
"Aku nggak nyangka, mereka diam-diam dekat," ujar Jaka setelah menceritakan apa yang tadi dibicarakan olehnya dengan Rifki.
"Mereka diam karena kamu. Coba kamu kasih mereka kelonggaran, nggak terlalu ngekang. Mereka akan terbuka, lagi pula kamu kayak nggak pernah ngerasain jadi Dara aja, sih Mas. Wajar di usia Dara yang sekarang ini ingin menjelajah perasaan. Aku heran, kamu ini nggak belajar dari yang sudah-sudah. Kalau memang mau Dara nggak terjerumus atau terjebak dalam pergaulan yang salah bukan berarti kita kekang dia. Semua harus seimbang, kita tarik ulur, kita tarik pas dirasa Dara sudah mulai melenceng ke didikan kita, kita ulur lagi kalau dia sudah sadar dengan melencengnya dia. Dengan begitu, dia akan tahu mana salah dan benar, mana yang boleh dilakukan dan tidak," ujar Ayu mengingatkan seraya tangannya terus maju mundur menyetrika pakaian.
"Ngomongnya enak, Sayang. Prakteknya nggak semudah itu. Ya, meskipun akhirnya aku kasih izin mereka, tapi..."
"Iya, kamu, kan memang begitu orangnya. Menyerah sebelum perang. Coba kalau Rifki nggak dorong kamu buat ngungkapin perasaan, sampai sekarang kamu dan aku hanya angan-angan."
"Maksudnya?" tanya Jaka mengernyit.
"Kamu ada rasa sama aku dari lama, kan? Tapi kamu baru mengungkapkan perasaan ketika kamu di buat cemburu sama Rifki. Kamu, mah aneh, Mas. Kalau suka, mah suka aja, bilang dulu, urusan di terima apa nggaknya, ya belakangan. Jangan tanya aku tahu dari mana! Rifki memang laki tapi mulutnya lemes kayak perempuan."
Saat Ayu menyebut nama Rifki membuat Jaka teringat dengan obrolannya tadi siang.
"Tadi Rifki bilang kalau kamu tahu dia luar dalam. Kamu ngapain aja selama ini sama Rifki?" Sifat kekanakan Jaka seringkali muncul sejak Ayu hamil.
Ayu seketika menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah suaminya. Menatapnya lekat dalam diam. Sungguh pusing rasanya dirinya yang hamil tapi dirinya juga yang harus menghadapi sifat Jaka yang sering berulah. Seharusnya dirinya yang berulah dan merepotkan Jaka. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Kamu mau tahu aku ngapain aja? Memperlihatkan sesuatu yang tidak diperlihatkan oleh orang lain." Ayu menjawab dengan ambigu.
"Apa contohnya?"
"Masa aku jelaskan."
Jaka diam seketika, entah mengapa ia kesal dengan jawaban ambigu dari istrinya. Jawaban itu membuat Jaka berpikir yang tidak-tidak.
"Aduh, mas perutku, perutku sakit," keluh Ayu memegang perutnya.
__ADS_1
"Ha? Kenapa? Kok bisa? Kan belum waktunya lahiran. Aduh, Nak jangan lahir sekarang. Belum waktunya, tadi Ayah bilang nggak sabar ketemu kamu bukan berarti harus lahir sekarang. Aduh, Ayah belum siap puasa."
Plak!
Satu pukulan mengenai lengan Jaka.
"Kenapa? Makin sakit perutnya? Yaudah ayo ke rumah sakit aja."
Jaka bersiap membawa Ayu ke dalam gendongannya.
"Jangan ke rumah sakit. Ke kamar aja," bisik Ayu di telinga Jaka. Hal itu membuat ia mengerutkan kening seraya menatap istrinya. "Anakmu minta di kunjungi," bisiknya lagi.
"Udah mulai nakal, ya. Udah mulai berani main-main. Ya udah ayo."
***
"Apa Itu artinya kau mengizinkan aku menjalin hubungan?"
Jaka mengangguk, "Tapi jangan sampai karena kau, Dara menjadi malas dan tak peduli dengan kuliahnya, kalau bisa kau dorong dia untuk lebih semangat menyelesaikan pendidikannya."
