
Anang pulang dengan tangan kosong, se kosong hidupnya saat ini. Dengan lemas ia melangkah pergi dari rumah Ayu. Sesekali ia kembali menoleh ke belakang, barangkali Ayu berubah pikiran. Namun harapan tinggal harapan, jangankan berubah pikirkan, membuka pintu utama itu saja tidak Ayu lakukan.
"Ayah, ayah ada di sini?" tanya Alif yang baru saja pulang dari rumah Bu Lin. Anak kecil itu bersama dua adiknya dan juga Jaka yang menggendong Anin.
Anang sedikit tercengang, sikap anaknya sangat berbeda dari beberapa hari lalu daat ulang tahun Agil.
"Ah, iya Nak. Tadi Ayah ketemu sama Ibu. Kamu apa kabar?" tanya Anang canggung
"Udah ketemu? Aku baik, oh, ya aku mau minta maaf sama Ayah soal kemarin. Tidak seharusnya aku bicara kasar dengan Ayah."
Anang berusaha untuk berjongkok agar tingginya sejajar dengan Alif. Berbulan-bulan memakai tongkat dan mulai terbiasa dengan keadaannya membuat Anang tak menemui kesulitan saat melakukan apapun.
"Harusnya Ayah yang minta maaf. Ayah banyak salah sama Alif. Sekarang Alif sudah bahagia sama Ibu dan adik-adik. Janji jadi anak yang baik dan penurut, jadi kakak yang baik untuk adik-adik. Kamu juga harus jaga Ibu, kamu laki-laki dan anak pertama, jadi harus kuat pundaknya buat Ibu dan adik-adik, ya."
"Iya, Ayah. Aku akan jadi anak yang baik dan penurut. Aku juga akan jaga Ibu dan adik-adik, Ayah tenang aja nggak usah khawatirkan kami. Apa Ayah mau pulang? Kenapa Ibu nggak ngasih tahu aku kalau Ayah ada di sini."
"Iya, Ayah mau pulang. Ayah yang nggak nge bolehin ngasih tahu kamu tadi, Ayah pikir kamu masih marah sama Ayah dan nggak mau ketemu Ayah. Jadi Ayah hanya ketemu sama Ibu. Oh, ya Alif kalau Ayah ajak untuk ketemu sama Nenek mau? Nenek di rawat di rumah sakit. Katanya pengen ketemu kamu sama Ibu."
Belum sempat Alif menjawab pertanyaan sang Ibu. Ayu membuka pintu dan meneriaki mereka.
"Alif masuk sudah malam waktunya belajar!" teriak Ayu dari tengah-tengah pintu utama.
Jaka yang sejak tadi diam hanya menatap bingung apa yang terjadi. Kenapa sikap Ayu begitu dingin dan kesal begitu? Batin Jaka yang bingung.
"E, Mas maaf sebelumnya, aku harus bawa anak-anak masuk. Ibunya sudah memanggilnya," ujar Jaka tak enak hati.
"Oh, iya. Bawa saja, aku juga mau pulang."
Anang mencium ketiga anaknya sebelum benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
"Ada apa, sih? Kamu kenapa kok kayak nggak mood gitu? Kayak lagi kesel? Kenapa, hmm?" tanya Jaka setelah sampai dalam rumah.
Seakan mengerti hati ibunya sedang tak baik-baik saja, Alif langsung masuk kamar dan belajar, sementara Agil dan Anin bermain bersama di depan TV dengan menyerakkan semua mainan yang ada di sana.
Ayu membuang nafas kasar, "Anang datang ke sini memintaku untuk menemui ibunya yang sedang di rawat di rumah sakit. Katanya ibunya mau ketemu aku dan Alif," jawabnya dengan kesal tak tertahan.
"Tadi dia juga bilang gitu ke Alif. Dari sorot matanya, dia memang butuh kalian."
"Apa kamu akan membujukku untuk menuruti apa kata Anang?" tanya Ayu tak percaya.
"Nggak, aku nggak akan bujuk kamu. Aku nggak tahu sesakit apa jadi kamu, aku juga nggak tahu kesalahan apa yang ibunya Anang buat selain kesalahannya yang kemarin, aku nggak tahu apa yang pernah terjadi di antara kalian berdua. Jadi aku nggak bisa ngomong apa-apa." Jaka menggeser duduknya agar sedikit lebih dekat dengan Ayu.
"Kamu lupa? Kamu pernah bilang ke Alif kalau kita punya hati yang dendam, amarah, dan kebencian itu tidak akan baik untuk kesehatan? Tidak baik juga untuk ketenangan hati kita? Tapi kamu melakukannya?"
"Ini konteksnya beda, Mas. Aku masih belum siap untuk berdamai dengan apa yang terjadi di masa lalu. Udahlah, aku nggak mau bahas ini. Aku, tuh mau tenang tanpa mereka."
"Iya-iya, ya udah jangan ngambek gitu, dong!"
