
Setelah kepergian Jaka, aku menghubungi Dara. Sengaja aku melakukan panggilan video, aku ingin bicara dan melihat langsung anak-anakku yang berada di rumahnya.
"Hai mbak, aku lagi pakai masker yang beli di, mbak. Enak, adem. Eh gimana ponakan aku yang paling kecil? Sakit apa? Nggak parah, kan? Nggak harus nginep rumah sakit, kan?" Dara seketika memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
"Satu-satu, Dar nanyanya. Anin nggak apa-apa, akan sembuh beberapa hari. Dia kena demam berdarah, jadi ya harus nginep di sini. Alif sama Agil mana?"
"Agil udah tidur, mbak sama si kembar. Alif masih belajar, aku suruh istirahat nggak mau."
"Ibu mana?"
"Tidur sama cucunya. Mereka semua tidur di bawah ketiak ibu." Dara tertawa dengan puas memperlihatkan ketiga anak kecil yang sedang di peluk oleh wanita berusia lebih dari lima puluh tahun itu.
"Pasti ibu cape, tuh jagain anak-anakku juga."
"Ish, mbak ngomong apa, sih? Nggak tiap hari juga. Apalagi setelah urusan mbak selesai, kan mbak udah nggak pernah nitipin anak-anak. Baru kali ini, mbak juga baik juga sama keluarga aku. Berkat uang dari mbak, ibu bisa nabung lebih banyak. Aku juga jadi punya penghasilan sendiri karena, mbak. Seandainya mbak Ayu jadi kakak ipar aku, pasti kayang langsung aku mbak."
"Apaan, sih kamu?" tanyaku sambil tertawa. Aku seakan dibuat lupa bahwa aku sedang menunggu anakku di rumah sakit. "Katanya diomelin abang gimana, sih?" lanjutku.
"Iya, aku biarin aja. Aku omelin balik, terus jarak beberapa hari, kan aku mulai ada orderan. Terus uang dari mbak yang di bulan pertama itu aku bagi tahu ke abang. Masih agak keberatan, sih. Tapi aku juga mau buktikan ke abang kalau kuliah aku nggak akan keganggu dengan kerjaan aku ini. Akhirnya dibolehin, deh," jawabnya dengan ceria.
"Alhamdulillah, kalau gitu. Mbak sebenarnya penasaran banget tahu sama abang kamu. Masa tinggal tiga bulan lebih nggak pernah sama sekali aku ketemu sama abang kamu?" tanyaku yang tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.
"Sebenarnya mbak udah..."
Khem.
Aku mendengar suara orang yang sedang berdehem dengan keras. Seperti sedang disengaja. Aku mengamati sekitar ruangan di mana Dara duduk. Tak ada siapapun yang aku temukan kecuali Dara.
"Siapa, Dar? Kenapa kamu berhenti ngomongnya?"
"Ha? Nggak, mbak. Nggak apa-apa. Mbak mau ngobrol sama Alif?"
__ADS_1
Astaga, aku sampai lupa bahwa tujuan aku menelepon Dara adalah untuk bicara dengannya.
"Iya, mana dia?"
Sekali lagi, aku curiga terhadap sesuatu. Tadi ada yang berdehem dengan sengaja, lalu sekarang saat Alif mengambil alih milik Dara, ada seseorang yang membelakangi Alif berdiri seperti sedang melakukan sesuatu. Apa dia tadi yang berdehem? Kenapa postur tubuhnya mirip seseorang? Dan bajunya juga kayak pernah lihat?
"Assalamu'alaikum ibu," sapa Alif yang membuat aku terkejut.
Seketika pria itu langsung pergi dari sana begitu Alif mengucapkan salam. Hal itu membuat aku bertanya-tanya, tapi sedetik kemudian, aku acuhkan.
"Waalaikumsalam, sayang. Nak, ibu nggak bisa pulang malam ini. Adek harus nginep di rumah sakit karena kena demam berdarah. Kak Alif sama adek tidur di rumah nenek Lin dulu, ya. Jangan nakal dan merepotkan, besok pagi-pagi ibu pulang."
"Oh, iya bu. Ibu hati-hati di sana. Besok pulang sekolah, aku mau bantu ibu jagain adek, ya."
"Boleh. Sekarang istirahat, dulu ya. Kasih hapenya ke mbak Dara."
"Dar, aku nitip Alif sak Agil semalam, ya. Besok pagi-pagi aku pulang," kataku pada Dara.
