Pamit

Pamit
52. Karma Tak Semanis Kurma


__ADS_3

Ayu masih terdiam, ia masih syok dengan apa yang ia dengar. Rasanya ingin tak percaya tapi telinganya dengan jelas mendengar kata demi kata yang terlontar dari mulut Jaka.


Kalimat ungkapan perasaan tadi masih berjejal di telinganya. Bahkan saat angin bertiup kencang kalimat itu tak ikut terbawa olehnya.


Jaka pun sama, ia juga terdiam menanti jawaban atas apa yang ia minta. Semilir angin yang berhembus seakan menambah kegugupan yang di rasa Jaka. Tidak adakah yang bisa membantunya untuk segera pergi dari situasi yang mencekam seperti ini?


"Ayu, kamu masih dengar aku?" Jaka memberanikan diri untuk bersuara.


"Ha, iya aku masih dengar. Maaf aku telalu syok dengan apa yang kamu utarakan." Ayu menjawab dengan jujur. "Maaf, Mas bolehkah aku tidak menjawab sekarang. Hidupku sekarang bukan hanya untukku, kamu tahu itu. Jika aku memutuskan untuk menikah lagi, juga bukan hanya untukku, tapi untuk anak-anakku juga. Aku yakin kamu paham ini. Izinkan aku untuk membicarakan ini dengan Alif. Dia sudah mengerti dengan keadaan orang tuanya. Pasti akan tidak adil jika aku mengambil keputusan sebesar ini tanpa bicara padanya. Sebelumya aku mau bertanya padamu, sudah yakinkah kamu dengan pilihan yang kamu ambil? Menikahi janda anak tiga tidak mudah, Mas. Apalagi kamu punya dua anak juga." Ayu bertanya sekali lagi.


"Sangat yakin. Aku sudah memikirkannya dengan lama, Yu. Memang kenapa kalau kita sudah bawa anak dalam pernikahan? Aku tidak pernah mempermasalahkan status kamu janda anak berapa. Kalau cinta sudah bicara kamu mau apa? Aku cinta sama kamu dan apa yang kamu punya, udah itu aja. Apa kamu ragu bahwa aku bisa menafkahi kalian?"


"Tidak, Mas. Bukan itu," jawab Ayu cepat. "Aku juga tidak mempermasalahkan uang. Uang bisa kita cari sama-sama. Beri aku waktu untuk bicara ini pada Alif. Untuk sementara bawalah ini dulu. Akan aku minta ini jika memang Tuhan mengizinkan kita bersama." Ayu menutup kotak perhiasan itu dan mengembalikannya pada Jaka.


Pria itu menerima dengan berat. Tapi ia harus menghargai keputusan Ayu untuk membicarakan hal ini pada anaknya. Biar bagaimanapun yang dikatakan Ayu benar. Alif sudah cukup mengerti dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.


*


Anang dengan malas bersiap ke rumah sakit di mana ibunya di rawat. Ia malas bukan karena akan bertemu ibunya atau masih marah dengan wanita yang sudah melahirkannya itu. Ia merindukannya juga, ia hanya tak suka dengan keadaan yang sekarang. Ia membayangkan pasti ibunya akan sangat terpukul dan sedih melihat kondisi anaknya yang tak lagi sehat seperti dulu. Apalagi kini tubuhnya semakin kurus tak terurus.


"Sudah siap, Mas? Mas apa kamu nggak ribet ke mana-mana harus pakai tongkat begitu? Akan aku belikan kaki palsu jika kamu mau," tawar Galuh.

__ADS_1


"Nggak usah. Pakai ini saja, toh aku juga nggak tahu sampai kapan aku bisa menghirup udara segar."


"Kok ngomongnya gitu, sih Mas."


"Memang benar, kan? Kita tak tahu umur kita sampai kapan."


Anang sudah pesimis dengan hidupnya sendiri. Ia tak tahu sampai kapan akan bertahan dengan sel kanker yang terus beranak pinak dan berkembang biak. Dokter menyarankan untuk kemoterapi tidak ia laksanakan barang sekalipun, bukan sayang dengan uangnya, ia bisa mencari uang untuk kesembuhannya jika ia mau. Tapi, ia lebih memilih untuk membiarkan sakitnya saja, bukan tanpa alasan ia seperti itu. Ia merasa hidup atau tidaknya dirinya sudah tak berarti bagi siapapun. Kehadirannya sudah tak dibutuhkan oleh siapapun, lalu ia sembuh untuk siapa?


Hening. Itulah yang terjadi di sepanjang perjalanan Anang dan Galuh. Hanya derap langkah yang menemani mereka dalam perjalanan menuju ruangan ibu mereka.