Begitu sampai di rumah sakit, Anang dibuat terkejut dengan adanya Fadil yang berada di luar ruangan duduk dengan wajah yang sulit di gambarkan dengan kata.
"Kamu ngapain ada di luar? Ibu sama siapa?" tanya Anang panik.
"Lagi diperiksa Dokter, Mas. Tadi pas Mas Anang baru aja pergi, Ibu kayak kesusahan nafas. Sekarang masih di periksa, nggak selesai-selesai."
Anang lemas seketika. Perasaan kecemasan yang sejak tadi mengganggunya terjawab sudah.
"Bagaimana kondisi Ibu, Dok?" tanya Anang pada seorang pria berkacamata yang sedikit lebih muda dari ibunya.
"Maaf sekali, Pak. Lebih baik ikhlaskan saja Ibu Anda, kami sudah semaksimal mungkin berusaha. Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain."
__ADS_1
"Apa maksudnya? JANGAN BICARA TIDAK JELAS!" bentak Anang.
"Kami sudah angkat tangan, Pak. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menunggu waktu untuk..."
"Omong kosong kalian semua." Tanpa mendengar apapun lagi dari dokter itu, Anang bergegas masuk ke dalam ruangan begitupun dengan Fadil.
Anang sudah tak ada lagi tenaga untuk berdiri melihat Ibunya yang sudah sekarat. Tongkatnya terjatuh begitu saja dan ia terduduk dengan lemas di lantai. Dengan sisa tenang yang ada, ia menggapai ranjang ibunya dengan menyeret tubuhnya sebisa mungkin.
"Ibu, kenapa jadi begini Bu? Ibu mau meninggalkan aku juga, Ibu bilang Ibu sudah memaafkan aku, kalau Ibu memaafkan aku seharusnya Ibu bertahan buat aku, Bu." Anang meraung-raung di samping ibunya.
Disaat itulah Galuh datang dengan wajah yang sudah berantakan pula. Ia ingat betul, bagaimana nafas ayahnya sebelum pergi. Ia sungguh masih trauma dengan kematian. Dan sekarang, Ibunya juga menunjukkan nafas yang sama seperti Ayahnya sebelum benar-benar menutup mata untuk selamanya.
"Tuntun saja Ibu, Mas. Jangan membuat Ibu semakin kesulitan, lihatlah kasian Ibu." Galuh mendekati sang kakak dan merangkul pundaknya.
Anang yang lemas dan tak mampu berucap lagi hanya mampu menggelengkan kepala dengan air mata yang terus mengucur.
Entah sudah berapa lama, Fadil dan Galuh bergantian membisikkan kalimat-kalimat suci di telinga sang Ibu, namun keadaan tak berubah. Nafas Bu Lasmi masih tercekat di tenggorokan dengan mata yang sudah tak mampu terbuka.
"Mas, aku mohon ikhlasin Ibu, Mas. Aku tahu ini berat. Bukan hanya bagimu, tapi kita ketiga anaknya, Mas. Akan lebih kasihan jika Ibu begini terus. Aku mohon, Mas. Kasihan Ibu. Biarkan dia pergi dengan tenang dan damai. Kita cukup doakan dari sini, aku mohon, Mas," pinta Galuh dengan memelas. Ia sudah tak tahan melihat Ibunya yang tersiksa di detik-detik kepulangannya.
"Ibu, pulanglah jika Ibu ingin pulang. Aku atau yang lain tidak menghalangi Ibu. Biarkan aku menangis seperti ini, Bu. Pulanglah jangan hiraukan aku. Aku sudah ikhlas jika Ibu ingin istirahat." Tak sanggup dengan ucapannya sendiri Anang memeluk Galuh dengan erat. Menumpahkan segala tangisnya di pundak sang adik.
Disaat Anang sedang meraung-raung, datanglah Rahma dengan segala kebingungan yang ada. Ia tak mau banyak bertanya, ia melihat Ibu Anang yang sudah ingin menjumpai ajalnya, tapi sangat kesakitan dan menderita.
Rahma baru bertemu dengan Ibu Anang kemarin, Ananglah yang mempertemukan mereka. Wanita itu hanya kenal Anang sebagai teman dan karyawannya, tapi entah mengapa melihat Anang yang begitu tak siap kehilangan membuat hati Rahma terasa tercubit seketika.
"Mas, ikhlaskan beliau," kata Rahma mendekati Anang. Entah sudah berapa kali Anang mendengar kalimat itu. Ia sampai muak dan ingin marah.
"Aku sudah mengikhlaskan Ibu, aku juga tak ingin dia seperti ini. Aku sendiri tak tahu kenapa Ibu begitu tersiksa seperti ini," ujar Anang marah.
__ADS_1
"Mbak Ayu, kita ke rumah Mbak Ayu, Mas. Barangkali dengan datangnya Mbak Ayu bisa merubah semuanya. Aku ingat, waktu Ibu masih bisa bicara Ibu ingin minta maaf sama Mbak Ayu," ujar Galuh selerti mendapat pencerahan.