
Satu tahun berlalu, tak ada perubahan yang signifikan dari hubungan Ayu dan Jaka. Mereka masih menjalani hubungan yang lebih pantas disebut hubungan tanpa status.
Saling memberi perhatian, saling cemburu, saling peduli satu sama lain tapi tak ada ikatan yang mengikat mereka. Lelah? Jangan ditanya! Satu tahun bukan waktu yang sebentar bagi dua insan yang saling mencintai tapi tak kunjung hidup bersama. Menyerah? Jangan harap! Lelah boleh, menyerah tidak ada di kamus hidup Jaka.
Cinta Jaka tak termakan oleh waktu, justru semakin lama cinta itu semakin tumbuh subur bagaikan tanaman yang rajin dipupuk. Restu yang belum ia kantongi tak membuatnya patah semangat untuk terus berjuang. Ia menganggap ini adalah ujian cintanya, Tuhan sedang menguji seberapa kuat rasa yang ia miliki, seberapa besar sabar yang ia punya dan seberapa tangguh ia berjuang.
"Yu, anak-anak udah tidur?" tanya Jaka melalui sambungan video call.
"Udah, Mas. Udah tidur semua. Kamu masih aja nanya, kan kamu tahu jam tidur meraka. Gimana nggak tahu, orang kamu yang atur jam tidur mereka biar barengan. Aku jadi malu, yang punya anak siapa, nurutnya sama siapa."
"Kenapa malu? Mereka anak-anakku juga. Kamu lagi ngapain itu? Aku atur jadwal tidur anak-anak bukan buat kamu kerja leluasa, ya. Biar kamu bisa istirahat juga. Kamu kalau dikasih tahu kenapa ngeyel banget, sih? Udah dong, waktunya istirahat, aku begini karena sayang sama kamu, aku nggak mau kamu cape-cape. Nurut sama suami!" omel Jaka yang seketika mengatupkan mulutnya karena ia malu dengan kalimat terakhir yang ia ucap.
"Ih, mukanya merah. Hahaha," ledek Ayu tertawa lepas.
Jaka diam memandang tawa Ayu yang begitu lepas dan bahagia. Menikmati suara khas Ayu yang begitu membuat Jaka semakin tergila-gila. Sadar di perhatian, Ayu berhenti tertawa seketika.
"Kenapa kamu lihatin aku begitu?"
"Diamlah, aku sedang menatap surga untuk anak-anakku."
"Apaan sih," ucap Ayu tersipu malu. "Jangan hobi ngegombal," imbuhnya menutupi salah tingkah yang semakin hari semakin kentara.
"Selain hobi menggombal aku juga hobi mencintaimu."
"Mas, udah dong. Kamu ih."
"Nggak mau. Aku nggak mau udahan mencintai kamu."
Tak mau salah tingkah terus menerus membuat Ayu putar otak untuk membalas gombalan Jaka. Belum sempat mulutnya membuka suara tiba-tiba saja lampu mati, semua gelap gulita, tapi anehnya hanya lampu milik Ayu saja yang mati.
"Yu, kenapa gelap?" tanya Jaka sedikit panik.
"Listrik di rumah aku mati, Mas. Sebentar aku cek mungkin sekringnya turun."
Ayu melangkah keluar dengan berbekal senter di ponselnya. Tanpa berpikir yang tidak-tidak ia membuka pintu yang sudah terkunci dan
__ADS_1
Bugh!
Ayu tersungkur tak sadarkan diri karena mendapat serangan mendadak. Entah siapa yang melakukannya, yang jelas pelaku pemukulan itu adalah seorang pria bertopeng. Suasana kompleks yang sudah sepi membuat pria itu leluasa melakukan pergerakan.
"Yu, Ayu tadi suara apa? Kamu kenapa diem aja? Kenapa nggak nyala-nyala lampunya? Yu jangan buat aku cemas." Jaka terus bertanya seraya berjalan keluar rumah. Ia mendengar suara pukulan yang begitu keras yang ia sendiri tak tahu asalnya dari mana.
Sementara pria bertopeng itu dengan gerakan cepat dan lihai mengobrak-abrik kamar Ayu mencari benda berharga dengan bantuan senter. Seakan sudah berpengalaman, pria itu dengan cepat menemukan benda-benda berharga milik Ayu berupa uang dan benda lainnya. Ia memasukkannya ke dalam kantong besar yang ia bawa.
Merasa cukup dengan apa yang ia curi, ia bergegas keluar rumah. Ia khawatir jika Ayu sadar atau ada orang yang melihat. Dengan tergesa-gesa pula ia melangkah keluar. Dan apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi, belum sempat ia sampai di teras, tiba-tiba lampu menyala dan menampilkan sosok Jaka di teras.
"Heh, maling ya, lu?" Entah mengapa Jaka melontarkan pertanyaan bodoh itu pada pria di depannya. Sudah jelas ia membawa sebuah kantong yang berat, kenapa masih ada pertanyaan yang terlintas dari mulutnya?
"Balikin, nggak! Gue teriak nih, taruh nggak tuh barang!" ancam Jaka dengan menunjuk-nunjuk kantong yang pria itu bawa.
"Mau? Ambil aja kalau bisa. Atau bagaimana kalau kita bagi hasil. Biar sama-sama enak," tawar maling itu.
