Pamit

Pamit
41. Mulai Merasa Kehilangan


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


"Rif, anak teman Ibu ada yang baru saja pulang dari luar negeri. Ibu berencana akan memperkenalkan kalian."


"Nggak mau!" tolak Rifki cepat.


"Kamu mau jadi perjaka tua apa bagaimana? Apa jangan-jangan kamu nggak doyan perempuan," tuduh ibu Rifki.


"Emang aku laki apaan nggak doyan perempuan. Aku dari dulu sampai sekarang masih tetap sama, Bu. Tetap jatuh cinta sama satu orang. Aku maunya ya sama dia."


"Siapa? Ayu? Rif, anak Ayu banyak, ibu nggak mau kamu ngurusin anak orang. Membiayai mereka nggak butuh uang sedikit, masih banyak gadis di luar sana. Pokoknya Ibu nggak mau kamu menikah dengan dia. Cukup berteman!"


Rifki hanya membuang nafas kasar sangat sulit untuk meyakinkan ibunya. Begitupum dengan hatinya yang sangat sulit untuk melihat wanita lain selain Ayu. Kebersamaan mereka sejak kecil membuat benih-benih cinta itu muncul begitu kuat. Ada penyesalan di dalam diri Rifki, kenapa ia dulu tak mengungkapkan perasaannya saja? Kenapa ia terlalu takut untuk berkata jujur pada hatinya?


*


"Nang, jangan tinggalkan Ibu, Nang! Ibu butuh kamu," ucap Bu Lasmi dalam tidurnya.


Baru saja beberapa hari di sel, Bu Lasmi sudah merasa kehilangan anaknya. Apa yang dikatakan Anang benar adanya, hanya anak sulungnya lah yang peduli padanya. Hanya Anang yang mengorbankan segalanya untuk dirinya. Tapi dirinya sudah di butakan oleh harta Galuh yang tak pernah berbagi padanya.


"Bu, Bu Lasmi bangun, Bu!" kata salah satu penghuni sel.


"Dia demam, kamu lapor ke penjaga, gih. Kasian dia setiap hari mengigau anaknya yang tak peduli lagi padanya."


Salah satu penghuni sel mengiyakan ucapannya dan memanggil penjaga. Bu Lasmi segera mendapatkan pertolongan dan di bawa ke klinik lapas.


"Demamnya tinggi sekali, kita tunggu beberapa hari kalau belum turun kita bawa ke rumah sakit. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang berat," tebak dokter laki-laki itu.

__ADS_1


"Bu Lasmi merindukan anaknya yang tak pernah datang. Beliau punya tiga anak, yang sering datang hanya yang bungsu saja. Yang sulung dan kedua entah kemana."


"Lebih baik hubungi saja, kasihan," ucap dokter itu memberi saran.


Penjaga lapas mengiyakan dan segera meninggalkan klinik untuk menghubungi Galuh. Hanya dua nomor yang ditinggalkan oleh anaknya.


Galuh yang sudah kembali ke kota terpaksa harus kembali pulang kampung. Ia meninggalkan anak dan istrinya yang sedang mengomel karena sering kali ditinggal sejak ibunya masuk penjara.


"Mas, kamu kasih tahu, lah Mas Anang biar nggak usah sok ngambekan. Kamu juga yang repot, kan. Kalau Mas Anang ngasih perhatian ke Ibu, kan kamu nggak bakal diganggu," gerutu istri Galuh.


"Wajar kalau Mas Anang marah, nggak ada bapak yang suka rela anaknya di buang begitu saja. Kalau kamu di posisi Mas Anang juga akan marah, kan? Aku pergi dulu, ya." Galuh mencium kening istrinya yang masih cemberut. Lalu ia bergergas pergi dari rumah.


Galuh melewati jalanan yang sudah dipenuhi oleh kendaraan, hal yang biasa terjadi di kota besar. Macet di mana-mana. Galuh menatap kosong ke arah bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di samping kiri dan kanannya. Ia memikirkan dirinya sendiri, jika ia harus mondar-mandir ke kota dan kampung pasti akan menyusahkan dirinya sendiri.


