Pamit

Pamit
76. Caper


__ADS_3

Rifki yang baru saja sampai di ruangannya bukannya memulai pekerjaan malah memainkan ponselnya. Ia merindukan gadis kecilnya yang ambekan. Sudah lebih dari satu bulan menghilang tanpa kabar, berharap bahwa ia mendapat spam chat darinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, tak ada chat, tak ada telepon, justru Dara malah lebih sering mengupload fotonya dan teman-temannya.


Rifki jadi ragu untuk melanjutkan hubungan ini. Ia menghilang bukan untuk benar-benar menghilang. Ia melakukan itu hanya ingin dicari olehnya saja. Tapi yang diharapkan malah tak menghiraukan.


"Aku ingin mundur dari hubungan ini, tapi Jaka bilang kamu akhir-akhir ini galau nggak jelas, suka ngamuk, suka bikin gara-gara. Pasti kamu kangen aku, iya, kan? Tapi kamu gengsi untuk mengakui itu. Ok baiklah, sudah cukup aku menghilang. Aku akan upload diriku yang semakin tampan ini. Aku ingin lihat, apakah jarinya betah untuk tidak berkomentar," gumam Rifki seraya mengotak-atik ponselnya.


"Mencintaimu adalah sakit hati yang paling di sengaja," tulis Rifki lalu menekan tombol kirim.


Setalah itu Rifki meletakkan ponselnya dan memulai bekerja. Baru saja fokus dengan sebuah kertas, ponselnya berdering pendek. Tangannya bergerak untuk mengecek siapa yang mengirimnya pesan.


Matanya terbuka sempurna saat melihat nama di layar benda pipihnya. Bahkan tak cukup sampai di situ saja, mulutnya ikut terbuka lebar saking bahagianya membaca nama pengirim pesan.


"Akhirnya, akhirnya dia mengirimkan pesan. Akhirnya dia komen status gue juga. Ini benar-benar kejutan. Tapi tunggu, jangan langsung di baca apalagi di balas. Nggak-nggak, jangan. Harus diberi pelajaran dulu. Gadis kecilku ini harus menunggu dulu." Rifki begitu girang mendapat pesan dari Dara. Ia sempat membaca sekilas tapi belum ia buka.


Sangat sulit bagi Rifki untuk sampai di titik ini. Ia harus menahan rindu yang teramat sangat. Hari-harinya hanya ia habiskan untuk memandang fotonya dengan Dara saat sedang kencan bersama.


Rifki terpaksa melakukan ini, ia ingin membuat Dara sadar dengan perasaannya. Membuat Dara mengerti bahwa gadis itu butuh sosok Rifki di sampingnya. Cara yang termasuk frontal dan ia berharap hasil yang ia dapatkan maksimal.


***


"What? Pesanku belum dibaca? Songong sekali dia." Dara mendadak kesal melihat chatnya yang belum centang biru.


Ia kembali meletakkan ponselnya dan berjalan keluar kamar. Di hari menjelang sore ini, ia memilih untuk jalan-jalan hanya sekedar keliling kompleks. Menyegarkan pikiran dan tubuhnya dari masalah yang ada. Ia sudah pusing dengan tugas kuliah, ditambah lagi dengan kelakuan Rifki yang benar-benar harus dicekik dan di banting.


Semilir angin menerpa wajah ayu Dara, membuat kerudungnya berkibar-kibar pelan. Ia membiarkan sejuknya angin meniup-niup wajahnya, rasanya sangat lama ia tak merasakan suasana sesejuk ini.


Saat membelokkan setirnya ke komplek yang tak jauh dari rumahnya, tiba-tiba dari arah berlawanan ada seorang anak kecil yang bersepeda dengan kecepatan tinggi, mereka yang sama-sama tak sempat menginjak rem membuat Dara akhirnya membanting setir ke kiri dan


Bruak!

__ADS_1


"Auh," pekik Dara merintih kesakitan lantaran kakinya yang tertindih motor.


Beberapa warga yang sedang berada di pinggir jalan berdoyong-doyong menghampiri Dara dan membantu gadis itu berdiri.


"Bisa bawa motornya, Neng? Mau saya antar pulang? Rumahnya mana?" tanya seorang bapak-bapak.


