
"Mau ke mana kamu? Malam-malam.l begini mau keluar sama siapa?" cerca Jaka melihat Dara yang memasang sepatunya di teras.
"Mau keluar sebentar sama teman, Bang. Masa nggak boleh," sungut Dara.
"Bukannya nggak boleh, ini udah malam. Nggak baik buat perempuan kayak kamu keluar malam-malam begini."
"Malam apanya, sih? Ini baru aja selesai maghrib, Bang," protes Dara kesal.
"Mas, jangan terlalu mengekang. Kasih dia kepercayaan juga. Dara sudah dewasa, dia pasti bisa jaga dirinya sendiri. Lagipula biar dia bisa belajar untuk jaga diri juga," bela Ayu.
Dara yang merasakan mendapatkan angin segar memeluk gemas pada wanita yang akan menjadi Kakak iparnya sebentar lagi.
"Makasih, ya Mbak. Kamu adalah Mbak tebaik." Dara melepas pelukan seraya menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk sebuah love yang sering di peragakan anak muda.
"Abang antar, Abang nggak akan kasih izin kalau kamu pergi naik motor sendirian." Jaka berdiri dan bersiap megambil kunci mobil.
"Nggak usah, Abang," pekik Dara kesal. "Aku ketemu sama teman deket sini aja. Di rumah makan ujung sana, aku bisa sendiri."
Jaka hendak menjawab, namun tangan Ayu tiba-tiba menyentuh tangannya. Wanita itu menggeleng seakan memberikan kode pada Jaka untuk tak perlu khawatir dengan Dara.
Jaka akhirnya duduk kembali dengan setengah hati. Menatap Dara yang dengan tanpa rasa dosa mengeluarkan motornya dari dalam rumah.
"Sebelum jam sembilan harus sudah di rumah. Kalau nggak, Abang nggak akan pernah izinin kamu untuk keluar malam," ancam Jaka tegas.
"Iya, Abangku Sayang. Jam sembilan paling malam, bye Assalamu'alaikum," teriak Dara seraya melajukan motornya.
"Waalaikumsalam."
"Jangan anggap Dara anak kecil terus, Mas. Kalau diperlakukan seperti itu, dia nggak akan terbuka sama kamu. Dia memendam perasaannya sendiri. Contoh kecilnya ketika kamu melarang Dara untuk bekerja, padahal dia merasa dia mampu melakukan itu. Akhirnya dia sembunyi-sembunyi mencari uang sendiri, kan? Dan dia membuktikan apa yang kamu khawatirkan tidak terjadi. Kuliah masih jalan, uang juga jalan, belajar nggak keganggu. Seharusnya kamu belajar dari hal itu."
__ADS_1
Jaka nampak memikirkan apa yang diucapkan calon istrinya, lalu mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.
"Tapi, kan ini beda."
"Apanya yang beda? Intinya sama-sama ngasih kepercayaan aja. Percayalah semua akan baik-baik saja." Ayu menggengam tangan Jaka agar merasa lebih tenang dan tidak berpikir berlebihan.
Cup
Satu kecupan sukses mendarat di punggung tangan Ayu. "Terima kasih, sudah membuka pikiranku. Aku beruntung punya kamu," katanya dengan tulus dan tatapan penuh cinta.
***
Rifki menungu Dara sejak beberapa menit yang lalu. Ia menunggu dengan gusar karena khawatir Dara tak bisa keluar rumah. Namun, kekhawatiran pria itu luntur begitu saja saat melihat motor yang melakukan mendekati dirinya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu datang juga. Kirain nggak bisa datang," ujar Rifki mengungkapkan kelegaannya.
Tak berselang lama, nampak gadis itu berjalan dengan anggun menuju ke halnya raya. Entah dorongan dari mana Rifki berjalan ke tepian jalan dan membantu menyebrangkan Dara.
Mereka saling tatap sejenak, Dara terlihat begitu cantik dengan gamis kuning bermotif bunga itu. Tak nampak wajah anak-anak dari Dara, ia sudah nampak seperti wanita dewasa.
"Ayo, Kak. Tunggu apalagi? Jam sembilan aku harus sudah di rumah," protes Dara.
Tak banyak bicara lagi, Rifki membukakan pintu mobil untuk gadis yang akan menjadi kekasihnya semalam. Tak banyak obrolan sepanjang perjalanan. Hanya beberapa kali saja mereka saling melempar pertanyaan.