"Selama setahun terakhir nggak ada masalah sama kuliahnya, kan? Apa lagi yang kau ragukan dariku? Aku tak mengubah apapun dari adikmu. Hanya merubah status saja. Baiklah kalau begitu, aku jauh lebih tenang sekarang. Aku nggak perlu lagi sembunyi kalau mau ngajak dia jalan. Seandainya kau tahu aku begitu tertekan satu tahun terakhir, nggak bisa tidur sepanjang malam."
Rifki mengingat obrolannya tadi siang dengan Jaka. Pandangnya menatap langit-langit kamar, tangannya ia gunakan sebagai bantal. Ia sangat lega bisa terus terang dengan Jaka. Rasanya seperti kotoran yang berada di paru-paru dibersihkan oleh kata-kata Jaka.
Sedang memikirkan seseorang yang mempu menggeser Ayu dalam tempatnya, bergetarlah ponsel di dekatnya.
"Lagi dipikirin, eh telepon," gumam Rifki.
__ADS_1
"Iya, halo kenapa? Ada apa? Biar aku
tebak. Besok ngajak jalan?" cecar Rifki dengan pertanyaan.
"Kakak ngomong apa? Kok Bang Jaka tahu kalau kita sering jalan. Aku tadi sore di tegur karena ini. Kan aku udah bilang, kamu sabar, akan ada saatnya aku bilang, tapi nggak sekarang." Dara protes dan terlihat ngambek jika di dengar dari nada bicaranya.
"Dara, bukan bermaksud untuk nggak sabar. Kamu coba pahami posisi aku, jadi aku nggak enak, aku nggak mau kalau hubungan kita se..."
"Hubungan yang mana? Selama ini aku pacar pura-pura kamu, kan? Jangan lupa kalau aku belum jawab permintaan Kakak buat jadi istri kamu nantinya."
"Tunggu, Dara. Jaka kasih izin ke aku buat dekat sama kamu, kenapa kamu malah marah? Bukankah ini akan mempermudah kita kalau ke mana-mana. Kamu nggak perlu berdiri di pinggir jalan buat ketemu sama aku, iya, kan?"
Dara tak menjawab.
"Dara kamu masih di sana? Jaka nggak marah sama kamu, kan? Nggak mungkin dia marah, dia kasih izin kita buat saling dekat." Rifki masih kekeh.
"Iya, Bang Jaka nggak marahin aku, Kak. Hanya ditegur aja. Kenapa selama ini aku melanggar aturan yang dia kasih. Aku jadi nggak di percaya lagi sama dia," adu Dara yang berubah menjadi rengekan.
Rifki geleng-geleng kepala. Ternyata benar apa yang di katakan Jaka. Kekanakan Dara masih sangat melekat pada dirinya, mungkin karena dia perempuan dan anak bungsu, itu sebabnya ia merasa menjadi anak kecil terus, atau karena Jaka dan Ibunya yang masih memperlakukan Dara sebegai anak kecil? Batin Rifki menerka-nerka.
"Jaka bilang gitu emang? Coba bilangnya Jaka gimana, tadi? Coba aku mau dengar," bujuk Rifki lembut. Ia merasa sudah memiliki anak sejak dekat dengan Dara. Mengajaknya bicara dan memancing apa yang ia rasakan harus dengan bahasa yang pelan.
"Katanya aku udah merusak kepercayaan dia dengan sembunyi-sembunyi dekat sama kamu. Aku nggak bisa di percaya, dia juga wanti-wanti aku, awas aja kalau nilaiku turun, katanya aku nggak boleh lagi ketemu sama kamu. Aku sebel tahu, kesel aku sama kamu," rengek Dara. "Udah di bilang biar begini aja, aku jadi tertekan mikirin nilai kuliah aku kedepannya," imbuhnya masih dengan rengekan.
"Jadi kamu kesalnya sama siapa? Dan karena apa? Karena Jaka tahu hubungan kita apa karena kamu takut kalau kamu nggak boleh ketemu aku, hm?"
Krik krik krik
__ADS_1