
Tiga bulan berlalu
Semenjak hari itu Rifki dan Dara memulai kegiatannya dari awal. Dara yang mulai sibuk dengan kembalinya ke kampus, sedangkan Rifki sibuk bekerja sebagai taksi online seraya menaruh beberapa lamaran pekerjaan beberapa perusahaan besar. Ia tahu ini akan sulit, tapi setidaknya ia sudah mencoba semaksimal mungkin.
Belum ada tanda-tanda bahwa ia akan segera mendapat panggilan dari beberapa perusahaan yang ia kirimi surat lamaran. Tak masalah baginya, bekerja sebagai sopir taksi online saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga menabung meski tak sebanyak dahulu.
"Bu, ini uang belanja untuk bulan ini, ya. Seperti biasa nanti kalau kurang kasih tahu aja." Rifki memberikan beberapa lembar uang untuk kebutuhan sehari-hari dirinya dan juga ibunya.
"Ini sebenarnya, tuh kebanyakan Rif." Bu Rini mengambil sebagian uang itu dan mengembalikannya kepada Rifki.
"Ini saja sudah cukup. Untuk yang ini bisa kamu tabung untuk masa depan kamu nantinya."
"Beli apa yang Ibu mau. Aku sudah sisihkan untuk tabunganku. Lagipula nanti kalau aku sudah menikah, aku nggak bisa manjain Ibu sepenuhnya. Karena aku harus membagi kasih sayangku dan juga waktu untuk istriku juga. Jadi selagi aku masih belum punya istri biarkan aku memanjakanmu sepuas hatiku. Nanti kalau aku udah nikah aku nggak bisa manjain sepenuhnya, tapi aku janji aku akan tetap membahagiakan Ibu dan juga istriku nantinya, tanpa menyakiti atau menyinggung satu sama lain. Kalian berdua seperti udara dan paru-paru untukku, tidak ada salah satu di antara mereka aku tidak bernyawa."
"Melihat kamu bahagia saja sudah lebih dari cukup, Ibu nggak minta apa-apa dari kamu. Oh, ya Rif, kalau kamu nanti udah menikah apa akan meninggalkan Ibu juga seperti Mbakmu? Cari rumah di sekitar sini saja biar Ibu nggak kesepian."
"Aku juga mau ngajak Dara tinggal di sini aja. Bu Lin di sana juga sendirian, sih. Tapi, kan udah ada Jaka di sana. Rumahnya cuman jarak satu atau dua rumah di rumah Bu Lin. Jadi aku rasa nggak akan ada yang keberatan kalau Dara akau bawa pergi dari sana mudah-mudahan, sih begitu."
"Perempuan itu nggak mudah untuk tinggal satu atap dengan mertuanya, Rif. Aku takut kalau nanti malah Dara nggak krasan."
"Wanitaku beda dari wanita yang lain, Ibu. Pokoknya Ibu nggak usah khawatir, nanti kalau Ibu nggak yakin, biar aku bahas ini sama Dara. Lebih cepat lebih baik. Aku berangkat narik, dulu, ya. Minta doanya supaya aku bisa dekat kerja di kantoran lagi. Udah kangen pakai kemeja sama kaca mata," ujar Rifki terkekeh.
"Tanpa kamu minta sudah Ibu doakan. Sekarang, masih belum di kasih sama Allah, biar kamu lebih sabar lagi. Ya udah sana berangkat. Hati-hati dalam melakukan apapun, ingat ada Ibu yang nunggu kamu di rumah. Dan ada hati yang menunggu kamu memberi kabar."
__ADS_1
Rifki mengangguk tersenyum lalu mencium punggung tangan sang Ibu dan berlalu dari hadapannya.
Setiap pagi sebelum Rifki membuka aplikasinya untuk menerima pesanan, ia selalu mengantar Dara terlebih dahulu ke kampus. Sejak pertama kali gadis itu kembali aktif kuliah, di hari itu juga Rifki yang mengantarnya ke kampus. Ia tak mengizinkan Dara untuk ke mana-mana sendirian. Meskipun itu hanya ke jalan raya, Dara harus pergi dengan ditemani oleh seseorang. Ia tak mau kejadian beberapa waktu lalu kembali menimpa kekasihnya. Bukan bermaksud untuk berpikir buruk, tapi alangkah baiknya jika kejadian buruk diminimalisir agar tidak kembali terjadi.
"Kak kita mampir ke supermarket dulu ya ada yang mau aku beli."
