jangan begini, kasihan anak-anak kamu. Yuk tarik nafasnya dalam dan keluarkan pelan-pelan." Jaka sudah persis seperti dokter dadakan, bahkan ia sampai memperagakan sendiri apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2