Pamit

Pamit
40. Janji Alif


__ADS_3

"Ayu jalan pelan-pelan!" Jaka memberikan peringatan pada wanita itu.


Sejak keluar dari rumah sakit, Ayu nampak tak sabar ingin bertemu dengan anaknya. Beberapa kali ia hampir terjatuh karena menahan beban tubuhnya yang belum seimbang.


"Aku nggak sabar mau ketemu sama Alif, Mas. Pasti dia juga merindukan aku."


"Iya aku tahu, Alif nggak akan kemana-mana, Alif di tempat yang aman. Jalan pelan-pelan atau kamu, aku bawa ke rumah sakit lagi," ancam Jaka yang mencemaskan Ayu.


Setelah mendengar ancaman Jaka, akhirnya Ayu berusaha untuk tenang. Berhenti sejenak untuk mengatur nafas lalu kembali berjalan.


"Ibuu," Alif berlari dengan sedikit menahan sakit di kakinya.


"Alif," ucap Ayu lirih.


Ayu berjalan mendekat dan merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Alif. Wanita itu membawa sang anak ke dalam pelukan hangatnya. Mendekap dengan erat dan penuh kasih sayang. Sentuhan kulit yang sudah seminggu ini tak meraka rasakan membuat air mata berlinang tanpa diminta. Bahkan orang-orang yang berada di sana menitikkan air mata.


"Kamu nggak apa-apa, kan, Nak? Kamu nggak dijahatin sama orang, kan?" Ayu bertanya dengan menangkup wajah mungil anak sulungnya. Netranya lalu tak sengaja melihat tangan yang masih banyak luka hampir kering.


"Nggak apa-apa, Bu. Hanya luka sedikit dan hampir sembuh." Alif menyeka air mata yang dengan mudahnya lolos membasahi pipi sang ibu.


"Maaf sebelumnya, Mbak. Saya yang nabrak Alif sampai dia kritis. Saya benar-benar nggak sengaja, tapi kalau memang Mbak mau bawa saya ke jalur hukum tidak apa-apa." Gita menyela suasana haru yang sedang berlangsung.


Ayu mendongak lalu bangkit berdiri, ia menyeka air matanya sedikit lalu mendekati Gita. Dengan seulas senyum ia berkata, "Aku nggak mempermasalahkan itu. Kamu sudah tanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat meskipun kamu tidak sengaja melakukannya. Terima kasih sudah menyelamatkan anakku." Ayu memberikan pelukan hangat pada Gita. Menyalurkan rasa terima kasih karena sudah membuat Alif kembali padanya.


Setelah di rasa selesai, mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Rasa sakit yang di rasakan Ayu mendadak hilang begitu bertemu dengan salah satu belahan jiwanya.


"Om, makasih sudah jagain ibu selama aku nggak ada," ucap Alif tiba-tiba saat mereka baru saja masuk mobil.

__ADS_1


"Kok kamu tahu?" Jaka bertanya dengan heran.


"Selama kritis, aku mimpi kalau ibu cari aku kemana-mana dan Om yang menemani ibu," jawab Alif dengan tatapan hangat.


Alif yang duduk di pangkuan Ayu mengarahkan pandangan pada ibunya.


"Ibu sakit, ya? Badannya demam, maaf aku udah buat Ibu khawatir. Seharusnya aku dengar ucapan Ibu. Aku nggak mau ketemu sama Nenek lagi, Nenek jahat sama aku. Aku juga nggak mau ketemu sama Ayah, katanya Ayah udah nikah sama perempuan yang lebih cantik dari Ibu. Ibu pergi dari Ayah karena di sakiti sama Ayah, kan? Kenapa Ibu bohong? Kenapa Ibu bilang kalau Ibu hanya ngambek?" Alif mulai kembali berlinang air mata.


Kata-kata dari Bu Lasmi rupanya sangat membekas di hati Alif. Ia juga teringat saat bertemu dengan sang Ayah sesaat sebelum kecelakaan. Alif salah mengira, ia salah paham dengan situasi saat itu. Anak itu berpikir bahwa Ayahnya tak lagi sayang padanya karena sudah meninggalkannya dalam keadaan menahan sakit.


Ayu tak sanggup berkata apapun. Ia kembali membawa Alif ke dalam dekapannya. Jaka yang sejak tadi diam, mulai mengiba dan mengelus pelan kepala Alif.


Jaka punya masalah yang sama dengan Ayu. Cinta mereka sama-sama memiliki cinta yang lain. Ia jadi membayangkan bagaimana jika kedua anaknya nanti menanyakan keberadaan sang ibu? Apa yang akan ia jawab?


