
Rasa tak nyaman menguar begitu saja setelah Jaka datang. Rifki sungkan jika harus bersikap romantis dan bermesraan lalu tiba-tiba Jaka datang lagi seperti tadi. Akhirnya ia putuskan untuk meminum teh yang sejak tadi ia acuhkan.
"Rif, lama kau nggak ke sini. Mampir ke rumah kalau nggak buru-buru."
"Iya, nanti aku ke sana."
Jaka kembali pulang setelah bertemu dengan ibunya.
"Tuh, lihat! Jaka biasa aja, kan aku ke sini? Nggak ada dia menunjukkan sikap yang nggak suka. Kamunya aja yang parnoan," celetuk Rifki menyomot gorengan yang berada di piring.
"Jadi gimana? Mau nggak nerima pinangan aku? Nanti sebelum kamu skripsi kita tunangan. Setelah wisuda, kita nikah. Udah nggak usah nyari kerja, biar aku aja yang kerja. Lagian kamu ada usaha online yang dari Ayu, kan?" Rifki bergumam seraya mengunyah pisang goreng.
"Aku nggak bisa mengaplikasikan ilmu yang aku dapat dong? Empat tahun kuliah ijazah nggak berguna?"
"Emang kalau dapat ilmu dari mana saja harus diaplikasikan ke pekerjaan? Ijazah cuman kertas, yang penting ilmunya. Ilmu itu bisa kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari."
"Emang bener kata orang, perempuan ujung-ujungnya di dapur," gumam lirih Dara.
"Dapurnya tapi beda. Udah nggak usah banyak mikir. Aku cuman mau jawaban, iya apa nggak? Kalau memang kamu mau banget untuk kerja, ya udah aku kasih izin asal kamu nggak lupa sama kewajiban."
"Entarlah aku pikir-pikir dulu."
"Apanya yang dipikir? Selama ini kurang kamu mikir?" sentak Rifki tertahan.
"Yang itu, yang kerja."
"Pinangan?"
Dara diam tak langsung menjawab, ia kembali menundukkan kepala. Melihat hal itu Rifki menjadi malas dan jengah. Ia sudah lelah.
__ADS_1
"Ya udah ngak usah di jawab dulu. Aku sabar nunggu!" Rifki bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah.
Dara seketika berdiri dan berjalan cepat menyusul. Ia lupa dengan bengkak di kakinya karena melihat Rifki yang hendak pergi tanpa pamit.
"Kak, aduh," pekik Dara terduduk kembali di lantai tak tahan dengan nyut-nyutan di kakinya.
Rifki seketika berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Ngapain, sih? Udah tahu kakinya sakit, duduk diam aja dulu bentaran bisa nggak?" omel Rifki ketus seraya mengangkat kaki Dara yang bengkak ke dalam pangkuannya. Dan memijitnya pelan.
"Ya aku refleks jalan cepat karena kamu, kamu pergi tiba-tiba tanpa pamit, ya aku panik. Ntar kamu ngilang lagi kayak yang udah-udah," balas Dara tak kalah ketus.
"Aku mau ke rumah Jaka. Lagian kamu juga nggak mau jawab perasaan aku sekarang, kan. Ya udah nggak usah di jawab sekalian."
Rifki mengangkat tubuh Dara kembali ke sofa. Ia merasa lantai di rumah Dara yang dingin, dan itu tak baik untuknya.
"Jangan jalan-jalan terus kalau mau sembuh cepat." Rifki mengelus puncak kepala Dara lalu bersiap akan pergi.
"Ada apa?" tanya Rifki lembut.
"Jangan ke mana-mana. Aku.. Aku masih kangen." Entah sadar atau tidak Dara mengatakan itu.
Rifki kembali duduk dengan tangan keduanya yang masih terpaut.
"Iya aku mau jadi istri kamu, jangan jauh-jauh lagi, jangan ngilang lagi. Aku kesepian, nggak ada yang bikin aku ketawa, nggak ada yang buat aku marah, nggak ada orang yang sabar dengerin omelan aku selain kamu," ujar Dara dengan mulut bergetar.
Dara menyudahi ucapannya, karena tak sanggup menahan lajunya air mata. Ia mengelap pipinya yang basah karena air mata. Baru kali ini ia menangis karena seorang pria.