"Tadi harusnya aku jemput kamu di rumah, Ra. Biar Jaka juga nggak khawatir kalau tahu perginya sama aku. Aku jadi merasa kayak pecundang yang ngajak anak gadis orang ketemu dipinggir jalan terus ngajak kencan."
"Kan, aku udah bilang, Kak. Nggak semudah itu, Bang Jaka protektif banget sama aku. Kan, kamu sendiri yang bilang kalau ini urgent banget, kamu butuh aku banget, kalau izin Bang Jaka ya sama aja buang waktu. Bang Jaka nggak pernah kasih aku izin untuk menjalin hubungan dekat dengan laki-laki manapun sebelum aku lulus kuliah. Itu sebabnya aku sendiri juga membatasi pergaulan aku dengan lawan jenis," terang Dara.
"Tapi kenapa kamu mau bantu aku? Kenapa kamu rela bohong demi aku?" selidik Rifki.
__ADS_1
"Ya udah balik lagi ke jalan tadi, aku mau pulang aja, bukannya terima kasih malah nanya yang nggak-nggak. Jangan lupa kamu sendiri yang datang ke rumah dan mohon-mohon. Tahu gitu aku rekam aja tadi biar nggak semena-mena," sungut Dara jutek.
"Ya bukan gitu maksud aku. Aku jadi merasa istimewa kalau kamu bohong demi aku," ujar Rifki percaya diri.
"Jangan lupa, ada bayaran untuk ini, kan. Aku melakukan ini nggak cuma-cuma, itu artinya kamu nggak istimewa. Wlee," ledek Dara menjulurkan lidahnya.
Bukannya kesal, Rifki justru tertawa pelan dengan ejekan Dara. Memang ini tak cuma-cuma. Rifki harus membayar waktu Dara malam ini dengan mentraktirnya pada hari minggu nanti. Membelikan dan memberi apapun yang Dara minta.
"Baiklah! Aku akan bantu kamu, tapi ada syaratnya. Traktir apapun yang aku mau di hari minggu nanti. Kamu tahu, kan? Sebentar lagi Bang Jaka dan Mbak Ayu akan menikah. Sudah jelas uang jajan dari Bang Jaka nanti akan berkurang atau justru aku tak di beri uang. Jadi, ya aku mau hari minggu besok traktir aku makan, beli jajan dan beli kepentingan kuliah." Dara mengubah ekspresi wajahnya lalu meletakkan dagu di atas telapak tangan kanannya. "Aku kayak perempuan matre, kalau begitu," pikir Dara menimbang-nimbang.
"Nggak!" jawab Rifki cepat. "Kamu bantu aku dua kali, hal yang wajar jika kamu minta sesuatu, nggak masalah buat aku. Aku akan mengajakmu jalan hari minggu nanti. Permintaan kamu nggak seberapa dengan bantuan yang kamu kasih. Kamu menyelamatkan hidup aku secara nggak langsung."
"Jangan berlebihan, Kak."
"Aku nggak berlebihan, bagaimana kalau sekarang kita jadi teman," tawar Rifki menaikturunkan kedua alisnya.
Sejak sore tadi mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi teman.
Setelah sekian lama membelah jalan, mereka sampai juga di restoran di mana Rifki dan teman-temannya membuat janji.
"Apa?" tanya Dara bingung ketika melihat Rifki menekuk tangan kirinya sedikit.
"Masukin tangan kamu di sini. Kamu pernah lihat orang pacaran? Pernah lihat sepasang kekasih jalan berdua, kan?" jawab Rifki geram.
"Tapi, kan kita pura-pura. Masa gandengan beneran?" Dara tak terima.
"Astaga, Dara ku Sayang. Apa kita harus menjelaskan bahwa kita ini sedang sandiwara pada teman-temanku? Kita bersandiwara menjadi sepasang kekasih, jadi kita harus beriskap layaknya seorang kekasih. Paham? Jadi kalau sewaktu-waktu aku panggil sayang, jangan protes. Ok." Rifki mengambil tangan kanan Dara dan melingkarkanya di lengan tangan kirinya.
Mereka berjalan layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Kedua manusia yang sedang bersandiwara itu sedang merasakan perasaan yang sama. jantung mereka sama-sama merasa akan keluar dari tempatnya lalu meledak saking cepatnya detakan yang jantung mereka.
__ADS_1