"Yuhu, santai saja, mbak. Pokoknya, mbak tenang. Mereka aman sama aku dan ibu lagi pula ada abang juga, dia suka sama anak kecil. Alif juga udah akrab sama abang. Pokoknya anak-anak, mbak di sini udah kayak keluarga sendiri."
"Pernah beberapa kali. Abang, kan kalau..."
Khem.
Lagi-lagi aku mendengar deheman. Hal ini membuat aku menyimpulkan sesuatu. Mungkin saja pria yang selalu di keluhkan oleh Dara ini tak ingin aku tahu siapa dirinya, atau memang kepribadiannya yang tertutup, entahlah.
Sadar akan hal itu, aku memutuskan untuk mengakhiri panggilan saja. Aku tak enak jika obroanku membuat orang lain tak nyaman.
*
Keesokam harinya, semua benar-benar berantakan. Niatku yang ingin pulang terlebih dahulu terkendala karena Anin tak mau aku tinggal. Anak kecil itu terus merengek jika aku meletakkannya di ranjang.
__ADS_1
Sudah sejak subuh tadi aku menggendongnya, hingga sekarang sudah pukul setengah tujuh, dia tak mau aku letakkan. Akhirnya aku mengabari Dara untuk membiarkan Alif tak sekolah hari ini.
"Ini Alif mau ke sekolah kok, mbak. Aku ambil baju di toko, tadi aku paksa Ani buat buka toko sebentar biar aku bisa ambil baju Alif sama Agil. Mbak Ayu dari tadi aku telepon nggak di jawab-jawab. Jadi aku nekat saja. Nggak marah, kan mbak?"
"Ya nggak lah, Dar. Nggak marah aku. Nggak apa-apa. Justru aku yang maaf, buat kamu repot juga jadinya. Yang antar Alif siapa?"
"Abang. Nanti sekalian narik, nanti biar abang yang jelasin kenapa Alif nggak pakai seragam. Mbak santai aja pokoknya, Alif sama Agil udah beres di sini."
"Ngrepotin abang kamu juga dong jadinya."
Sungguh aku sangat tak enak jika selalu merepotkan keluarga bu Lin. Meskipun aku selalu memberinya uang dan makanan sebagai balasan, tapi tetap saja aku merasa sungkan. Aku merasa pemberianku tak sebanding dengan kerepotan bu Lin dan yang lain. Sekarang di tambah anaknya yang duda ikut repot karena anakku.
Baru saja meletakkan hapeku di ranjang, benda itu kembali menyala nyala. Ada pesan dari Rifki yang meminta share lokasi. Aku pun memberikannya tanpa banyak bertanya. Ini adalah kesempatan untukku pulang, atau paling tidak meminta bantuannya untuk mengambil beberapa pakaian.
[Mau di bawain apa?] pesan dari Rifki
[Nggak usah, Rif. Aku cuma butuh orang buat jagain Anin. Dia nggak mau lepas dari aku sejak subuh tadi. Aku mau pulang sebentar. Anin, kan kenal kamu, barangkali dia mau kalau kamu jaga]
[Otw sayang]
[Sayangnya buat Anin, ya bukan buat kamu] ralatnya dengan cepat.
Aku hanya tertawa kecil saja. Aku tak peduli dia memanggilku apa. Mau dia manggil sayang, cinta atau apapun dia akan tetap menyebalkan bagiku.
Setengah jam kemudian, Rifki sampai dengan pakaian kerjanya. Serta ia membawa tentengan di tangan kanannya, entah isinya apa.
"Kamu kerjanya masuk jam berapa? Ini udah jam kantor."
"Jam sembilan. Udah, pulang dulu sana, siniin Anin!" Rifki mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Anin dari gendonganku.
Anin sudah mulai merengek saat tubuhnya merasa di pindahkan.
__ADS_1
"Hey, ini om. Om Rifki, om ada buah nih buat Anin, lihat-lihat, wah besar, ya ini pasti enak, nih. Kita makan bareng, yuk! Kita aman sambil main, ya. Cium dulu, cium dulu. Ih Asem." Berbagai kata rayuan di keluarkan oleh Rifki demi bisa menjaga Anin.
Sesaat setelah mengeluarkan rayuan mautnya, Anin luluh juga. Tak mau membuang kesempatan aku dengan cepat aku pergi dari sana.