'Sepertinya aku harus membujuk Mas Anang agar mau jenguk Ibu. Hanya itu pihannya.'


Setelah melewati jalan puluhan kilo meter akhirnya sampailah Galuh di rumah baru Ibunya. Rumah yang akan di tempati lima tahun ke depan.


"Luh, kamu sama Masmu? Masmu mana? Kenapa nggak kamu ajak dia?"


"Aku tadi buru-buru, aku nggak sempat ajak Mas Anang. Lain kali akan aku ajak ke sini, ya. Tapi Ibu harus sehat dulu, kalau Ibu sakit Mas Anang akan sedih lihat Ibu begini, Ibu mau lihat dia sedih?"


"Iya, kamu benar. Ibu harus sembuh dulu." Bu Lasmi akhirnya bisa tersenyum dengan bujukan Galuh.


Setelah seharian menemani ibunya di klinik, Galuh pamit pulang, ia berjanji akan datang kembali dengan membawa serta Anang.


Demi Ibunya, Galuh rela mengalah untuk menghubunginya terlebih dahulu. Beberapa kali Galuh menghubungi Anang untuk meminta alamat rumahnya yang baru. Hingga panggilan ke tiga akhirnya telepon itu terangkat.

__ADS_1


"Aku mau main ke rumah, Mas. Share lok alamat dong," pinta Galuh tanpa basa-basi begitu telepon terangkat.


"Untuk apa?"


"Mau main aja, Mas masa nggak boleh."


"Apa kamu mau bujuk aku untuk mengunjungi Ibu? Lebih baik tidak usah hanya akan buang-buang waktu saja."


"Ibu lagi sakit, Mas. Aku mohon sekali ini saja. Barangkali dengan melihat kamu Ibu bisa jauh lebih baik. Ibu cuman pengen ketemu sama kamu, singkirin dulu sedikit ego kamu?"


"Ego? Ego yang mana? Kamu nggak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan sebelum kamu mengalami apa yang aku alami."


Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Anang.


"Selamat pagi, Pak. Bagaimana kondisi Bapak? Sudah merasa lebih baik?" Wanita yang mengenakan hijab dan baju serba putih mendatangi Anang.


"Tidak ada yang membuat saya jauh lebih baik, Dok. Saya sudah kehilangan semuanya dan sekarang saya kehilangan satu kaki saya. Apanya yang baik dari nasib saya?" Anang menjawab dengan tatapan menerawang jauh ke arah atap rumah sakit.


"Nggak boleh begitu, Bapak masih bisa berjalan, pakai tongkat atau pakai kaki palsu nanti kalau sudah benar-benar pulih. Bapak harusnya bersyukur masih diberi kesempatan hidup, Bapak masih punya kesempatan untuk memohon ampunan pada yang Maha Kuasa. Sejak Bapak siuman, Bapak selalu sebut, Nak dalam tidur. Bapak merindukan anak Bapak?" Dokter ramah itu bertanya seraya memeriksa keadaan Anang.


Rahma, dokter muda yang mudah ramah dengan para pasiennya, menganggap pasiennya adalah keluarga dan memperlakukan mereka seperti keluarga juga. Sikap yang ditunjukkan oleh dokter yang masih berusia dua puluh lima tahun ini membuat para pasien seperti tak sakit karena perlakuannya.


"Iya."


"Kalau begitu berjanjilah untuk segera sehat agar Bapak bisa temui mereka. Saya yakin anak Bapak juga merindukan Bapak. Karena Bapaknya menghilang beberapa hari tanpa kabar. Kenapa Bapak melarang pihak rumah sakit untuk hubungi keluarga Bapak? Mereka pasti khawatir karena Bapak nggak ada kabar."


"Sudah saya katakan kalau saya sudah kehilangan semuanya, saya sudah tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa."

__ADS_1


Merasa permasalahan pasiennya sangatlah pribadi, Rahma tak meneruskan obrolannya. Tak mungkin ia mengurusi permasalahan orang lain.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi Bapak harus semangat untuk melanjutkan hidup, masih banyak orang di luar sana yang tidak punya apapun, tapi mereka masih memperjuangkan hidupnya. Saya permisi."


__ADS_2