Pamit

Pamit
56. Duka


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk beberapa orang. Tapi, tidak untuk beberapa orang lainnya. Hal sebaliknya dirasakan oleh Anang dan keluarga. Perjalanan yang harusnya ditempuh beberapa jam saja harus mereka habiskan di jalan sepanjang malam.


Hujan badai yang terjadi semalaman membuat pohon dipinggir jalan tumbang dan menutupi jalan. Galuh dan Anang sampai memutar jalan agar segera sampai di rumah Ayu. Hujan yang turun begitu lebat dan angin kencang tak menggoyahkan niat mereka.


Namun sayang, mereka tak tahu jalan selain jalan yang tertutup oleh pohon tumbang tadi. Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat di mobil dan melakukan perjalanan kembali esok hari. Mereka sampai di rumah Ayu bersamaan dengan munculnya matahari pagi. Seolah matahari itu akan juga menyinari kehidupan Anang.


Ayu membuang muka malas begitu melihat dua laki-laki yang pernah menjadi keluarganya. Hancur sudah mood nya di hari yang masih pagi ini.


"Yu, maaf aku menggangumu pagi-pagi, aku..."


"Kalau sudah tahu mengganggu kenapa masih ke sini?" potong Ayu cepat dan ketus.


"Sekali saja, Yu. Ku mohon sekali saja temui Ibu. Aku tidak akan menggangumu lagi setelah itu, aku bersumpah demi apapun dan siapapun ku mohon temui Ibu untuk yang terakhir. Tolong biarkan beliau pergi dengan tenang, Yu. Maafmu sangat penting baginya. Ku mohon." Anang tak bisa menahan tangisnya. Dengan tersedu-sedu dan menangis hebat ia terus memohon pada Ayu untuk mengabulkan permintaannya.


Ayu merubah raut wajah yang semula dingin menjadi sedikit luluh. Hatinya teriris melihat Anang yang begitu rapuh. Ayu hanya dua kali melihat Anang seperti ini. Yang pertama adalah saat dirinya mengatakan akan pergi dari hidup Anang untuk selamanya karena tak mendapatkan restu orang tua. Dan yang kedua sekarang, dia menangis untuk wanita-wanita di hidupnya.


Disaat bersamaan, Jaka bertandang ke rumah Ayu. Entahlah, tak ada yang tahu kenapa sepagi ini Jaka ke rumah Ayu, ada urusan dan kepentingan apa tak ada yang tahu. Namun, langkahnya terhenti di halaman rumah saat melihat dua pria yang sedang di hadapan Ayu.


Jaka ingin memutar badannya dan kembali ke rumah, namun urung ia lakukan karena melihat Anang yang bersimpuh di kaki Ayu. Rasa khawatir tiba-tiba saja menyerang Jaka. Ia takut jika Anang bersimpuh di kaki Ayu untuk meminta wanita itu kembali padanya. Tidak-tidak, Jaka tak mau itu terjadi, ia pun akhirnya berjalan mendekati mereka.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa temui Ibu, Yu? Jika kamu mau aku begini, akan aku lakukan semaumu. Jika kamu memintaku untuk pergi dari kehidupan anak-anak, akan aku usahakan untuk melakukannya, atau jika kamu mau aku menggantikan posisi Ibu di penjara aku sudah siap, Yu. Tapi ku mohon bertemulah dengan Ibu." Anang masih terisak, ia menahan sakit kepala yang teramat sangat.


"Mas, ku mohon jangan begini. Ayo berdiri!" pinta Ayu meraih lengan Anang dan membantunya berdiri namun pria itu enggan untuk melakukan apa yang Ayu minta.

__ADS_1


"Mas, Jaka jangan berdiri aja si ditu, tolong bantu Mas Anang berdiri," pinta Ayu pada Jaka yang nampak linglung dan bingung.


"Tidak, aku tidak mau berdiri sebelum Ayu mengatakan akan bertemu dengan Ibu. Ku mohon jangan paksa aku," pinta Anang saat Jaka berada di sampingnya.


Tak disangka dan dinyana, Galuh juga melakukan hal yang sama. Pria yang berstatus adik mantan suaminya itu tak kalah terlihat hancur dari kakaknya. Semburat wajah lelah, kesedihan, penyesalan tergambar jelas dari sana.


"Ibu sedang sekarat, Mbak. Hanya maaf dari mbak yang Ibu butuhkan, hanya itu yang Ibu mau. Beliau tak bisa pergi sebelum Mbak bersedia memberi maaf. Jika tidak mau melakukan demi Ibu, lakukan ini demi ketenangan hati Mbak sendiri. Aku dan Mas Anang tidak akan beranjak dari sini sebelum Mbak mau bertemu dengan Ibu. Terkesan memaksa, tapi hanya ini yang bisa kami lakukan. Ku mohon beri pengampunan untuk beliau."


