
Ayu berlari ke arah kedua anaknya yang semakin dekat dengan Anang. Ia tak pernah mengajari Alif untuk mengatakan hal menyakitkan begitu pada orang tuanya. Sebenci apapun Ayu, tak mungkin ia mendidik anaknya untuk tidak mengakui ayahnya sendiri.
"Sayang, tenang, Nak. Tenangkan dirimu, anak Ibu tidak seperti ini. Anak Ibu Baik, kan? Banyak orang sayang, nggak boleh bicara kasar begitu, ya." Ayu berjongkok dan menenangkan Alif. Sementara Agil hanya berdiam diri seraya menatap Ibu dan kakaknya.
"Aku nggak mau dia ada di sini, Ibu," jawab Alif lirih seraya menunjuk Ayahnya.
"Iya, tapi tidak boleh begitu cara bicaranya. Sekarang Alif masuk, main lagi sama teman-teman yang lain, ya. Dar, tolong bawa anak-anak masuk, ya," titah Ayu setengah berteriak memanggil Dara.
Gadis itu segera berlari dan membawa Alif dan Agil menjauh dari sana. Meskipun Agil nampak berat meninggalkan sang Ayah. Semua orang kembali masuk ke dalam rumah, kecuali Jaka dan Rifki yang masih mematung di teras. Mereka saling tatap melihat kondisi Anang yang sekarang.
Ayu yang juga sama terkejutnya dengan Jaka dan Rifki berusaha menutupinya. Dengak pelan ia berjalan ke arah mantan suami yang sedang mengelap pipinya yang sudah basah.
Ayu sadar, Anang tak bersalah sepenuhnya dalam hilangnya Alif beberapa waktu lalu. Tapi, ia juga tak bisa memaksakan Alif agar tak membenci Ayahnya, karena memang Anang juga sudah menyakiti ketiga anaknya dan dirinya. Berada di posisi Ayu tidaklah mudah, ia di posisi yang serba salah.
"Maaf, aku merusak acara kalian. Aku tadi sebenarnya juga mau pergi dari sini, tapi Agil memanggilku," ucap Anang berusaha untuk kuat.
"Apa yang terjadi padamu?" Ayu tak fokus dengan ucapan Anang. Ia terlalu fokus dengan kondisinya yang lebih mengenaskan dari pada pertemuan terakhirnya.
"Ya beginilah, aku sekarang. Aku sedang menjalani masa hukuman dari Tuhan sekaligus penebusan dosa. Mungkin nggak seberapa dari sakit yang aku torehkan dalam hati dan hidup kamu. Aku nggak apa-apa, kok. InsyaAllah aku ikhlas."
Ayu berkaca-kaca mendengar penuturan dari mantan suaminya. Inilah hal yang dibenci Ayu, Anang sudah sangat menyakitinya dan melihat kondisinya yang sekarang, rasa sakitnya yang dahulu terkalahkan oleh rasa ibanya. Entah mengapa hati Ayu selemah ini jika melihat hal-hal yang menyedihkan.
"Oh, ya ini ada hadiah kecil buat Agil. Aku minta maaf aku hanya bisa beri hadiah yang nggak seberapa harganya. Mudah-mudahan Agil suka. Sampaikan salam sayang dan maafku untuk mereka, terutama Alif. Dia pasti sangat marah padaku sampai dia bicara begitu tadi. Aku memang nggak becus jadi Ayah. Tapi nggak apa-apa, aku senang bisa melihat mereka walau sebentar, rasa rinduku terobati meski aku belum menyentuhnya. Aku permisi, ya." Anang berbalik dengan tertatih.
"Mas," panggil Ayu lirih.
"Ya?" Anang berbalik.
__ADS_1
"Terima kasih, ya. Aku yakin Agil pasti senang. Dan hati-hati di jalan."
Anang hanya mengangguk tersenyum lalu pergi dari sana.
Hati Ayu semakin teriris melihat punggung Anang yang semakin menjauh. Tuhan benar-benar sedang memberikan pembalasan atas apa yang sudah ia lakukan. Seharusnya ia senang, tapi entah mengapa ia begitu ikut merasakan sakit yang Anang rasakan.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Jaka bertanya seraya menyentuh pundak Ayu.
