Pamit

Pamit
103. Aku Sayang Kamu


__ADS_3

Deg deg deg


Debaran jantung keduanya sama-sama menalu-nalu dengan lincahnya. Mereka hanya bersitatap seakan membiarkan hati mereka yang bicara, melepas kerinduan yang berada di ujung kepala.


Dara senang bukan kepalang, ia terlampaui bahagia melihat Rifki yang sudah berdiri tak jauh darinya. Menatapnya dengan intens dan penuh cinta.


Namun, di sisi lain ingatannya tentang malam itu tiba-tiba saja menari kembali di kepalanya. Hal itu membuat Dara mundur secara perlahan.


"Mau ke mana?" tanya Rifki berjalan mendekat.


Dara menambah kecepatan laju mundurnya ketika pria itu semakin dekat dengannya. Sungguh ia masih sangat malu jika bertemu dengannya, namun ia bahagia karena sudah melihat Rifki sudah sembuh seperti sedia kala.


Tangan gadis itu dicekal oleh Rifki ketika wanita itu berbalik badan. Nafas Dara tiba-tiba memburu. Ia begitu merindukan sentuhan kecil dari kekasihnya. Entahlah Dara menyebut Rifki sebagai apa.


"Kamu nggak kangen sama aku?" Rifki berucap setelah beberapa saat terdiam.


Alih-alih menjawab pertanyaan Rifki. Dara justru mengatupkan mulutnya menahan isakan yang bisa kapan saja keluar dari mulutnya. Air matanya terjun begitu deras.


Rifki terlalu lama menunggu jawaban dari Dara. Tak mau menunggu lebih lama lagi, Rifki menarik tangan gadis itu dan menangkap tubuhnya dengan cepat. Kerinduan yang sebenarnya sama-sama menumpuk di ujung kepala membuat Rifki juga menitikkan air matanya. Mereka masih diam dalam sentuhan yang menghangatkan. Rifki seakan akan lupa bahwa tak jauh dari mereka masih ada Bu Lin yang berdiri memperhatikan gerak-gerik mereka.


Dara pun tak mampu lagi menahan air matanya, ia mengeluarkan isakan yang begitu pilu. Sejurus kemudian ia ingat bahwa dirinya sudah kotor. Dia mencintai Rifki, tapi bukan berarti memiliki. Itulah yang ada di pikiran Dara saat ini, akan terlalu egois jika ia meminta untuk bersama-sama dengannya. Dara berusaha melepas pelukan.

__ADS_1


Rifki tak peduli dengan berontakan Dara, ia masih memeluknya dengan erat.


"Diamlah sebentar, Dara!" ujar Rifki halus dan lembut.


"Aku kotor." Dara semakin terisak.


Rifki melepas pelukannya, namun meminta Dara untuk menatap matanya. Kedua tangannya tergerak untuk menangkup waja Dara yang sudah penuh air mata, begitupun dirinya.


Kini mereka saling tatap dalam dekat. Bahkan hembusan nafas terasa begitu menyejukkan di wajah keduanya.


"Kamu lihat aku! Kamu masih suci untukku. Kamu nggak kasihan sama aku, aku sudah jauh-jauh ke sini kamu nggak mau nemuin aku? Setelah sekian lama aku nggak bisa lihat kamu dan sekarang aku bisa melihatmu, kamu nggak ngasih aku kesempatan untuk melihatmu lagi. Kamu sudah menghilangkan momen saat pertama kali aku bisa melihat. Kamu menghilangkan harapan aku untuk bisa melihat kamu pertama kali saat aku membuka mata. Sekarang kamu mau ambil harapan aku juga? Udah nggak sayang kamu sama Kakak?" Dara menundukkan kepala ketika Rifki menanyakan hal itu. "Lihat aku, Dek!" pinta Rifki dengan lembut.


Apakah Dara tidak salah dengar? Kekasihnya mempunyai panggilan baru untuknya? Jujur saja hati Dara menghangat mendengar Rifki memanggilnya dengan sebutan 'Dek'.(maksudnya adek, ya. Bukan dedek kayak yang lagi viral. Aku nggak mau Dara ku di samain sama dia) Ingin sekali rasanya hati memeluknya, namun dengan cepat logikanya menampik keinginannya.


"Kamu bisa mendapatkan perempuan lebih baik dari aku." Dara menjawab dengan lirih. Ia mengatakan itu bukan karena ingin membuat Rifki pergi. Tapi, ia ingin meyakinkan diri sendiri bahwa Rifki benar-benar menerimanya.