"Ah, nggak, Pak. Saya masih bisa pulang sendiri. Hanya ngilu aja di kaki. Terima kasih sudah membantu, saya permisi." Dara menyalakan motornya dan pergi dari sana. Ia berkendara dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah. Ia sudah tak tahan dengan rasa sakit di pergelangan kaki yang semakin menyiksa.


"Ibu, kaki aku sakit, Bu!" Dara berteriak begitu sampai di teras. Ia berjalan dengan terpincang-pincang.


"Astaghfirullah, kenapa kakimu?" tanya Bu Lin panik.


"Jatuh dari motor. Sakit banget, Bu. Bengkak kakinya, harus diurut ini, mah," keluh Dara duduk di lantai.


"Ya udah Ibu ambil minyak urut dulu, mana lagi yang sakit? Kaki aja, kan?"


"Iya, Bu." Dara menjawab seraya beranjak ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Bu Lin kembali dengan minyak urut di tangan kanannya. Dengan lemah lembut dan keibuannya, ia mengurut kaki Dara. Gadis itu hanya meringis kesakitan.


"Kok bisa jatuh gimana, sih kamu naiknya?"


"Ada anak kecil naik sepeda kenceng banget di depan aku, Bu. Aku nggak sempat narik rem. Makanya aku belokkan setir ke kiri, nabrak pagar deh."


"Kamu enteng banget ngomongnya. Itu pagar sama anak kecil nggak apa-apa?"


"Kok malah nanyain keadaan pagar, sih Bu," sungut Dara kesal.


Dara kembali membuka aplikasi hijau membuka ruang chatingnya dengan Rifki. Tiba-tiba ada pesan masuk darinya.

__ADS_1


[Aku nggak ke mana-mana, masih di sini saja]


Dara dengan cepat membalasnya, entah sadar atau tidak ia melakukan itu.


[Kenapa menghilang? Kamu marah sama aku?]


[Kenapa berpikir begitu?]


[Ya kamu nggak ada kabar setelah pertemuan kita di restoran waktu itu]


Chating mereka berakhir sampai sana. Entah kenapa Rifki tak membalas pesan terakhirnya. Pria itu membacanya saja, dan hal itu sukses membuat Dara kesal.


"Besok nggak usah kuliah dulu, kaki kamu bengkak, nggak sembuh-sembuh kalau buat jalan terus."


"Besok aku ujian, Ibu. Biar besok aku di antar sama Abang. Cuma keseleo ini, besok juga kempes."


"Ya udah terserah kamu aja, kamu,kan susah di kasih tahu," sungut Bu Lin beranjak dari duduknya.


Entah pikiran dari mana, Dara ingin melakukan hal yang seperti Rifki lakukan. Ia mengambil foto kakinya yang terlihat membengkak dan menguploadnya di aplikasi hijau. Ia ingin tahu respon dari Rifki, ia ingin memastikan apakah Rifki sudah benar-benar berubah rasa terhadapnya.


Beberapa menit berikutnya, "Lah, dia lihat story aku, kok nggak nanya, sih. Nanya kenapa, kek. Basa basi dikit. Dasar laki-laki semua sama, bilang sayang bilang cinta tapi diawal doang, bulshit semua." Dara melempar pelan ponselnya ke lantai.


"Ra, udah sore. Itu jemuran angkatan buruan!" teriak Bu Lin dari belakang.


"Lah, katanya aku nggak boleh jalan, kok malah suruh angkat jemuran, sih Bu," protes Dara yang juga dengan berteriak.


"Ya udah, nih kamu ke sini goreng lelenya, biar Ibu yang angkat jemuran."


"Ah Ibu, mah sama aja jalan. Ya udah aku angkat jemuran aja." Dara berjalan dengan pelan sembari menggerutu.

__ADS_1


Saat sampai di teras, motor yang sangat familiar di mata Dara masuk ke halaman rumahnya. Ia terhenti dari langkahnya dan tak mengalihkan pandangan dari pemilik motor itu. Meskipun ia tahu siapa orangnya, entah kenapa Dara lebih memilih menunggunya dengan berdiam diri.


__ADS_2