Pamit

Pamit
62. Harga Diri Rifki Terluka


__ADS_3

Di bawah ruangan ber AC dan dinding berwarna putih bersih, Rifki sedang menggigit ujung kukunya seraya mondar-mandir. Ia bingung, bukan perkaas pekerjaan, tapi perkara perkumpulan dengan teman-temannya semasa ia kuliah.


Terakhir kali Rifki menghadiri perkumpulan itu, ia di ledek habis-habisan oleh teman-temannya karena tak kunjung menikah atau setidaknya membawa kekasih saat berkumpul. Ia menjadi topik utama acara itu dari awal hingga akhir. Dan kali ini, ia tak mau menjadi bahan ledekan lagi. Itulah sebabnya ia berpikir keras sejak tadi dan tak fokus dengan pekerjaan.


"Dara, hanya dia satu-satunya orang yang bisa bantu aku. Nggak ada yang kenal dengan Dara, aku bisa bersandiwara dan membohongi mereka. Tapi masalahnya Dara mau atau tidak? Astaga, kalau aku sudah bisa melupakan Ayu dalam hatiku, aku akan menikahi dua wanita sekaligus, kesal sekali aku dengan statusku," omel Rifki masih mondar-mandir seraya berkacak pinggang.


Setelah mendapat pencerahan, akhirnya pria itu menyambar tas dan berjalan keluar ruangan. Ia berniat akan ke rumah Dara sebelum pulang. Ia menaruh harapan besar pada gadis itu.


***


"Abang, bantuin bawa ini banyak banget, Bang!" Dara berteriak seraya mengambil semua pakaian dari jemuran. "Punya saudara satu kagak ada pengertian sama sekali, udah tahu ini banyak inisiatif kek, bantuin." Dara trus mengomel karena sejak tadi Jaka tak menyahut panggilannya. Pria itu sibuk mengurus pernikahannya yang masih akan di gelar satu bulan lagi.


"Apa, sih? Kalau kebanyakan bawa sedikit-sedikit, nanti diambil lagi," gerutu Jaka kesal.


Dara yang hendak menjawab perkataan Jaka urung, karena terdengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya. Gadis itu menghentikan kegiatannya sesaat demi melihat siapa yang datang. Ia dan Jaka terdiam manatap pemilik motor yang tak kunjung melepas helm nya.


"Rifki, ngapain dia ke sini?" tanya Jaka pada dirinya sendiri.


Jaka tanpa sadar meletakkan baju ke tangan Dara dan berjalan ke arah Rifki.


"Abang! Abang gimana, sih? Ini aku nggak bisa lihat jalan. Ah, Abang mah jahara!" rutuk Dara berjalan masuk rumah dengan menghentakkan kakinya. Kekesalannya tak dihiraukan oleh sang Kakak.


"Rif, kau sepertinya salah rumah. Atau kau memang berniat ke sini?" sambut Jaka bergurau.


"Aku memang ke sini, Jak. Ayu sepi rumahnya, masih di toko kali, ya. Tapi aku nggak berniat ke rumah Ayu, sih. Memang mau ke sini, main-main aja. Kau tumben sekali jam segini sudah di rumah?" tanya Rifki yang tahu kebiasaan Jaka pulang malam saat kerja.


"Iya, aku sedang sibuk mempersiapkan pernikahanku dengan Ayu," jawab Jaka dengan sedikit malu. Hal itu terlihat dari wajahnya yang nampak memerah.

__ADS_1


"Nikah?" Pekik Rifki terkejut. "Kau menikah dengan Ayu? Oh akhirnya, kau tahu aku sangat lega dan senang mendengarnya. Akhirnya setelah satu tahun lebih berjuang kau ada hasilnya. Selamat, kapan hari itu akan tiba?" tanya Rifki tak bisa menyembunyikan senyumnya. Meskipun dalam hatinya sedikit tercabik oleh kenyataan, tapi ia ikhlas jika Ayu menikah dengan Jaka.


Bukankah memang ini yang ia inginkan? Seandainya saja jika Ibunya memberikan restu, sudah di pastikan ia tidak akan melepas Ayu untuk pria lain.


"Awal bulan depan, tepat di hari ulang tahun Ayu," jawab Jaka sumringah.


"Biar jadi kado terindah, ya. Sekali lagi selamat, aku titipkan adikku padamu. Sekali kau sakiti dia, aku yang akan ambil dia darimu," tukas Rifki terkekeh.


"InsyaAllah nggak. Aku akan jaga dia, mau sampai kapan di sini? Ayo masuk," ajak Jaka masuk ke dalam rumah.