"Yang lebih baik dari kamu banyak, tapi aku cintanya sama kamu, hatiku maunya sama kamu. Kamu bisa apa kalau hati aku udah milih kamu? Kenapa kamu harus peduli dengan apa yang terjadi? Kenapa kamu nggak peduli dengan perasaan aku? Kenapa kamu nggak peduli dengan orang yang sayang sama kamu? Selama hidupku aku hanya jatuh cinta dengan wanita dua kali. Kamu luar biasa hebat, kamu sudah benar-benar menghilangkan rasa cintaku pada seseorang. Setelah kamu melakukan itu, kamu mau jahat sama aku? Kamu mau ninggalin aku, nggak mau sama aku lagi? Aku harus apa supaya kamu percaya kalau aku tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi. Aku harus apa, Dek? Bilang, kamu ngomong sama aku." Sejak tadi Rifki bicara panjang lebar dengan mulut bergetar seraya tangan masih tetap sama, menangkup kedua sisi kiri kanan pipi Dara. Pandangannya pun masih teduh.


Semakin lama Dara semakin tersedu-sedu dengan ucapan kekasihnya. Ia semakin tenggelam dalam keharuannya memiliki kekasih seperti Rifki.


"Kamu mau aku pergi?"

__ADS_1


Rifki meregangkan tangannya yang sejak jadi menumpuk di pipi Dara. Perlahan menurunkan tangannya, memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit lalu berbalik arah dan berjalan dengan pelan. ia memejamkan matanya dan keluarlah setitik air dari sudut kedua netranya.


Cegah aku untuk pergi Dara, aku mohon. Tolong hentikan langkahku.


Rifki melangkah menuju keluar rumah dengan terus memohon pada Dara melalui hatinya. Ia berharap gadis itu bisa mendengar jeritan hatinya. Lalu menghentikan langkahnya untuk pergi.


Sementara Dara masih terpaku di tempat dengan isakan yang semakin terdengar menyayat. Ia tak siap kehilangan Rifki tapi ia juga malu dengan kondisinya. Benar-benar kondisi yang begitu membingungkan.


Rifki menyesali langkahnya, ia hampir saja sampai di pintu utama, tapi Dara tak kunjung melakukan apa-apa. Sekali lagi Rifki teriak dalam hati, ia meminta Dara untuk menghentikan langkahnya.


Seakan mendengar jeritan hati Rifki yang memohon, gadis itu berlari ke arah Rifki dan melingkarkan kedua tangannya di perut pria itu. Ia kembali menumpahkan air matanya yang sejak tadi tak henti-hentinya mengalir. Merebahkan kepalanya sejenak di punggung lebar Rifki.


"Jangan pergi," pinta Dara lemah.


Rifki masih diam, ia masih menikmati pelukan yang nampaknya baru pertama kali ia rasakan setelah sekian purnama.


"Jangan ke mana-mana. Aku nggak mau sendirian." Dara semakin terisak.


Rifki tak tega mendengar isakan yang semakin membuat hatinya terasa ngilu, perih dan pedih. Ia mereggangkan tangan Dara yang masih melingkar di perutnya, lalu memutar badan dan memeluknya dengan erat.


"Udah nangisnya. Aku nggak kemana-mana, aku nggak pergi, aku ke sini untuk kamu, aku mau lihat kamu, tapi nggak lihat kamu yang begini. Udah nangisnya, ya. Kalau kamu nyaman aku peluk, coba berhenti nangisnya," ujar Rifki lembut seraya mengelus pelan kepala gadis mungil itu.

__ADS_1


Dara berusaha kuat untuk menghentikan tangisnya meskipun ia masih sesenggukan. Kepalanya mendongak karena tangan Rifki yang menuntunnya untuk menatap wajah pria itu lagi. Jari jemari Rifki tergerak untuk menghapus air mata yang berhasil membuat pipi Dara basah kuyup.


"Aku sakit kalau lihat kamu begini. Kamu sayang aku, kan? Lupakan apa yang sudah terjadi dan kita mulai semua dari awal. Kita mulai lembaran kita yang baru mulai hari ini. Dari semua kejadian ini, seharusnya kita tidak meragukan cinta kita lagi. Cinta kita sudah terbukti kuat, untuk kedepannya tidak akan ada lagi apapun yang memisahkan kita, kecuali kematian. Bahkan aku akan berdoa, aku akan meminta pada Tuhan untuk tetap menyatukan kita dalam kehidupan kedua." Rifki menyatukan keningnya ke kening Dara. "Aku sayang sama kamu," bisik Rifki begitu kening mereka menyatu.


__ADS_2