
"Nangis sampai kamu puas, Abang temani di sini."
Jaka pun menyadari bahwa kehidupan ini terlalu kejam untuk mereka. Jaka berharap ini ujian berat yang terakhir untuk mereka. Namun, dari rentetan kejadian ini Jaka menyadari satu hal dan meyakinkannya bahwa cinta mereka akan kuat dan kokoh.
Setelah membiarkan Dara tenggelam dalam tangisannya. Jaka mendudukkan dirinya di jendela menghadap sang Adik. Membenarkan letak rambut yang di terbangkan oleh malam. Memandang wajahnya lekat di bawah lampu redup yang menyala di kamarnya. Lalu menangkap kedua pipinya dengan telapak tangan.
"Tuhan selalu punya maksud kenapa mendatangkan ujian untuk umatNya. Semua orang punya ujianya masing-masing. Ada yang ringan, sedang dan berat. Semua itu ada porsinya sendiri-sendiri. Kalau Rifki saja mau menerima keadaan kamu apa adanya kenapa kamu nggak bisa menerima keadaan kamu? Memang berat, tapi jangan hanya fokus pada ujiannya saja. Ibarat sekolah kamu sedang ujian kamu nggak mungkin cuman baca soal dan tanpa memikirkan jawabannya, kan? Kamu menjawabnya sebaik mungkin agar kamu bisa baik kelas. Begitu juga dengan kehidupan, punya masalah selesaikan dengan baik kalau sudah selesai tinggalkan jangan dipikirkan lagi. Kamu sudah berada di titik ini itu sudah bagus cara jangan ingat sesuatu yang membuat kamu jadi down kembali. Abang maksa kamu untuk ketemu sama Rifki, Abang hanya minta kamu untuk tidak lagi memikirkan ini." Jaka berhenti sejenak merasa air matanya akan segera muncul ke perempuan. " lihat Abang, kamu akan tetap suci di mata semua orang. Maafin Abang, ya Dek." Jaka memasukkan adiknya ke dalam pelukannya mendekatnya dengan erat.
Tak ada satupun orang yang tahu betapa penyesalan dan merasa bersalah masih berada di puncak kepalanya. Apalagi jika melihat wajah Dara. Jaka merasa menjadi pria dan sosok kakak yang tidak berguna.
Entah berapa lama mereka tenggelam dalam tangis dan dekapan erat. Menyalurkan segala beban yang ada dan berharap menjadi ringan.
"Udah, ya nangisnya sekarang kamu tidur. Janji sama Abang untuk tidak lagi insecure dengan keadaan yang sudah menimpa kamu."
" InsyaAllah."
Dara berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Membiarkan Jaka menyelimuti tubuhnya hingga leher. Ia ingat, tidak pernah sekalipun Jaka melakukan ini kecuali waktu kecil. Jaka dan Dara dewasa selalu bertengkar dalam hal apapun dan Dara sekarang merindukan itu.
"Bang, boleh aku minta satu hal?" Tanya Dara menggenggam tangan sang Kakak.
Jaka berjongkok, agar wajahnya dan wajah Dara bisa sejajar. Untuk sesaat mereka saling diam. Sedangkan Jaka mengelus pelan puncak kepala adiknya. Ia sadar tak pernah melakukan ini saat Dara beranjak remaja hingga sekarang.
__ADS_1
"Mau minta apa, hmm?"
"Temani aku di sini sampai aku tertidur. Apa Mbak Ayu nanti akan marah?"
Jaka tersenyum. "Abang temani. Mbak Ayu tidak akan marah, dia istri yang pengertian. Ya sudah tutup matanya!"
Jujur saja Jaka tidak pernah mau seperti ini. Saya ingin Dara kembali. Lebih ia selalu mendengar omelannya dan ejekannya daripada ia harus melihat Dara tersenyum, tapi penuh luka.
Jaka masih mengelus pelan kepala adiknya di saat gadis itu sudah tertidur dengan pulas. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Dara untuk tertidur jika diperlakukan manis seperti ini. Untuk pertama kalinya Jaka mencium kening sang adik, lalu dengan perlahan beranjak dari sana.
"Loh Kamu masih di sini toh?" Bu Lin dan Jaka berpapasan di ruang tengah.
"Iya, nemenin Dara tidur sebentar, minta ditemani katanya. Dia sekarang lebih manja daripada yang dulu, ya Bu." Jaka menatap lantai.
"Iya, nanti aku akan datang sama Ayu. Nanti saja akan aku sampaikan maaf kita semua sama Rifki dan Bu Rini. Udah jangan dipikirin, Ibu istirahat. Aku pulang, ya. Ayu kasihan di rumah sendirian.
Bu Lin hanya bisa menggangguk lalu berjalan menuju kamar Dara. Beliau ingin memastikan apakah gadis itu sudah benar-benar tertidur. Setelah memastikan hal itu Bu Lin masuk ke kamarnya.
***
"Kok belum tidur, Dek?" tanya aja kamu itu memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Nunggu kamu."
"Lama, ya. Maaf ,ya. Tadi nemenin Dara dulu tidur minta di temenin. Dia sekarang lebih manja." Jaka meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Kamu juga. Dia lagi kangen aja, sih itu sebenarnya sama Rifki. Kamu kan juga tahu dari gelagat Rifki kalau dia itu cinta banget sama Dara. Dalam keadaan buta saja masih bisa memperlakukan Dara dengan manis apalagi nanti kalau bisa melihat. Dan mereka sudah nggak ketemu enam bulan, aku nggak bisa membayangkan betapa manisnya mereka nanti. Mungkin akan perlu sedikit perjuangan dari Rifki untuk meyakinkan Dara bahwa dia masih pantas mendapatkan laki-laki itu. Gila , ya Mas perjuangan mereka untuk duduk di pelaminan saja seberat itu." Ayo memainkan rambut Jaka.
"Biar cinta mereka kuat, Dek. Setiap orang akan diuji cintanya, ya meskipun versinya berbeda-beda."
Jaka semakin menenggelamkan wajahnya di perut sang istri. Mengencangkan tangan yang melingkar di pinggang Ayu.
"Aku cape banget." Jaka berujar dengan lirih.
"Semuanya sudah selesai, Mas. Pikirkan yang baik-baik saja. Semua keadaan pasti akan berangsur membaik."
***
Disaat semua orang sudah tertidur dengan pulas. Ada beberapa hamba Allah yang sedang menggelar sajadah, salah satunya adalah Rifki. Sejak Dara menghilang, ia hanya mampu mendoakannya melalui setiap sholatnya. Mengirimkan beberapa kata untaian doa baik untuk gadis itu. Berharap gadisnya itu selalu bahagia meski tanpa dirinya.
Namun, beberapa minggu terakhir doanya sudah berubah. Ia selalu mendoakan hal yang sama. Berharap operasi yang akan dilakukan beberapa hari lagi membawakan hasil yang baik. Besar harapannya untuk kembali bisa melihat. Ia sudah merindukan Dara yang ia lihat dalam kegelapan.
Rifki juga tiada hati mengucap syukur atas dua berita baik yang ia dengar dalam waktu bersamaan. Meskipun ada berita yang menyayat hati yang ia dengar juga dalam waktu bersamaan pula. Tapi ia tak mau fokus pada kabar itu. Hal terpenting baginya adalah ia bisa mengembalikan sosok Dara yang dulu.
__ADS_1
Tunggu aku Sayang, sabarlah untuk sesaat lagi. Hanya sedikit, berikan aku waktu sedikit lagi. Aku akan kembali padamu. Kita akan menyatukan cinta kita selamanya.