"Kalian ini bicara apa? Aku bukan malaikat atau Tuhan yang bisa memperlancar kematian seseorang. Bagaimana bisa kalian berpikir seperti itu? Aku ini siapa sampai kalian memohon dan bersimpuh seperti ini, aku mohon berdirilah! Kalian tidak pantas begini." Ayu membantu keduanya berdiri namun lagi-lagi mereka enggan melakukannya.


"Yu, cobalah untuk melunakkan sedikit hatimu! Kita ke sana, aku takut kamu akan menyesal nantinya. Bukankan Ayu ku ini wanita yang kuat, pemaaf dan berhati lembut? Hanya memberi maaf lalu pergi, kalau tidak demi mereka, lakukan ini untuk dirimu sendiri. Hmm, kita ke sana, ya," bujuk Jaka yang merasa kasihan dengan kedua pria yang terus memohon itu.


"Tapi, Mas..."


"Baiklah. Aku bersedia untuk menemui Ibu kalian. Tapi ku mohon berdirilah."


Anang dan Galuh seketika mendongak. Ekspresi bersyukur sangat terlihat di wajah mereka. Tak henti-hentinya mulut mereka mengucapkan terima kasih atas kerendahan hati yang bersedia menemui.


"Aku sama Mas Jaka saja, ya. Biar nanti pulangnya aku nggak bingung."


*


Dua jam setengah mereka dalam perjalanan. Sejak mereka berangkat dari rumah Ayu, ia tak tahu kenapa hatinya begitu gelisah. Apa penyebabnya, Ayu sendiri bingung.

__ADS_1


Rasa gugup tiba-tiba saja menjalar ketika mobil berbelok ke rumah sakit. Ayu terasa berat melangkahkan kakinya. Sedangkan Jaka dengan setia sejak tadi menggenggam tangan sang wanita pujaan agar tetap tenang.


Begitu pintu ruangan terbuka Ayu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Mata dan mulutnya seakan kompak untuk membola bersama. Nafasnya sedikit naik turun melihat kondisi bu Lasmi yang begitu mengiris hati hingga habis.


"Apa yang terjadi?" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Ayu. Entah sadar atau tidak ia berjalan pelan menuju ranjang di mana Bu Lasmi berbaring dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.


"Ibu, ini aku bawa Ayu, Bu," bisik Anang di telinga ibunya dengan air mata yang entah sudah ke berapa kali ia tumpahkan.


Jaka menyentuh pundak Ayu, dan menganggukkan kepala seakan memberi kode. Entah kode apa, tapi yang jelas Ayu membungkukkan badan setelah itu. Entah apa yang akan ia ucapkan, ia bergerak mendekatkan wajahnya di telinga wanita yang sedang menemui ajalnya.


Ayu meraih tangan mantan Ibu mertuanya, menggenggamnya dengan erat. "Ibu, aku sudah memaafkan Ibu. Aku juga minta maaf karena aku terlambat menemui Ibu. Lupakan semua yang terjadi di antara kita, semua sudah aku ikhlaskan. Istirahatlah jika Ibu lelah." Ayu tak sanggup menahan lajunya air mata yang menetes. Ia merapalkan kalimat suci setelah mengatakan bahwa ia memaafkan kesalahan Bu Lasmi. Dan di detik berikutnya, Bu Lasmi pergi untuk selama-lamanya.


"Ibuuu!" Anang berteriak histeris seraya mengguncang-guncangkan tubuh ibunya.


Tangis semua orang di ruangan itu pecah begitu saja termasuk Ayu. Ia seketika melepas pagutan tangan dan mundur satu langkah dari ranjang Bu Lasmi. Ia terlalu syok dengan apa yang terjadi di depannya.


"Mas, Ibu..Ibu."


Jaka yang juga merasakan sedihnya berada di ruangan itu membawa Ayu dalam pelukannya. Pria itu tahu Ayu memiliki hati yang lembut, ia pasti juga merasakan sakit yang sama seperti yang lain. Apalagi Bu Lasmi benar-benar pergi setelah Ayu datang. Itu artinya, memang hanya Ayu yang beliau tunggu.


"Sudah, Bu Lasmi sudah tenang di sana. Apa yang beliau mau sudah beliau dapat. Kita doakan saja, ya." Jaka menenangkan Ayu dengan lembut, hal itu membuat Ayu semakin tersedu dalam pelukan hangat pria itu.


Di antara yang lain, Ananglah yang paling belum ikhlas dengan kepergian ibunya. Bahkan pria itu sampai meminjam pundak sang adik untuk sandaran seraya terus bergumam, "maafkan aku, Ibu. Maafkan aku, Ibu."

__ADS_1


__ADS_2