"Oh nantang gue, lu. Berani lu sama gue, ha?" ujar Jaka seraya menggulung lengan bajunya. "Sini lu, langkahin dulu gue kalau lu mau bawa tuh barang," imbuhnya dengan memasang kuda-kuda.
Jaka yang sebenarnya tak bisa berkelahi itu mulai berkeringat dingin. Jantungnya berpacu dengan cepat. Badannya sedikit gemetar karena menahan lapar. Sejak sore tadi ia tak makan karena sibuk memikirkan gombalan yang akan ia lempar pada kekasihnya.
Disaat yang bersamaan Ayu sadar dari pingsannya. Ia berusaha duduk dengan memegang kepalanya bagian belakang. Rasa pusing yang diakibatkan oleh pukulan itu membuat Ayu linglung sejenak. Namun di detik berikutnya ia sadar bahwa ada pencuri di rumahnya.
Pertanyaan yang terlontar dari Ayu membuat maling itu merasa ingin tertawa. Baru kali ini ia maling di rumah orang yang oon nya kebangetan.
"Gue bukan maling, cuma mau minta ini," jawab maling itu santai menunjukkan kantong yang ia bawa. "Bukan maling lagi, kan kalau gue udah minta izin?" tanyanya.
Ayu semakin beringsut mundur, ia sembunyi di balik tubuh Jaka yang juga sama bergetar menahan takut.
"Yu, aku mau serang dia, begitu kami sibuk berkelahi, kamu panggil warga!" bisik Jaka dengan pandangan yang tak lepas dari maling itu.
"Kamu bisa lawan dia? Dia bawa senjata, lagipula kamu nggak bisa berantem, Mas. Nanti kamu kenapa-napa." Ayu khawatir dengan kondisi Jaka. Terakhir kali Jaka babak belur karena bertengkar dengan orang yang akan menjambret Ayu.
"Ya makanya kamu nanti minta tolong ke warga. Paling ntar aku cuma babak belur doang, udah biasa kayak gitu."
"Udahlah kalian diskusi dulu, gue pergi. Ntar kalau udah selesai diskusi gue balik lagi," ujar maling itu memajukan langkahnya.
__ADS_1
Dengan secepat kilat Jaka menendang dada maling itu sekeras-kerasnya. Karena mendapat serangan mendadak membuat maling itu terjungkal dan tak sengaja melepas barang yang ia bawa.
Tak mau melewatkan kesempatan, Ayu dengan terburu-buru mengambil barang miliknya dan berlari ke jalan untuk meminta bantuan. Sementara Jaka dan maling itu masih sibuk dengan adu pukul.
Sementara itu, keributan yang ditimbulkan oleh kedua pria yang amatiran dengan perkelahian itu membuat Alif terbangun. Ia keluar kamar dan mendelik terkejut melihat Jaka yang bertengkar di rumahnya.
"Om Jaka," teriak Alif yang sukses membuat Jaka lengah.
"Masuk kamar Alif!" teriak Jaka dan
Bugh!
Maling itu dengan kencang memukul kepala Jaka dengan senjata yang ia bawa. Ia berlari menjauh dari rumah Ayu secepat mungkin. Namun, nasib berkata lain. Saat sampai di jalan ia melihat Ayu dengan beberapa warga yang sudah meneriakinya.
Ayu kembali ke rumah, biarlah maling itu di urus oleh warga. Ia harus melihat kondisi Jaka, ia khawatir dengan wajah pria itu.
"Om Jaka nggak apa-apa? Kepala Om berdarah, Ibu!" teriak Alif yang bingung.
Mendengar teriakan Alif membuat Ayu semakin khawatir dan berpikir yang tidak-tidak.
"Nggak apa-apa Sayang, Om nggak apa-apa. Hanya luka sedikit saja," ujar Jaka yang meringis menahan sakit di kepala dan wajahnya yang penuh lebam.
"Astaga, kepala kamu kenapa ini? Ayo masuk aku obati." Ayu membantu Jaka berdiri dan menuntunnya ke dalam rumah.
Untuk kedua kalinya, Jaka babak belur karena Ayu. Jaka menahan sakit saat tangan-tangan Ayu menyentuh luka dan lebam yang menghiasi wajah Jaka.
"Sakit, ya Om? Makasih ya udah tolong Ibu. Om jadi luka-luka karena nolongin kita," sahut Alif yang nampaknya sudah mulai mengerti apa yang terjadi.
"Udah kewajiban kita sebagai sesama manusia tolong menolong, Nak. Kamu juga gitu nanti kalau sudah dewasa, ya. Kalau ada yang membutuhkan bantuan harus di tolong. Au pelan-pelan, Yu," protes Jaka di akhir kalimat.
"Di rumah kalian ini harusnya ada laki-laki dewasa yang tidur sini. Terlalu bahaya, kalau kejadian begini lagi dan pas aku nggak tahu bagaimana?" imbuh Jaka.
"Ya udah, Om tidur sini aja kalau begitu," sahut Alif dengan entengnya.
"Nggak boleh dong Sayang, kan Om sama Ibu bukan suami istri." Jaka yang menjawab.
__ADS_1
"Ya udah jadi suami istri aja kalau begitu."
"Ha?" Ayu dan Jaka kompak menampilkan ekspresi terkejut.