"Ra, minum!" teriak Jaka memasuki rumah.


Tak ada sahutan, namun terdengar suara panci dan kompor sedang beradu di dapur. Sudah di pastikan bahwa Dara sedang kesal karena gesekan yang ditimbulkan oleh panci dan kompor lebih terdengar seperti di banting dari pada di letakkan baik-baik.


"Kok sepi? Nggak ada orang selain kalian?" Rifki membuka suara setelah duduk di sofa bermotif bunga itu.


"Anak-anak lagi sama Ibu, diajak main ke rumah tetangga. Biasa, Ibu nggak betah di rumah kalau anak-anak Ayu nggak di sini."


"Khem," dehem Jaka melihat Rifki yang tak berkedip melihat adiknya.


Rifki seketika gelagapan dan sedikit salah tingkah. Refleks ia mengambil cangkir dan meminum kopi yang masih mengepulkan asap tebal.


"Astaga, panas!" pekik Rifki kembali meletakkan cangkir dengan keras.


Dara yang melihat itu tak sanggup menahan tawa. Sedangkan Jaka hanya mengatupkan mulutnya seraya mengalihkan pandangan.


Rifki bingung hendak menyembunyikan di mana wajahnya yang sudah memerah. Ia sungguh tak berani menatap Jaka apalagi Dara.

__ADS_1


"Dara udah Ra. Jangan tertawa, seneng banget kamu lihat penderitaan orang." Jaka memberikan gesture mengusir pada Dara.


Gadis itu melipir pergi dengan tawa yang masih menggelegar. Tawa itu terdengar seperti petir di telinga Rifki. Sangat menyakiti telinga dan harga dirinya.


"Jangan di pikirkan, ya Rif. Dara memang begitu orangnya, agak-agak nyebelin," kata Jaka terkekeh.


"Iya, nggak apa-apa. Aku juga yang salah main nyruput aja," tukas Rifki malu. "Oh, ya Jak, sebenarnya aku ke sini ada perlu sama Dara," imbuhnya memberanikan diri.


Jaka mengernyit, "Ada perlu sama Dara? Apa kalian dekat?" tanyanya heran sekaligus sedikit terkejut.


"Nggak, maksudnya bukan dekat dalam arti yang sebenarnya. Yah, aku dan dia cuma teman, kok. Maksudnya dekat antara teman." Saking gugupnya Rifki sedikit belepotan saat bicara.


"Oh, teman." Jaka mengangguk-angguk mengerti. "Ya udah aku panggilkan dia, ya. Kalian bisa ngobrol." Jaka berdiri, meringankan langkahnya menuju kamar Dara.


"Ra, Rifki nyari kamu, tuh. Katanya ada perlu," teriak Jaka seraya mengetuk pintu kamar adiknya.


"Ada perlu apa?" tanya Dara malas.


"Mana Abang tahu," jawab Jaka acuh seraya mengedikkan bahu. "Udah temui sana! Jangan buat dia nunggu lama, kamu nggak tahu dia buru-buru apa nggak, siapa tahu habis ini dia masih ada kepentingan. Nggak baik buat tamu nunggu lama." Jaka bicara panjang lebar seraya menjauhkan diri dari kamar Dara.


"Iya, ini juga mau nemuin. Abang nyerocos mulu!" sahut Dara kesal.


"Lagi pms kali, ya. Sewot aja dari tadi," gumam Jaka terus berjalan ke belakang.


Dara bejalan dengan degup jantung berpacu lebih cepat. Ia melihat Rifki yang sedang menundukkan kepala memainkan ponselnya.


"Ada apa cari aku, Kak?" Dara mendudukkan dirinyla di sofa seberang yang tadi di duduki Jaka.

__ADS_1


"Aku butuh bantuan kamu lagi, ikut aku ke pertemuan teman kampus, ya. Please Ra," pinta Rifki tanpa basa-basi. "Atau aku bisa bayar kamu jika kamu mau. Atau apapun itu, kamu minta imbalan apa untuk membayar waktu kamu buat aku, please Dara. Hanya kamu yang bisa bantu aku." Rifki benar-benar memohon kali ini.


Dara meenghela nafas panjang, menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa. Menatap langit-langit rumah seraya memikirkan jawabannya. Tangannya ia silangkan ke dada, kakinya ia angkat dan menimpa kaki lainnya. Matanya ia sorotkan pada pria di depannya. Pria yang menunggu jawaban dengan gusar.


__ADS_2