"Alif sekarang sudah besar ternyata, sudah tahu keadaan Ibu. Jadi Alif harus kuat untuk Ibu, ya. Jadi anak yang baik dan hormat sama Ibu." Jaka memberi nasihat dengan tangan yang masih mengelus kepala Alif.


Ayu hanya menatap nanar tangan yang sejak tadi tak ingin diam memberikan kenyamanan bagi anaknya.


"Bisa kita pulang sekarang? Nenek Lin dan yang lain pasti senang kita kasih kejutan," sela Jaka agar mereka tak larut dalam kesedihan.


"Ayo, Om! Aku juga udah kangen sama omelan Nenek Lin."


Jaka dan Ayu refleks tertawa mendengar ocehan anak kecil itu.


"Emang kamu pernah di omelin sama Nenek Lin?" Jaka bertanya seraya melajukaan mobilnya.


Mengalirlah cerita-cerita Alif saat ia sedang diasuh oleh Bu Lin. Anak itu bercerita dengan semangat dan sesekali tertawa. Membuat kedua orang dewasa yang di dekatnya juga ikut tertawa.

__ADS_1


*


Beberapa hari kemudian sidang pengambilan keputusan untuk bu Lasmi di gelar. Ayu turut ikut dalam persidangan tersebut, tentu saja wanita itu di temani oleh Jaka. Hubungan mereka semakin dekat saja setelah momen penemuan Alif di kantor polisi.


"Tidaaak! Tidak saya tidak mau di penjara, saya tidak salah. Lepas!" Bu Lasmi memberontak ketika kedua petugas kepolisian menuntun wanita tua itu keluar ruangan.


Bu Lasmi berteriak histeris tak terima beliau di penjara selama lima tahun. Beliau memanggil-manggil anaknya meminta pertolongan.


"Nang, Galuh, tolong Ibu. Kalian pasti bisa membantu Ibu. Kalian nggak kasihan sama Ibu? Nanti bagaimana nasib Fadil?" Bu Lasmi memohon dengan sangat.


"Maaf, Bu. Baik aku ataupun Galuh tidak bisa membantu Ibu. Sudah sangat jelas Ibu bersalah di sini. Untuk masalah Fadil biar aku yang urus. Aku akan tanggung jawab dengan nasib adikku, tapi untuk Ibu, maaf aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku pamit, jaga diri Ibu baik-baik. Ini pertemuan kita yang terakhir, terima kasih untuk waktu puluhan tahun yang Ibu berikan padaku. Aku sudah membayarnya dengan penderitaanku, penderitaan yang akan aku lalui seumur hidupku. Tidak ada yang lebih menderita bagi orang tua selain berpisah dari anak. Jaga kesehatan!" Anang berucap dengan mata berkaca-kaca, ia teringat dengan anak-anaknya. 


Anang beralih pada adik pertamanya, "Luh, sering-sering ke sini. Ibu hanya punya kamu dan Fadil. Kamu juga jaga diri baik-baik." Anang berpelukan dengan sang adik beberapa saat. Lalu beranjak pergi dari sana.


"Anang, jangan pergi, Nang. Maafin Ibu, hanya kamu yang peduli sama Ibu, Ibu mohon kembalilah." Bu Lasmi mendadak lemas dan limbung, beliau terjatuh di lantai lantaran tak bisa lagi menopang tubuhnya.


"Yu!" Panggil Anang lirih di parkiran.


Ayu hanya menoleh tanpa bersuara.


"Anak-anak apa kabar?"


"Baik, mereka semua akan baik jika di bawah tangan orang-orang yang baik juga. Jangan khawatirkan anak-anak, hidup mereka sudah tenang tanpa sosok Ayah. Jauh lebih tenang!" Ayu memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.


"Atas nama Ibu aku minta maaf, aku nggak akan usik kalian lagi, kok. Maaf untuk semuanya. Aku percayakan anak-anakku ke kamu. Aku permisi, selamat tinggal. Salam sayangku untuk mereka dan sampaikan juga maafku."


Anang melangkah pergi dengan gontai. Ayu merasa ada yang berbeda dari mantan suaminya. Wajahnya nampak pucat dan tatapan mata yang berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Kenapa?" Jaka bertanya setelah memperhatikan Ayu yang memandang dengan lekat tubuh Anang yang menjauh.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku merasa ada yang beda aja, mungkin perasaan aku aja. Ayo kita pulang!" Ayu berusaha tak mempedulikan perasaannya.


__ADS_2