"Apa? Jangan jajan terus, nggak baik ngemil snack mulu."
"Beli keperluan perempuan. Emang supermarket cuman jualan snack doang apa?"
"Ya udah cepat masuk cepat kembali."
Dara turun dari mobil dengan setengah berlari. Namun, entah apa yang terjadi setelah beberapa menit kemudian Dara kembali dengan berlari dan menampakan wajah ketakutan. Ia cepat-cepat masuk mobil dan menenggelamkan kepalanya di kedua telapak tangannya. Mulutnya terus meracau.
"Dek, kenapa? Ada apa? Ada yang jahatin kamu? Tenang dulu, tenang. Ada aku." Rifki menyeret kekasihnya untuk masuk ke dalam dekapannya. Mengelus elus pelan punggungnya, berharap dengan sentuhan sederhana itu bisa membuat gadis itu lebih tenang.
"Dia ada di sini, Kak. Aku bertemu dengannya di dalam. Aku takut." Dara bicara dengan isakan. Kepalanya masih ia sembunyikan di dada bidang Rifki.
"Dia siapa? Ada aku jangan takut, aku akan melindungi kamu. Nggak ada yang nyakitin kamu."
"Malam itu, Kak. Dia yang melakukannya ada di dalam. Ayo pergi, aku nggak mau di sini," rengek Dara.
"Apa? Dia ada di sini. Justru kita harus tunggu di sini sampai dia keluar."
__ADS_1
"Untuk apa? Aku takut, bagaimana kalau dia lihat aku dan..." Dara kembali menangis.
"Dek, nggak ada yang bisa sakiti kamu. Percaya sama aku, ada aku di sini. Kamu percaya aku bisa jaga kamu, kan? Kita harus cari tahu di mana dia tinggal. Nanti biar aku yang lapor polisi. Aku nggak rela dia berkeliaran dengan mudah tanpa rasa dosa, sedangkan kamu harus menderita. Ayo, bantu aku dan diri kamu sendiri untuk mencari keadilan. Tatap ke depan, kasih tahu aku kalau dia keluar. Kita ikuti dia. Setidaknya kalau kita nggak tahu rumahnya, kita tahu plat kendaraan yang dia tumpangi."
"Jangan diikuti, Kak. Lihat aja nomor platnya. Aku nggak mau, aku takut. Tolong, aku masih takut lihat dia."
Rifki tak tega melihat Dara yang begitu memohon untuk tidak mengikuti pria yang sudah merusak hidupnya. Akhirnya ia putuskan untuk mengikuti apa yang Dara minta. Biar bagaimanapun, kondisi Dara lebih penting dari apapun.
"Ya sudah, aku akan cari tahu nomor kendaraannya saja. Yuk tetap depan."
Dara memberanikan diri mengangkat kepalanya dan duduk dengan sempurna. Menatap ke depan dengan rasa was-was yang dominan. Ia berusaha untuk tetap berani di bawah genggaman tangan Rifki yang begitu memenangkan dirinya.
Hanya berselang sepuluh menit saja, pria bertubuh besar, kulit hitam, dan wajah sangar terlihat keluar dari supermarket dengan membawa sebuah tentengan di tangan kanannya. Dan di saat bersamaan, tiba-tiba nafas Dara naik turun dengan cepat, keringat di dahi mendadak bermunculan, genggaman tangannya semakin ia eratkan. Tanpa perlu banyak bicara, Rifki menatap ke arah di mana Dara memfokuskan perhatian.
Rikfi yang benar-benar peka itu seketika mengerti apa yang membuat calon istrinya kembali mengingat masa lalunya.
"Udah aku ambil foto dia. Nomor kendaraan juga sudah. Nanti biar aku urus, aku akak minya bantuan ke temen aku biar gampang. Ini minum dulu." Rifki menyodorkan segelas air mineral yang sudah ia buka terlebih dahulu tutupnya.
Entah haus atau karena ia sedang merasa ketakutan, Dara menenggak hingga air tersebut tersisa setengah.
"Barangnya tadi belum sempat kebeli, ya? Ayo aku temani kamu masuk. Apa kamu tunggu di sini, biar aku yang masuk. Aku akan kunci mobilnya. Lagipula dia sudah pergi. Nggak akan ada yang akan ganggu kamu di pagi hari dan di tengah keramaian begini. Mau beli apa?"
"Pembalut."
__ADS_1
"Ha?"