"Iya, aku nggak akan ngulangi lagi, aku nggak akan melakukan sesuatu yang buat kamu sedih. Udah nangisnya, aku nggak ke mana-mana." Rifki ikut mengelap air mata yang terus terjun dengan bebas.
__ADS_1
Lega sudah Rifki hatinya, penantian yang memakan kesabaran dan waktu yang terbilang tidak singkat akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan. Ia tinggal membicarakan ini pada Ibunya dan juga keluarga Dara. Bukan hal yang sulit, karena mereka sama-sama memberikan restu pada keduanya.
"Aku pulang, ya. Udah mau malam, nggak enak dilihat tentangga, kita belum ada ikatan apapun. Ya meskipun di rumah ada Ibu, tetep aja ada yang ngeganjel. Hari minggu kita jalan, mau?"
"Mau," jawab Dara dengan cepat dan senyum yang mengembang. Jawabannya sudah persis seperti anak TK yang akan diajak jalan-jalan. Hal itu membuat Rifki semakin gemas.
Sejak hari itu, hari-hari manusia beda usia yang cukup jauh ini begitu indah. Bak anak abg yang baru saja menjalin hubungan. Semakin hari semakin dekat dan mesra. Hari lamaran sudah di tentukan, membuat Rifki semakin tak sabar menunggu. Hari yang ia lalui begitu lama untuk menuju lamaran pertengahan tahun depan. Lamaran akan dilaksanakan sebelum Dara sibuk dengan skripsinya.
Berbulan-bulan berlalu, saking seringnya Fadil datang ke rumah mantan kakak iparnya membuat dirinya juga akrab dengan Rifki dan juga Dara. Tak ada hubungan darah di antara mereka, tapi semuanya sudah seperti keluarga. Kehangatan yang mereka ciptakan membuat satu sama lain merasa nyaman. Sudah tak ada lagi perseteruan atau permusuhan, yang ada hanyalah kebahagiaan.
Di hari sabtu malam minggu, entah sudah sepakat atau bagaimana, dua pasang kekasih yang hampir halal itu sama-sama bertandang ke rumah Ayu. Sekarang ini rumah Ayu dan Jaka seringkali dibuat sasaran untuk meraka pacaran.
"Oh, ya. Ini aku ada undangan buat kalian. Aku harap, sih semua datang, ya. Bu Lin kalau mau ikut aja, Mas. Yah, itung-itung buat mewakili ibu aku, lah." Fadil sedikit sendu saat membahas soal ibu.
"Iya, kamu kan juga anak Ibu. Akan aku ajak nanti, udah jangan sedih!"
"Nggak nyangka banget, ya. Orang-orang yang dulunya asing kini malah jadi kayak keluarga. Dan memang kita ini akan jadi keluarga, kan?" Ayu merasa terharu dengan semua perubahan yang terjadi pada hidupnya.
Semua mengiyakan dengan cepat. Kecuali satu pasangan yang sedang asyik dengan duninya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Dara dan Rifki yang sedang bucin-bucinnya.
Entah apa yang mereka lihat di ponsel yang mereka letakkan di tengah-tengah mereka. Mereka seperti sedang berunding untuk sesuatu. Bicara dengan pelan seakan yang lain tak boleh curi dengar. Mereka tak sadar semua orang yang berada di ruang tamu benar-benar hening.
"Ih jelek, masa aku pakai pink, sih. Yang lamaran kita berdua bukan kamu aja. Nggak mau aku pakai pink, yang. Yang netral aja. Ini bagus coklat," tunjuk Rifki ke layar ponselnya.
"Unyu yang ini. Orang beberapa jam aja, kan pakaiannya. Nggak seharian, ya udah kalau nggak mau pink pas lamaran, pas nikah aja."
"Astaghfirullah, sayang. Aku terlalu gagah untuk pakai, pink."
Mereka debat dalam suara lirih, mereka tak sadar semua orang sedang menatap mereka dengan manahan tawa. Di antara semua yang berada di sana pasangan Dara dan Rifki lah yang paling aneh.
__ADS_1
"Khem." Semua orang kompak berdehem.