Wanita itu dengan cepat menghapus air matanya.
"Ah, iya. Semua baik-baik saja, Mas."
"Kita lanjutkan acaranya, yuk. Jangan terlalu dipikirkan, semua yang terjadi atas kehendak Tuhan. Inilah jalan yang terbaik untuk kita semua."
Ayu mengangguk tersenyum, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acara yang sempat terhenti.
*
Anang memandangi langit tatapan menerawang jauh, mengingat kembali momen kebersamaan yang ia lalui bersama dengan Ayu, mengenang di mana membutuhkan perjuangan yang panjang dan berat untuk duduk di pelaminan. Tapi, entah mengapa ia begitu mudah merusak semuanya hanya karena wanita lain.
Sedang sibuk dengan lamunannya, dering ponsel Anang membuatnya mengalihkan perhatian. Ia meraih benda pipih yang berada di ranjang.
"Iya, kenapa?" tanya Anang dengan datar.
"Ibu masuk rumah sakit, Mas. Nggak tahulah, kayaknya darah tingginya kambuh. Tolonglah, Mas temui Ibu." Galuh memohon entah untuk yang keberapa kalinya.
"Luh, kalau aku ketemu Ibu, dia akan lebih sedih dengan keadaan aku."
__ADS_1
"Coba dulu, Mas. Iya aku paham ibu pasti akan terpukul tapi setidaknya dia bisa lihat kamu baik-baik aja."
"Besok kalau sempat. Rumah sakit mana?"
"Akan aku jemput besok. Kirim alamat kamu yang sekarang, ya! Besok pagi aku jemput."
"Hem." Anang memutuskan sambungan teleponnya setelah itu.
Anang merebahkan tubuhnya di ranjang dengan tangan ia jadikan bantal. Berusaha dengan keras memejamkan mata, karena ia sadar memikirkan masalah hidupnya dan menyesali kesendiriannya adalah hal yang tak akan pernah ada habisnya.
*
"Yu, bisa kita bicara sebentar?" Jaka memberanikan diri untuk bertanya. Ia tak ingin membuang waktu lagi kali ini.
Semua orang sudah pulang, hanya tinggal dirinya dan Ayu yang berada di rumah itu.
Ayu mengangguk dan mengajak Jaka untuk duduk di teras. Menikmati sisa makanan yang ada dengan di temani angin malam yang bertiup sedikit kencang. Membuat bulu roma keduanya sedikit meremang karena merasa hawa dingin menusuk kulit hingga tulang.
Jaka masih belum berucap, ia masih sibuk mengontrol detak jantungnya agar kembali normal.
"Mau ngomong apa, Mas?" tanya Ayu yang melihat Jaka sejak tadi bukannya bicara malah terlihat cemas.
"Yu, sebelumnya aku minta maaf jika ini terlalu cepat untuk kamu." Jaka membenarkan letak duduknya, ia sangat gugup hingga keringat tiba-tiba saja sudah membasahi dahinya.
"Kamu kenapa, sih Mas? Kok mendadak pucat dan berkeringat gitu? Ada apa? Ngomong aja jangan sungkan!"
"Aku.. Aku, aku sudah lama memendam sebuah rasa yang sebenarnya aku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Aku merasa aku nyaman saat bersamamu, aku merasa ingin di dekatmu selalu, kepikiran kamu secara tiba-tiba. Kita memang kenal singkat, tapi dengan waktu yang singkat itu, kamu berhasil mengubah duniaku dengan cepat. Aku, aku ingin kamu jadi Ibu dari anak-anakku, aku pun ingin menjadi sosok Ayah untuk ketiga anakmu. Aku ingin menjaga dan membahagiakan kalian dengan caraku. Maukah kamu melanjutkan hari-harimu dengan melihatku ketika bangun tidur dan menatapku sebelum tidur?"
__ADS_1
'Sial! Nggak elegan banget gue nyatain perasaan.' batin Jaka memaki diri sendiri.
"Oh, ya. Ini aku ada sesuatu, kalau kamu menerima pinanganku ambilah cincin ini, jika kamu tolak, kamu boleh menutupnya dan kembalikan padaku." Jaka mengeluarkan kotak yang berisi cincin dan membukanya lalu ia letakkan di atas meja yang menjadi pembatas meraka duduk.