Ceklek


Pintu terbuka. Anang masih bersembunyi di balik benda persegi itu. Menatap Galuh dengan ragu.


"Aku takut melihat reaksi Ibu, ini bukan pilihan yang baik, Luh. Aku khawatir jika Ibu tahu kondisiku akan semakin memperburuk keadaannya." Anang melangkah sedikit menjauh dari pintu.


"Mas, maaf aku sudah berbohong padamu. Darah tinggi Ibu tidak kambuh, tapi dia sudah terkena stroke, Mas. Dia masih tak sadarkan diri, sudah beberapa hari di rawat di sini."


Lagi! Untuk yang entah ke berapa kalinya jantung Anang terasa di remas oleh tangan yang tak terlihat. Nyawanya terasa di ambil paksa oleh Tuhan. Ya, sesakit itu Anang saat ini. Tuhan benar-benar sudah menghukum mereka secara kontan.


Hidup dan keluarganya berantakan sudah. Anang merasa sudah menjadi sampah yang memenuhi dunia. Berada di titik terendah dalam hidupnya dan kini kembali di timpa runtuhnya dunia miliknya.

__ADS_1


"Stroke?" gumam Anang lirih seraya berjalan ke dalam ruangan.


Matanya memanas begitu melihat ibunya yang tak sadarkan diri dengan bibir yang sedikit meleyot. Matanya menelisik seluruh tubuh yang terbaring lemah di ranjang, semakin kurus dan banyak keriput yang mulai menghiasi kulitnya.


Anang membenamkan kepalanya di tepian ranjang, dengan pundak bergetar ia berusaha menekan suaranya yang terisak. Baru kali ini ia menangis di depan adiknya. Biarlah harga dirinya runtuh seketika, ia sudah tak memiliki apapun saat ini bahkan senyuman sekalipun.


"Aku bingung, Mas. Kenapa cobaan tak henti-hentinya menimpa kita. Aku yang bingung dengan kondisi rumah tanggaku yang juga entahlah. Istriku sering uring-uringan sejak aku ke sana kemari untuk rawat Ibu juga. Kamu yang dengan kondisi yang seperti ini, dan sekarang Ibu yang entah bagaimana aku menyebutnya. Stroke di usia Ibu adalah kenyataan berat. Tidak ada harapan untuk kembali seperti sedia kala. Aku jadi berpikir, sumpah serapah apa yang Mbak Ayu ucapkan hingga keluarga kita begitu terombang-ambing seperti ini." Galuh bicara panjang lebar dengan tatapan menerawang.


"Atas dasar apa kaku berpikiran seperti itu?" tanya Anang mengangkat kepalanya.


"Semua ini terjadi setelah kepergian Mbak Ayu."


"Jangan salahkan siapapun. Aku kenal Ayu, sebenci apapun dia dengan seseorang, dia nggak akan berdoa yang jelek pada orang lainnya. Meskipun kita begitu jahat padanya. Dia marah dan kecewa tapi untuk beberapa saat, tapi marahnya Tuhan suatu musibah bagi kita. Aku menyakiti Ayu begitu dalam, mungkin sampai sekarang luka itu masih berdarah dan bernanah. Masih meninggalkan bekas yang entah kapan hilangnya. Manusia bisa menyembuhkan lukanya dengan caranya sendiri, tapi tidak dengan bekasnya. Bekas yang entah bisa hilang atau tidak, pasti akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Seperti yang aku alami saat ini. Semua berawal dariku, aku sudah gagal menjadi sosok suami dan anak. Seandainya saja waktu bisa ku ulang, aku ingin memperbaiki semuanya."


"Aku juga turut andil dalam semua yang terjadi. Seandainya saja aku bisa tegas dengan istriku, pasti aku bisa membantu perekonomian Ibu. Mbak Ayu benar, tidak seharusnya semua kebutuhan dilimpahkan padamu, akar dari permasalahan ini sebenarnya tidak lain dan tidak bukan, mau terima atau tidak, semua berawal dari uang."


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah mendukung ku dengan membaca kisah Ayu dari awal hingga sekarang. Aku merasa ucapan terima kasih saja kurang, tapi hanya itu yang aku bisa berikan ke kalian semua. Aku berharap kalian terus dukung karya-karya aku selanjutnya, besar harapanku untuk sukses di sini agar aku bisa memberikan hadiah kecil untuk kalian semua. Doakan, ya mudah-mudahan aku bisa. Maaf aku tidak bisa membalas komen kalian satu persatu 🙏. Tapi percayalah aku selalu senang membaca komen kalian, entah itu komentar marah, dukungan dll.


Oh, ya. aku ada novel yang masih anget juga di pf G. Jika kalian mau baca spill di komen, ya. Nanti aku spill judul novelnya.


__ADS_2